Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 100


__ADS_3

Namun aku berpikir kembali! Bukankah semua ini juga pilihanku dulu. lalu! kenapa aku malah lemah seperti ini, bukankah dulu aku sendiri yang bertekad untuk menjalani semua ini.


Ah, rasanya pikiranku sudah mulai lelah, maka dari itu aku berpikir seperti ini.


Aku masuk kembali ke dalam rumah, berjalan terus menuju kamar ku.


Shin Hye menegurku.


" Bibi baik-baik saja! " Ucapnya, kala aku berpapasan dengan nya.


" Em, bibi baik saja " ucapku seraya tersenyum terpaksa.


Shin Hye mengikuti langkah ku hingga dia juga ikut masuk dalam kamar, Anak ini! aku tau dia sedang berpikir sesuatu tentang ku.


" Bibi yakin? " Tanyanya!


Aku menatap anak di hadapan ku ini! Ah, gadis kecil ini, apa dia menghawatirkan aku.


" Em, bibi tak apa. Hanya saja! Bibi sedang merindukan kedua orang tua bibi. Kau kembalilah kekamar mu " ucapku, sekaligus meminta Shin Hye membiarkan aku sendiri.


Setelah Shin Hye pergi aku merebahkan diriku sambil menunggu waktu Maghrib tiba.


Tak ku sangka ternyata aku tertidur dan terbangun saat anta mengetuk pintu kamar.


" Masuklah " ucapku! Dan diapun masuk.


Anta tersenyum " kau tertidur! " Ucapnya sambil ikut duduk di sampingku.


" He'mh! " Malas ku bersuara.


" Wira meminta kita untuk makan, dan kau belum keluar kamar! Karena takut kau sakit walau tak terlihat, jadi aku kemari " ucapnya.


" Baiklah! Aku akan keluar " lemah ku bersuara.


Anta sudah berjalan ke arah pintu, namun mendengar aku mengangkat telpon dia berbalik dan berjalan kembali mendekati ku.


" Sebaiknya kita keluar bersama! " Ucapnya, aku tak menanggapi malah ikut tertawa mendengar cerita harus. Ya, orang yang berbicara dengan ku di sebrang telpon dia adalah Haris.


" Kau sungguh mengacuhkan aku " suara yang terdengar datar, mendengar nada suara anta yang sudah tak bersahabat akupun menoleh padanya.


" Sebentar! Haris sedang bercerita, nanti aku menyusul " ucapku santai, namun mendapat tatapan tajam dari anta. Ya ampun anak ini ternyata sikap dinginnya tak berubah.


Anta mengambil ponselku, mematikan sambungannya kemudian mengembalikannya padaku. Sedikit kesal padanya, akupun berjalan mendahuluinya keluar kamar.


Saat sampai di meja makan Yun Feng menatapku dengan senyum tipis di bibirnya.


" Kenapa? " Suaraku!

__ADS_1


" Tidak ada! Ayo makan " ajaknya pada semua.


Tak ada percakapan lagi, kami makan dengan tenang. Ditengah kami sedang menikmati makanan telpon Yun Feng berbunyi dan dia langsung mengangkatnya, aku tersenyum mengejek, aku yakin itu pasti dari Andi. Hanya telpon darinya yang bisa membuat Yun Feng sigap mengangkat panggilan.


Kami sudah selesai makan, sedang Yun Feng! Bahkan makanannya saja baru beberapa suap yang dia makan.


Ku susul dia ke ruang kerjanya, aku yakin dia di sana, dan benar saja! Dia sedang duduk dengan sigapnya seolah orang yang berbicara di telpon itu tengah ada di hadapannya.


" Kau belum menghabiskan makanan mu! " Ucapku, dan melirikku.


Tak mendapat respon darinya, aku mengambil ponselnya, ku lihat layar ponsel itu tertera nama tuan Riandi di sana. Tidak meleset, dugaan ku tepat.


" Dia bukan anak buahnya lagi, kau sudah melepaskannya, jadi biarkan dia menghabiskan makanannya dulu baru kau bisa berbicara kembali dengannya! " Ucapku, tak suka dengan sikap Yun Feng yang masih saja seperti ini, padahal Andi sudah menganggapnya adik.


" Gadis bodoh, berikan ponselnya padanya " suara Andi di sebrang sana.


Akupun mematuhi ucapan Andi, ku kembalikan ponsel milik Yun Feng.


Aku masih menunggu Yun Feng, hanya beberapa detik saja panggilan sudah berakhir mungkin Andi mematikannya setelah berucap karena ku lihat Yun Feng mengangguk.


" Nana! Saya harap ini tidak akan terjadi kembali " datar Yun Feng berbicara padaku.


Dia berjalan melewatiku, mendahuluiku keluar dari ruang kerjanya.


Aku tersenyum. Ya, begitulah sikapnya jika dia merasa kesal atau terusik bahkan bisa lebih dari itu.


