Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 102


__ADS_3

Aku berpamitan pada anta namun tak membawa koper ku, sengaja karena aku tak akan pulang kerumah melainkan ingin melakukan pemburuan.


Ya! Berburu mencari kedua adikku walau belum tau di mana mereka berada.


Aku keluar dari rumah anta dan langsung Menaiki taksi.


Di tengah perjalanan telpon ku berbunyi ku lihat layar ponselku dan nama haris yang tertera.


Ku angkat panggilan darinya, dan langsung saja dia menghujaniku dengan kata-kata yang tak suka ku dengar.


" Katakan dimana " datarku berucap.


" Datanglah ke kota b, dan aku menunggu mu di sana, aku pastikan takan terjadi sesuatu pada mereka sebelum kau datang " ucap Haris di sebrang telpon.


" Apa cukup berbahaya " tanyaku memastikan bagaiman lawan kali ini


" Entahlah, tapi menurutku mereka berbahaya dan jumlah mereka tidak sedikit " jawabnya


" Sudah ku duga! " Gumam ku


" Baiklah aku akan segera kesana " ucapku dan langsung mematikan panggilan secara sepihak.


Tak berselang lama taksi sampai di tempat yang sudah ku beritahukan pada sopirnya, setelah membayar aku langsung saja masuk dalam gedung itu.


Langsung mencari orang yang ku tuju. Aku menemukan dia tengah memimpin rapat jadi aku harus tau diri, akupun menunggu sampai dia selesai dengan rapatnya, beruntung hanya sebentar jika tidak mungkin aku akan menerobos masuk karena tak sabar ingin menemuinya.


" Kau disini? " Tanya Andi saat dia melihat ku ada di hadapannya.


" Bodoh! Bagaimana kau bisa lalai menjaga kedua adikku " datarku berucap. Ku yakin bukan jawaban itu yang Andi inginkan.


" Apa maksudmu " diapun tak kalah datar dari ku


" Kedua adikku berada di negara b dan mereka dalam bahaya " ucapku, tanpa menjawab ku Andi langsung melakukan panggilan pada seseorang, dia memintaku mengikuti langkahnya. Aku di bawanya masuk dalam lift dan menuju ke atap gedung. Aku tak bertanya juga tak merasa heran, karena dapat ku pastikan sebuah helikopter sudah berada di atas sana.


Setelah beberapa menit kami sampai di atas gedung dan benar saja helikopter sudah menunggu kami, aku dan Andi di pakaikan sebuah alat agar bisa mendengar suara yang lain.


" Dimana tepatnya tempat mereka di sekap? " Datar Andi bertanya pada ku.


" Entahlah, aku hanya di suruh teman ku untuk segera datang karena dia sudah merasa kewalahan menghadapi orang-orang yang menyekap kedua adikku " jelasku


" Keduanya! Sekaligus! Bodoh " kata yang keluar dari mulut Andi.


Aku hanya meliriknya tak ingin menjawabnya.

__ADS_1


Satu jam, waktu yang kami butuhkan untuk sampai di tempat yang di beritahukan Haris. Aku kembali menghubungi Haris agar dapat tau pasti di mana adikku di sekap.


" Aku sudah sampai " datar ku saat panggilan di angkatnya


" He'mh, tunggu aku " datar ku kembali setelah mendapat kepastian dari Haris.


Aku melirik pada Andi, dia sudah siap dengan topeng wajahnya. Aku tersenyum dan akupun memasang topeng itu juga.


" Kita ke darah ini " ucapku pada Haris seraya menunjukan lokasi yang sudah Haris kirimkan padaku. Adi paham dan langsung bergerak.


Oh iya! Jangan lupakan para bayangan yang sudah dari tadi menyambut kami, belum lagi para anak buah Andi yang lain, mamin kali ini kami hanya akan memakai orang-orang bayangan saja tak perlu banyak anggota.


Aku menaiki motor yang sudah di siapkan sejak tadi Andi yang meminta sedang yang lainnya menggunakan mobil.


Aku dan Andi memacu kecepatan bermotor kami karena tak ingin berlama-lama untuk menyelamatkan adik ku.


Sampai di tempat yang di kirim Haris aku langsung mendapati dia ada di sana, dengan wajah yang sudah terkena pukulan.


Dia menghampiriku saat aku membuka helem dan langsung ingin menyerang ku jika saja aku tak bersuara.


" Ini aku " datarku berucap, dia pun langsung menghentikan langkahnya.


Dia membawa kami ke suatu tempat, sebuah gedung yang tampak tak terpakai lagi.


Aku dan Andi melangkah untuk memasuki gedung itu, nampak sepi seolah tak berpenghuni.


Semakin dalam aku dan Andi masuk semakin sunyi pula keadaan gedung itu, hingga kami sampai di pusat gedung pun tak ada apa-apa nampak kosong.


Ketika kami akan memutuskan untuk berpencar, sesosok bayangan tak kasat mata tiba-tiba muncul dari sebuah dinding.


