Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 104


__ADS_3

Sepertinya Andi dan mbak Rena, ripa'i mendekatiku dia ikut duduk di hadapan ku dengan kursi yang tadi diambilnya.


" Ada apa katakanlah, aku mohon jangan seperti ini " lembutnya berucap padaku.


Sebelum menjawab aku tersenyum getir pada ripa'i, sebisa mungkin aku bersikap seolah aku kuat.


" Tidak ada apa-apa " datar ku menjawab.


" Tidak mungkin,jika memang tidak ada apa-apa kenapa sikap mu seperti ini " tanyanya kembali.


" Aku hanya sedang merasa kecewa saja " jawabku masih dengan nada datar.


" Pada siapa! Padaku? " Tanyanya kembali.


Aku menoleh padanya sebentar menatapnya dan dia membalas tatapan ku dengan tersenyum.


" Bukan " jawabku, seolah aku merasa malas menjawab pertanyaan ripa'i.


" Lalu pada siapa, aku mohon Rinjani bicaralah " ucapnya dengan nada frustasi.


Dia juga menggenggam tangan ku seolah aku akan pergi saja.


" Tidak apa ripa'i, aku hanya merasa kecewa pada diriku sendiri karena tidak bisa menjaga kedua adikku " ucapku, tak mau membuat ripa'i berpikiran yang tidak-tidak terhadap ku.


" Baiklah aku terima jawaban itu! Rinjani apa kau marah pada ku? " Tanyanya kembali setelah mendapat jawaban pertanyaannya yang pertama.


" Atas dasar apa? Jika karena kau yang jauh, bukan kah sedari dulu kau m mang jauh dariku " jawabku, dengan entengnya kalimat itu keluar dari mulut ku.


" Ternyata benar, kau memang marah padaku " pelannya bersuara.


Tak ada lagi pertanyaan darinya dan tak ada pula hal yang ingin aku tanyakan padanya, ripa'i memang menemaniku namun kami hanya saling diam tak bersuara.


Ada rasa tak nyaman dengan keadaan yang seperti ini.


Dan, entah kenapa rasanya aku ingin kembali seperti dulu, sendiri tanpa siapapun di sisi ku bahkan tanpa ada status kekasih, mungkin itu akan lebih baik.


Ku lirik ripa'i, dia memejamkan matanya entah dia tidur atau tidak namun tak ada niat aku untuk mengganggunya.


Kasihan! Tentu, aku sangat menyayanginya, saat ini dialah yang ada di hatiku.


Aku merasa kasihan padanya, karena saat dia membutuhkan dukungan aku justru merasa bimbang.


" Maaf ripa'i, aku sungguh minta maaf dengan sikap ku, aku hanya sedang belajar menjauh darimu agar ketika kau benar-benar melepaskan aku nanti aku Takan terlalu merasa kehilangan " ucapku pelan sangat pelan namun ternyata dapat di dengar ripa'i, mungkin karena ruangan yang senyap.


" Jadi benar, kau memang mencoba untuk menghindari ku, apa kau yakin bisa tanpa aku, dan apa kau siap jika kejadian itu terulang kembali dalam hidupmu? " Tanyanya padaku dengan datar bahkan suara yang keluar terdengar dingin.


" Kau tidak tidur? " Aku malah balik bertanya, dan seketika raut wajah ripa'i berubah menjadi seolah bekuk.

__ADS_1


" Jawab aku Rinjani! " Ucapnya dengan nada yang di tekankan.


" Maaf ripa'i, aku hanya berpikir realistis saja, kau dan aku sungguh jauh berbeda, dan orang-orang yang menginginkan mu sungguh bukan lawan ku " datar ku menjawab.


" Omong kosong! Aku yakin kau sudah merasa muak dan bosan padaku bukan " ucapnya, entah itu sikap aslinya atu itu bentuk kemarahannya aku tak tau karena selama ini dia seorang yang penyabar dan hangat juga penyayang.


" Jadi! Apa kau mau melepaskan aku jika aku bilang ia " tanyaku balik.


Ripa'i berdiri dari duduknya dan dia memegang kedua bahuku.


" Dengarkan aku, tidak ada yang boleh memiliki mu selain aku, jika laki-laki lain mencoba mendekatimu akan aku pastikan dia akan hancur " datarnya berucap.


Tak ada lagi perdebatan antara kami, dan ripa'i pun pergi entah kemana, saat ripa'i pergi aku melirik jam di tangan ku pukul 3 malam, di jam segitu dia akan kemana, namun aku menepis kembali pikiran itu toh dia bukan anak gadis juga jadi terserah dia mau kemana.


Waktu subuh pun datang, aku keluar dari kamar rawat untuk pergi ke Mushola yang ada di rumah sakit itu setelah sebelumnya bertanya pada salah satu perawat yang mengontrol keadaan kedua adikku.


Sampai di mushola itu, aku melihat ripa'i ternyata juga ada di sana, dia sedang melaksanakan kewajibannya.