Hari sudah malam, aku memandangi langit-langit kamar pikiran ku merasa tak tenang entah kenapa aku tak tau, hatiku juga terasa was-was seolah tengah terjadi sesuatu.


Aku mengambil ponselku ingin melakukan panggilan pada Fitri hanya ingin memastikan semua baik-baik saja saat aku tinggalkan.


Panggilan tersambung namun belum mendapat jawaban, sampai beberapa kali aku melakukan panggilan namun tak mendapat jawaban membuat aku semakin khawatir. Tiba-tiba dadaku terasa sesak, terasa sakit, rasanya sulit sekali untuk bernafas, ku coba menarik nafas dan menenangkan diri. Aku kembali melihat ponselku, mencari kembali nomor adik bungsuku semoga dia mengangkat panggilan dariku.


Sama saja, bahkan nomornya pun tak aktif membuat ku semakin kalut.


Aku melakukan panggilan pada Andi karena aku memintanya memantau orang-orang yang ada di rumah ku.


Panggilan tersambung dan langsung di angkat.


" Apa yang terjadi pada kedua adikku? " Tanya ku langsung pada orang di sebrang telpon.


" Mereka baik-baik saja " jawabnya.


" Lalu kenapa aku menelpon tak di angkat, bahkan nomor adik bungsuku tidak aktif " datarku berucap.


" Aku sudah menyuruh orang ku untuk mengawasi mereka, dan aku belum mendapat laporan dari mereka, terakhir mendengar kabar duahari yang lalu Indri pergi bersama temannya, orang ku mengikutinya namun belum melapor padaku " jelasnya panjang kali lebar.


" Sejak kapan kau seceroboh itu, cepat suruh orang mu ke rumahku aku tunggu, satu jam tak 5 menit tak mendapat kabar darimu aku akan kembali sekarang juga! " Ucapku.

__ADS_1


" Gadis gila, serahkan yang di sini padaku jangan pikirkan mereka " suara di sebrang telpon.


Aku langsung mematikan panggilan, hawa dingin seolah menyelimuti seluruh tubuhku, namun tubuhku bergetar menahan rasa takut entah pada siap dan kenapa.


Kadang tubuh tak bisa berbohong, justru mereka berreaksi sendiri kala sesuatu yang tak kita inginkan tejadi.


Aku mengetuk kamar anta dan dia membuka pintu kamarnya. Dia menatapku sedang aku, tatapan ku kosong.


" Rinjani " anta menyadarkan aku dengan menepuk bahuku.


" Ada apa? " Tanyanya! Ada kekhawatiran yang nampak di wajahnya.


" Aku ingin pulang sekarang juga " ucapku bergetar.


Anta melihatku heran, mungkin dalam pikirnya aku ini kenapa.


" Lalu dengan ripa'i? " Tanyanya lembut.


" Kedua adikku jauh lebih penting, aku merasa tidak tenang kita pulang sekarang " ucapku lemah, merasa bingung juga harus bagaimana.


" Tenangkan dirimu, baiklah kita pulang sekarang " ucapnya, jika dia ripa'i mungkin dia sudah memelukku untuk menenangkan ku.


Aku pergi dari kamar anta untuk membereskan koperku, anta menyusul ku dia juga ikut membantu membereskan barang-barang ku, tangannya terhenti kala melihat pistol yang baru ku letakan di atas kasur.


" Sejak kapan kau menggunakan ini " ucapnya seraya memegang senjata itu.


" Aku belum menggunakannya sejauh ini " jawabku tanpa menghentikan aktifitas ku.


Selesai dengan berkemas aku pergi ke kamar Yun Feng sedang anta dia keruang tengah dengan membawa koperku.


Ku ketuk pintu kamar itu, dan Yun Feng pun keluar dari kamar. Melihat ku rapih dia merasa heran.


" Anda mau kemana nona? " Tanyanya.


" Aku harus pergi sekarang juga " jawabku


" Kemana? Dan kenapa! " Ucapnya semakin heran.


" Aku merasa tengah terjadi sesuatu pada kedua adikku jadi aku akan kembali malam ini juga, di mana Wira " ucapku datar.


" Dia belum kembali " jawabnya


Aku dan Yun Feng berjalan menuju rung tengah di sana ternyata sudah ada Wira, dia menatapku tatapannya membari isyarat pertanyaan namun aku menjawab dengan tersenyum, memastikan pada Wira bahwa semuanya baik-baik saja walau nurani ku menolak berkata seperti itu.


Wira mengijinkan aku pergi, dia juga bilang kalau dia yang akan mengurus soal ripa'i, aku pun kembali ke negaraku malam itu juga berkat bantuan Wira dan teman-temannya.


Tiga hari berada di negara orang namun tak menghasilkan apapun membuatku tersenyum miris.

__ADS_1


__ADS_2