
Ripa'i meminta kami untuk duduk, dan kami hanya menurut dia menghampiri kami dan ikut duduk namun di kursi tunggal
Kulihat sikap Riska tak terkondisikan, dia berusaha menggoda ripa'i, rok nya yang pendek di pake duduk jadi semakin pendek ditambah lagi ia mengangkat satu kakinya dan menumpu pada kaki satunya semakin memperlihatkan paha molek nya, sungguh aku sangat malu melihatnya
Ripa'i tak bergeming dia malah pokus melihat ku sesekali tersenyum, tak mau membuat ripa'i lupa jika kini kami sedang berada di dunia bisnis maka aku menyodorkan beberapa berkas,
Ripa'i mengambilnya dan membacanya, di tengah ripa'i memeriksa berkas sekretaris cantik itu datang dengan 4 cangkir teh yang ia bawa,
" Aku memintamu membawakan segelas air mineral bukan teh semua " datar ripa'i pada sekretarisnya
Ku lihat wajah sekretaris itu menunduk, aku menggelengkan kepala pelan
" Maaf pak saya lupa " ucapnya
Ripa'i hanya diam kembali membuka lembar berkas itu, sekretarisnya menyuguhkan teh itu kehadapan kami
Ntah sengaja atau tida ia menumpahkan teh itu tepat mengenai Pai, dia sesigap mungkin mengelap kemeja ripa'i dengan tisu gayanya mengelap seolah sedang meraba membuat ku muak aku berdiri
" Permisi apa bisa saya menumpang kekamar mandi " datar ku, ku lihat ripa'i mencengkram tangan wanita itu, namun aku tak peduli
Asisten ripa'i mengantar ku bahkan aku tak tau kalau dia menungguiku, saat keluar toilet baru aku tau
" Kau masih di sini " datar ku
" He'mh " singkatnya
Aku berjalan kembali keruangan ripa'i sekretaris itu sudah tak ada, namun gantian Riska yang yang kini duduk di samping ripa'i
Aku melangkah masuk saat aku masuk Riska ijin keluar untuk ke toilet, anehnya asisten ripa'i tak mengantarnya hanya menunjukannya saja di mana letak toilet itu
Aku hanya diam saja tak mau membuka suara
" Ada apa nona, bukankah Anda datang kemari untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kami namun kenapa anda hanya diam, tidak inginkan Anda menjelaskan sesuatu " ucapnya santai
Akupun menjelaskan apa yang menjadi tujuan utama kami kesini, ripa'i hanya mendengarkan sesekali ia tersenyum ntah kenapa aku merasa ripa'i sedang mengejekku
Tak banyak yang ku jelaskan karna sudah tertulis juga di berkas itu semuanya sudah terperinci
" Oh jadi begitu ya " asalnya, aku hanya diam
__ADS_1
" Baiklah aku akan mempelajarinya dan memikirkannya nanti akan aku hubungi lagi " lanjutnya
" Baiklah karna masalah pekerjaan sudah beres kini tinggal masalah hati " celetuknya
" Apa kamu cemburu Rinjani he'mh " lanjutnya
" Cemburu,? Tentang ? " Asalku
" Tentang yang tadi, maaf jika itu membuat mu tak nyaman " ucapnya
" Itu hak mu,baiklah kuras sudah selesai jadi saya permisi tuan William Wilson " datar ku
Aku membereskan berkelas yang harus ku bawa kembali sedang separoh nya ripa'i meminta untuk meninggalkannya untuk ia pelajari
Aku menjabat tangannya dan berpamitan, ripa'i tersenyum, saat keluar dari ruangan ripa'i di depan pintu aku mendapati Riska yang baru kembali dari toilet, aku memberikan tasnya padanya yang tadi ku bawakan
" Apa sudah selesai " tanyanya
" He'mh " singkat ku
" Kenapa tak lama saja sih, kan aku masih mau melihat wajah tampan itu " lesunya
" Kita kesini bukan buat itu " datarku dan berlalu meninggalkannya, aku melirik sekilas wajah sekretaris tadi namun tak bersuara
Sampai di lobi aku mendapat panggilan di ponsel ku, ku lihat ternyata teman hati yang tertera di panggilan itu, aku tak mengangkatnya ku biarkan saja hingga ia mengirimi ku pesan
# jangan terus cemberut kasihan wajah itu, percayalah tak ada yang bisa menggoda ku kecuali senyum di bibirmu itu # teman hati
Aku hanya membacanya tanpa berniat membalasnya
