Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 109


__ADS_3

Cukup lama aku duduk dengan keluarga ku, ibu dan kedua adikku di dalam kamar sedang menemani kakak ku, aku belum menemui kakak ku karena mengkhawatirkan tth ipar ku.


Tth ipar ku mengajakku untuk masuk ke kamar rawat kakak ku, ku bilang "duluan saja" karena aku ingin menemui dokter yang menangani kakak ku.


Aku pamit padanya saat dia akan masuk kamar rawat, ku cari perawat yang tadi keluar dari kamar rawat kakak ku.


Aku menemui perawat itu di meja pendaftaran dia sedang berbicara dengan orang yang tadi ku minta mencari tau kamar kakak ku.


" Permisi! " Ramah ku menyapa, dan tiga wanita perawat itu memandangku.


" Iya ada yang bisa di bantu? " Tanya salah satu dari mereka dengan ramah.


"Iya! Saya keluarga pasien yang bernama dedih, kalau boleh saya tau siapa dokter yang menanganinya? " Tak kalah ramah aku bertanya.


" Buat apa? Kalu hanya untuk cari muka aja mendingan nggak susah! " Jawab wanita berseragam perawat yang duduk di kursi pendaftaran.


" Lagian kalu kamu keluarganya mana mungkin kamu tidak tau dokter yang merawat keluargamu, kan pasien itu sudah dua hari di rawat di sini " ucap wanita yang satu lagi, sedang yang di hadapan ku dia malah menggelengkan kepala mendengar ucapan rekannya itu, mungkin!


" Kalian ini, orang bertanya di jawab aja apa susahnya! " Ucap perawat di hadapan ku.


" Anda mau bertemu dokter yang merawat keluarga anda? " Ramahnya bertanya padaku, aku tersenyum padanya.


" Iya jika kalian berkenan saja memberi tahuku " ucapku


" Dokter Dimas yang merawat pak dedih, beliau ada di ruangannya, sebentar lagi jam kerjanya akan selesai jika ingin menemuinya mari saya antar " ucap ramah perawat itu, aku mengangguk dan mengikuti langkah perawat itu.


Sampai di depan pintu, perawat itu mengetuk pintu itu dan terdengar suara di dalam sana yang mempersilahkan masuk.


" Permisi dok! Ini ada keluarga pasien yang ingin bertemu dokter " perawat itu memperkenalkan ku.


" iya, ada yang bisa saya bantu " ucap dokter itu namun matanya tetap pada berkas yang ada di depannya.


" Silahkan! " Ucap perawat itu padaku kemudian pamit pada dokter yang ada di depan ku yang di balas anggukan oleh dokter itu tanpa mengangkat kepalanya.


Perawat itu pergi hanya tinggal ku dan dokter yang menangani kakak ku.


Aku sedikit tidak suka dengan sikap dokter di hadapan ku ini, bagi mana tidak! Bahkan aku tak di persilahkan duduk.


Mungkin merasa aku tak duduk dan tak mengeluarkan suara, dokter itupun melirikku, dia menghentikan kegiatannya pada berkas di depannya.


" Silahkan duduk! Kenapa berdiri saja " ucapnya.


" Saya tak terbiasa jika belum di perbolehkan duduk akan duduk " datar ku menjawab.

__ADS_1


" He'mh, benarkah " ucapnya seraya tersenyum tipis.


Aku duduk di hadapan dokter itu, walau sedikit kesal pada sikapnya aku mencoba bisa saja toh dia yang merawat kakak ku.


" Apa yang bisa saya bantu? " Tanyanya pada ku setelah aku duduk.


" Saya ingin tau pasien yang bernama dedih yang anda tangani sebenarnya sakit apa? " Tanyaku padanya mencoba bertanya dengan sopan.


" Oh pak dedih! Anda siapanya? Karena saya tidak akan memberikan informasi tentang pasien saya pada sembarang orang " tanyanya padaku dengan nada meragukan.


" Saya adiknya, dan saya baru tau kalau Abang saya sakit, jadi bisa dokter jelaskan dia sakit apa? " Tanyaku.


" Oh! Jadi gini,, siapa nama anda? " Tanyanya


" Rinjani! " Jawabku


" Jadi begini nona Rinjani, kakak anda mengidap penyakit gagal ginjal, mungkin sudah lama dia mengidap penyakit itu dan harusnya dia rajin cek up saat tau penyakit itu, namun menurut keluarga anda mereka tak mengetahui kalau kakak anda mengidap penyakit itu " jelasnya.


" Apa sudah separah itu? " Tanyaku karena aku tak mengerti dunia kedokteran.


" He'mh! Dan seharusnya keluarga sudah menyetujui tindakan operasi yang akan saya lakukan, namun mereka bilang biaya yang menjadi penghalang jadi saya tidak bisa apa-apa hanya melakukan cuci darah saja pada pasien itu " jelasnya kembali.