Aku merasa heran, seolah sosok itu memberi ku kode namun aku tak paham. Aku melirik pada Andi, dia sedang mengawasi setiap sudut tak memperhatikan aku. Aku pun mencoba berinteraksi dengan sosok itu, dia menangis tersedu-sedu saat aku menanyainya, awalnya ku pikir sosok ini hanya ingin mengecoh ku namun mendengar begitu pilu tangisnya aku pun menajamkan batin ku dan dapat ku lihat kematian sosok di depan ku ini ternyata korban dari keserakahan laki-laki.


Aku langsung saja berpikir yang tidak-tidak terhadap adikku, pikiran buruk itu langsung muncul saat aku melihat siapa laki-laki yang membuat sosok di depan ku ini meninggal.


Aku menjerit dalam hati, jangan sampai aku terlambat menolong kedua adikku jika tidak hidupku akan hancur.


" Ikuti aku " datarku, percayalah walau aku sedang kalut namun hanya raut datar yang bisa aku tunjukan.


Yang lain melihatku begitu juga Andi, aku langsung berlari saat sudah menemukan pintu masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di bawah gedung kosong itu.


Pintu berhasil di jebol oleh Andi dan para bayangannya, aku masuk tanpa mempedulikan yang lain, terus mengikuti sosok yang menuntunku, Hinga samar-samar aku mendengar suara tawa dan perkelahian aku semakin mempercepat langkah ku dan


Dor

__ADS_1


Satu peluruku mendarat tepat di kening orang yang sedang menghajar Julian, ya ternyata suara perkelahian itu tak lain Julian yang sedang bertarung sendirian dengan tubuh yang sudah lemah dan di banjiri darah.


Aku langsung menyerang begitu juga yang lainnya.


" Dimana pitri? " Tanyaku langsung saat sudah berhasil menyelamatkan Julian, belum mendapat jawaban dari Julian dia sudah tak sadarkan diri.


Aku mengamankan tubuh Julian agar tak terkena tembakan atau terinjak.


Aku menatap kembali pada sosok tak kasat mata di depan ku, seolah mengerti sosok itupun menuntun ku kembali, samurai ku terus menebas tiap tubuh yang mencoba menghalangi jalanku, ya ku dapat samurai itu saat masuk tadi, ku rasa samurai itu bekas seseorang berkelahi.


Aku terus saja menebas tanpa mempedulikan teriakan Andi yang memintaku agar tak ceroboh kembali, namun seakan telingaku bebal tak mu mendengar nyawa adikku dalam bahaya hanya itu yang terngiang di kepala, hati dan otakku.


Habis sudah tubuh yang mencoba menghalangi ku hingga hanya ada dua tubuh yang berada di depan ku sedang di luar sana masih terdengar ramai perkelahian.


Dua tubuh itu menghadapi, dia orang laki-laki yang salah satunya pernah ku temui namun aku lupa di mana.


" Sudah ku duga kau akan datang! " Ucapnya disertai seringai licik di wajahnya


" Urusan kalian dengan ku, maka lepaskan mereka " datarku berbicara


" Akan aku lakukan, asal kau mau bersama ku " ucap laki-laki yang terasa pamiliar bagiku.


Tak mau banyak bicara, akupun langsung menyerang dia orang itu sekaligus. Sungguh aku merasa kewalahan, benar kata Haris mereka bukan lawan ku hingga saat aku terkena goresan salah satu dari mereka berteriak pada orang yang berhasil menggoreskan pedangnya pada tubuhku.


" Sudah ku bilang jangan sampai melukainya " ucapnya pada temannya


Aku merasa bingung, jika bukan untuk melukaiku, lalu untuk apa dia melakukan ini. Dan lagi jika memang mereka ingin bersenang-senang mungkin saat ini kedua adikku sudah tak bernyawa mengingat sudah dua hari adikku pitri tak pulang dan Indri sudah tiga hari, pasti ada maksud lain kenapa mereka menyekap kedua adikku.


Pertarungan terus terjadi kali ini satu lawan satu karena Andi sudah datang membantuku.


Hanya sekejap saja Andi sudah bisa melumpuhkan lawannya sedang aku masih kesulitan untuk melumpuhkan lawan ku.


Andi membantuku namun aku tak membantunya, aku lebih milih melepaskan ikatan kedua adikku.


Pitri sudah babak belur, banyak lebam di lengan dan wajahnya.


Sedang Indri, dia bersih tanpa luka sedikitpun.


Indri tersadar dan dia langsung memelukku, ku rasakan ketakutan yang amat besar darinya. Ku lepaskan pelukannya mengamatinya dalam, tak ada yang terjadi padanya akupun beralih pada pitri yang tak sadarkan diri.


" Maafkan tth, karena tth kalian jadi begini " ucapku pelan.


Aku kembali menatap orang yang sedang bertarung dengan Andi, hawa marah langsung menyelimuti diriku. Aku kembali bertarung dan menghajar habis-habisan orang yang telah berani menyakiti kedua adikku.

__ADS_1


__ADS_2