Mobil kantor sudah di hadapan kami akupun masuk dan langsung mencari posisi ternyaman
" Mbak Dena kelihatan lelah sekali " canda pak supir, ya kami di antar oleh supir kantor
" He'mh lumayan " singkat ku
" Kalau gitu mbak Dena tidur saja nanti saya bangunkan jika sudah sampai " tawarnya
" Iya makasih pak "
__ADS_1
Akupun menerima tawaran itu, langsung saja aku memejamkan mata ku mencoba untuk tidur namun tak bisa
Saat mobil sudah setengah perjalanan kembali aku menerima telpon, ku pikir dari ripa'i namun ternyata salah, aku melihat nama sahabat ku ojah yang tertera di layar ponsel ku, kalau itu dari ripa'i aku sedikit malas mengangkatnya ntah mengapa, namun karna itu dari ojah maka dengan senang hati akupun mengangkatnya
" Wa'allaikum sallam " jawab ku, karna begitu panggilan tersambung ojah langsung mengucap salam
".........,..........,..........,......." Suara di sebrang sana, ternyata dia menelpon karna ada kabar duka dari salah satu sahabat kami
" Jangan bercanda, sakit apa dia bukankah terakhir berkumpul dia baik-baik saja " tanya ku sekaligus karna jujur aku sangat khawatir
"...........,........,........,.....,................,....." Jelasnya,
Astaga jadi selama ini dia menyembunyikan itu dari kami
" Diman dia di rawat, " tanyaku memastikan teman KU akan baik-baik saja sampai aku menemuinya
" ............,.........,........,......., " Jelasnya lagi, dan penjelasannya kali ini membuat ku sakit mendengarnya
" Baiklah aku pulang hari ini, terima kasih sudah mengabariku "
Setelah mendapat kata 'ya' dari sebrang telpon aku langsung saja mematikan panggilan
Beralih melihat kontak teman hati, sebenarnya hati ku masih terasa kesal namun aku butuh bantuannya karna jarak ke kantor ku masih jauh mau tak mau aku harus meminta ripa'i yang mengantar ku
Ku hubungi nomor ripa'i sekali, diakali, tak ada jawaban namun di panggilan ke tiga kalinya aku mendapat jawaban
" Hallo ripa'i, Asiah sakit penyakitnya cukup serius bila mengambil mobil ku yang ada di kantor masih cukup lama bisakah kau mengantar ku, aku masih dekat di daerah perkantoran mu " ucapku tanpa menjeda ucapanku
" Kirim lokasimu aku kesana " suaranya terdengar datar
Panggilan aku matikan dan langsung mengirim lokasi ku sekarang, ku minta supir kantor menurunkan ku, awalnya dia ragu namun sedikit menggunakan tekanan dia akhirnya menurut, aku keluar dari mobil itu namun mobil masih setia di tempat enggan beranjak
" Ada apa " tanyaku memastikan semua baik-baik saja
" Tidak apa-apa mbak, saya hanya mau memastikan mbak selamat saja saya akan pergi bila yang menjemput mbak sudah datang " jelasnya, aku hanya mengangguk terserah padanya
Selang beberapa menit mobil ripa'i sampai, dia turun dari mobil, tak kulihat asistennya berarti dia hanya sendiri
Mobilnya berhenti tepat di depan mobil kantor ku, aku melirik sekilas wajah Pak sopir, dia juga melihat ku tatapannya seolah bertanya apa itu, aku hanya mengangguk tanpa bersuara
__ADS_1
Ripa'i keluar dan membukakan pintu untuk ku, tak banyak tingkah aku langsung saja masuk dan mobil kembali melaju, sebelumnya aku memberi tau dulu pada mas Rendi kalau ada urusan darurat di desa jadi aku pulang langsung ke sana, tak menunggu lama balasan dari mas Rendi pun ku terima beliau mengijinkan ku pulang
Di perjalanan aku menjelaskan semuanya pada ripa'i menurut kabar dari ojah, Asiah harus mendapatkan pertolongan operasi sedang biayanya sangat mahal, dan keluarga tak mampu membayarnya, ojah juga mengatakan kalau Asiah di bawa pulang karna tak punya biaya lagi untuk tetap di rawat