Sesak kurasakan mendengar ucapan dokter di hadapan ku, apa yang terjadi penyakit kakak ku sudah separah ini dan keluarga ku tak memberi tahuku, dan aku juga yakin te nur juga belum tau jika tidak, man mungkin mas Rendi tidak bertindak.


" Nona anda tau biayanya tak sedikit, bahkan keluarga anda belum membayar biaya cuci darah hari ini " datar nya berucap.


" Semuanya akan ku urus, pastikan saja kau bisa melakukan operasi setelah ku lunasi semua biaya nya " ucapku datar, bukan bermaksud sombong namun aku tak suka mendengar nada bicara dokter yang di hadapanku ini, seolah meremehkan.


" Baiklah jika anda bisa membayarnya, maka saat itu juga saya akan melakukan operasi " ucapnya dengan tersenyum mengejek.


" Katakan dimana saya harus membayarnya " ucapku dan dia menatapku serius.


" Baiklah mari saya antar ke tempat administrasi " ucapnya kemudian bangun dari duduknya.


Dia memintaku mengikutiku, dia berjalan dengan santai membuat ku kesal. Dia berhenti, aku juga ikut berhenti.


" Silahkan anda bayar disini " ucap dokter itu


Aku lirik wajah wanita yang duduk di meja administrasi, dia tersenyum manis pada dokter di sampingku dan dokter itupun membalasnya, membuatku mengerutkan dahi.


" Permisi saya ingin melunasi biaya rumah sakit atas nama dedih " ucapku datar, dokter di samping ku melirikku sekilas.


Orang yang ada di meja itu melihat ke arah komputer di hadapannya.

__ADS_1


" Berikut biaya operasi gagal ginjal yang akan di jalaninya " lanjutku berucap.


Dia melihat ke arah dokter di sampingku, dan dokter itu mengangguk.


" Sudah? " Tanyaku saat wanita itu melihat kearah ku, dia mengangguk.


" Katakan berapa " lanjutku


Tak sedikit nominal yang dia sebutkan, dokter di sampingku melirikku. Mungkin melihat ku hanya diam saja sambil bermain ponsel dia tersenyum mengejek.


" Sudahlah nona, jam kerja saya sudah akan berakhir jadi saya permisi " ucapnya


" Tunggu! " Ucapku menghentikannya.


Dia berbalik dan menatap ku, kemudian tersenyum.


" Baiklah saya akan tetap mengoperasi pak dedih, dan saya kasih waktu sampai besok untuk membayarnya " ucap dokter itu, kemudian dia berkata pada perawat yang dia panggil melalui telpon.


" Jadwalkan operasi untuk pak dedih besok jam 7 " ucapnya pada orang di sebrang telpon.


Melihatnya sudah selesai berbicara akupun bersuara.


" Kenapa besok? " Tanyaku datar


" Maksudnya? " Ucapnya terlihat heran


" Kenapa tidak sekarang! " Jawabku


" Maaf nona! Saya cukup lelah hari ini, dan ini bukan tindakan main-main, selain itu pak dedih juga sebelumnya belum di jadwalkan untuk operasi " jelasnya aku hanya diam, jika di pikir dia memang ada benarnya, mungkin dia takut melakukan kesalahan saat operasi karena kecapean.


" Baiklah kalu begitu saya permisi! " Ucapnya kembali aku tak menjawab.


Ku bayar semua tagihan yang tertunggak berikut biaya untuk operasi.


Aku tak menyangka jika kakak ku sakit separah itu karena selama ini dia terlihat baik-baik saja, ah aku ini! Kenapa aku naif sekali, bagai mana aku tau kakak ku baik-baik saja hanya karena mendengar suaranya melalui telpon, jika saja aku tinggal dengan orang tua ku mungkin aku akan tau itu, namun sayangnya kami tinggal berjauhan bahkan sangat jauh.


Aku ingin melihat keadaan kakak ku namun takut untuk menemuinya, bukan takut di pukul atau di marahi namun takut tak kuat menahan air mata karena melihat kakak ku yang sedang terbaring.


Aku duduk di depan kamar rawat kakak ku sambil membuka ponsel ku, ku lihat foto-foto ku saat bersama kakak ku ketika aku masih sekolah, hanya watu sekolah lah aku selalu dekat dengan kakak ku.


Foto yang menunjukan betapa tampannya kakak ku, senyum manisnya badannya yang bugar kala saat itu, membuat ku meneteskan air mata namun segera ku usap agar tak terlihat bapakku.


Kedua adikku keluar dari kamar rawat kakak ku, wajah mereka nampak lesu dan nampak lemes. Ku pinta pitri mencari makanan, aku yakin keluarga ku membatasi makan mereka di keadaan seperti ini, bahkan bukan tidak mungkin mereka belum makan.

__ADS_1


Pitri menurut, dia meminta kunci mobil dariku dan pergi sendiri. Tadinya dia mengajak Indri namun Indri bilang dia ingin bersama ku saja.


__ADS_2