Aku tak langsung masuk dalam mushola itu menunggu sampai ripa'i selesai stelah dia selesai dan pergi baru aku masuk.


***


Pukul 7 pagi, aku merasakan kantuk karena semalaman aku tak tidur, akupun mencoba untuk memejamkan mataku dengan tangan menjadi tumpuanku.


Memejamkan mata namun tetap tak dapat tertidur, ku dengar pintu di buka, ternyata oleh ripa'i ku pikir dia akan pergi ternyata tidak.


" Sarapan mu! " Lembutnya sembari memberikan sebuah bungkusan padaku.


Aku mengambil bungkusan itu, ternyata roti sandwich.


Aku memakannya tanpa menawari ripa'i.


Ripa'i duduk di sampingku, karena saat ini aku sedang duduk di bangku panjang yang ada di ruangan itu.


Dia menatapku lekat hingga aku menyudahi memakan sandwich itu.


" Kenapa berhenti, teruskan saja " ucapnya.


" Kenapa kau tidak pulang " ucapku sambil memakan kembali makanan itu.


" Dan membiarkan mu sendiri di sini " jawabnya membuat aku menoleh padanya.


" Maaf! Semalam aku lepas kendali, aku tak mau jika harus benar-benar kehilangan gadis yang selama ini aku perjuangkan " lembutnya berucap dengan terus menatapku.


" Baiklah! Aku berikan kamu kesempatan, jika dalam satu bulan kau tak mendapatkan laki-laki pengganti ku, maka jangan salahkan aku jika aku akan berbuat nekat padamu " lanjutnya berucap kala mendapati ku hanya diam.


Aku menoleh padanya memastikan yang dia katakan itu nyata.

__ADS_1


" Berjanjilah satu lah padaku, jika kau mendapat pengganti ku kau harus bahagia dengannya " ucapnya kembali, ada genangan air mata yang ku lihat di matanya, apa dia begitu menyayangi ku, apa benar dia tak ingin aku pergi darinya.


" Maaf aku selalu membuatmu menunggu " ucapnya lagi, entah kenapa setiap kata yang keluar darinya begitu menyayat hatiku, hati ku terasa perih.


" Eemmm! Akan aku pastikan aku bahagia " jawabku asal, namun ripa'i justru tersenyum lebar mendengar ucapan ku.


" Habiskan sarapanku, hari ini juga aku akan kembali ke Cina karena urusanku di sana belum selesai " ucapnya dan aku hanya mengangguk.


" Ripa'i! " Kata yang keluar dari mulutku saat ripa'i akan melangkah keluar, ripa'i menoleh.


" Katakan! " Lembutnya seraya tersenyum.


" Hati-hati " ucapku dia tak menjawab hanya tersenyum saja.


Sejak saat itu aku benar-benar sendiri, walau banyak tan di samping ku namun rasanya hampa.


Aku kembali ke kota a setelah kedua adikku dan Julian benar pilih, sebenarnya adikku sudah sembuh dari dua hari yang lalu, namun karena dia meminta padaku untuk merawat Julian maka kami baru bisa pulang hari ini.


Kami di antar oleh supir Andi dan selama di kota ini dia juga yang menjaga kami, memastikan kami aman.


Aku juga sempat bermalam di kediaman ka nay, bermain dengan kedua anak kembarnya yang menggemaskan.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya melihat ke arah jendela dengan tatapan kosong, entah kenapa terasa sangat hampa, seolah aku sedang menunggu kabar dari seseorang, saat notifikasi ponselku berbunyi dengan sigapnya aku memeriksanya.


Namun merasa kecewa kala bukan yang aku tunggu yang masuk dalam notifikasi pesan ku.


" Apa kita benar-benar berakhir " gumam ku pelan.


Kemudian aku kembali berfokus melihat jalanan melalui jendela.


***


Akhirnya setelah menempuh waktu cukup lama kamipun sampai dengan selamat.


Saat kami tiba, Asiah, Gibran juga anta ternyata sudah menunggu kami di depan pintu.


Aku tersenyum pada mereka, entah mereka sadar atau tidak senyum yang ku paksakan itu.


Julian juga ikut turun di rumah ku, dia bilang biar orang suruhannya nanti yang akan membawanya pulang.


Aku senang melihat kedekatan Julian dan pitri, namun ku tak tau mereka menjalin kasih atau tidak.


Indri menggandeng tangan ku, menuntun ku untuk masuk.


" Kenapa tak mengabariku biar aku bisa menjemput kalian " ucap Gibran saat kami sudah di hadapan mereka.


" Tidak perlu, mereka selalu bersama kami dan mereka juga di tugaskan untuk mengantar kami pulang " ucapku.

__ADS_1


Kami masuk kedalam rumah, aku menghirup dalam udara di dalam rumah seolah aku sangat merindukan rumah ku ini.


" Senangnya bisa kembali kerumah! " Ucap Indri sambil mendudukkan tubuhnya.


__ADS_2