
Aku hanya menatap sinis orang yang baru saja berani berucap seperti itu pada ku, tak lama terdengar seseorang berdehem.
" Eh'emmm " sepertinya dia anggota OSIS.
" Ruang OSIS bukan untuk pacaran ya " lanjut nya.
Aku menoleh, dan ternyata itu ketua OSIS yang kata teman-teman ku ganteng banget namun menurut ku biasa saja.
Aku tau dia ketua OSIS, karna saat MOS tadi dia memperkenalkan dirinya dan wakilnya seorang wanita yang cukup cantik menurut ku. gosip nya mereka sepasang kekasih.
" Santai aja kali bro " seloroh Jaka padanya, aku hanya diam saja setelah nya berlalu, ku dengar orang yang bernama Jaka itu memanggil nama ku beberapa kali namun aku tak menghiraukan.
Aku kembali ke ruang MOS, mau ke kantin juga sudah tak berniat, tak lama aku sampai teman-teman ku juga sampai. hanya amin teman laki-laki ku yang ikut masuk anta mungkin masih di luar.
" Say ni air nya, lama ya nunggu " sambil memberikan air mineral yang ku pesan tadi.
" Enggak ko aku juga baru sampe " jawab ku.
" Knapa emang kamu di panggil " tanya Ros.
" Nggak ada apa-apa " datarku.
" Terus " herannya.
" Terus apa nya orang nggak ada apa-apa " jelas ku dan setelahnya aku meminum air yang di berikan amin tadi.
Begitulah kegiatan MOS ku selama empat hari, dan di hari kelima kami menjalani mop ( masa orientasi Pramuka ) selama dua hari.
Ini malam ke dua kami tidur di tenda, agenda hari ini jerit malam dan api unggun.
Setelah api unggun kami di suruh masuk hutan, tidak terlalu rimbun dan tak jauh juga dari rumah warga.
" Yah, ko gue jadi merinding ya " kata yanah yang memang orang nya agak manja.
" Bawa santai aja, yuk cepetan cari benderanya biar bisa cepat balik ke tenda " pinta ku pada yang lain juga.
Kami para wanita berjalan di depan sedang laki-laki mengawasi kami di belakang, ralat hanya si anta yang mengawasi kami karna si amin sedari tadi nempel terus pada Ros karna ketakutan.
Setelah cukup lama mencari bendera, akhirnya aku melihat bendera itu tak jauh berada di depan kami hanya saja dekat semak-semak.
Sekilas pandangan ku menangkap kelebatan berwarna putih, kusut, kotor, entah lah pikir ku ini jerit malam sudah pasti banyak jebakan yang menanti kami.
Ku lihat wajah teman ku biasa saja, dalam pikir ku jika memang itu hanya jebakan pastinya mereka juga melihat dan sudah ketakutan namun mereka biasa saja.
Aku pun hanya diam dan terus melangkah di ikuti teman-teman ku di belakang.
Tiba-tiba yanah menjerit kala melihat sesuatu tengah mendekati kami, dengan tampilan lumayan seram sontak saja yang lain juga ikut menjerit tapi tidak dengan ku dan anta.
Aku berpikir kalau yang ini mereka melihat lalu yang tadi kenapa mereka tidak, ku tepis pikiran itu karna teman-teman ku semuanya sudah lari tapi aku dan anta tidak.
Aku melihat anta yang ternyata juga sedang melihat ku, sesuatu itu semakin mendekat replex saat aku kaget dia sudah ada di depan kami dengan sekuat tenaga aku meninjunya dan dia meringis.
" Aww " dia merintih kesakitan, aku hanya menyerengitkan dahi ternyata benar itu hanya tipuan.
" Jangan beneran juga dong, sakit ni muka gue " kesel anak laki-laki itu, aku meminta maaf sedang anta berjalan untuk mengambil bendera itu.
" Maaf kak, saya tadi replex karna kaget " ujar ku, dia tak berkata lagi.
" Sudah ni, ayo balik ke tenda " kata anta yang sudah berhasil mengambil bendera itu.
Kami pun kembali ke tenda dan meninggalkan kakak kelas yang ku tonjok itu, beruntung aku hanya menonjok tidak menendang.
__ADS_1
Saat kami berjalan hendak kembali ke tenda, aku menghentikan langkah ku aku melihat lagi kelebatan bayangan itu sepertinya ini bukan jebakan karna ku lihat wajah anta biasa saja berarti dia tidak melihatnya.
" Kenapa berhenti ayo jalan, mau gue tinggal " seloroh nya.
Aku tersadar dan berjalan di sampingnya, tadinya aku berjalan di depannya.
Ku lihat bayangan itu mengikuti, sepertinya bayangan itu sadar kalau aku bisa melihatnya. ya, perlu kalian tau aku juga bisa melihat sesuatu yang tak dapat orang lain lihat dan biasanya aku biasa saja mungkin Karna ini di hutan jadi aku sedikit merinding.
Bayangan itu terus mendekat, replex aku menggenggam tangan laki-laki yang ada di sebelah ku. mungkin benar ketika cucu Adam berduaan maka yang ketiga nya syetan.
" Kenapa? " tanya anta yang kayak nya tidak nyaman tangannya ku pegang.
" Maaf replex " kataku tanpa mau menjelaskan alasannya, dia melihat wajah ku sepertinya dia paham aku sedang merasa takut dan dia balik menggenggam tangan ku dan membawaku balik ke tenda.
Tak lama aku sudah bisa melihat cahaya dari perkemahan kami, setelah semakin dekat anta melepaskan tangannya.
" Pergilah lebih dulu ke tenda, aku akan melapor dulu ke pos " titah nya, aku hanya mengangguk.
Tak lama anta menghampiri tenda kami, dan memberikan sebuah kertas namun ada petanya, entah lah aku tak tau namun ku pastikan itu denah yang akan kami lewati besok.
" Ini denah peta buat penjelajahan besok, dan setelahnya kita akan pulang " jelasnya dan setelah itu dia kembali ke tendanya.
Kami pun tertidur sampai pagi datang menyambut kami.
***
Sesuai jadwal, hari ini kami melakukan penjelajahan, aku merasa pusing mungkin karna selama dua malam aku kurang tidur biasanya seperti itu.
Berkali-kali aku minta berhenti untuk beristirahat hingga anta merasa kesal.
" Kalau istirahat terus kapan sampenya " kesalnya berucap.
" Bentar kali anta, bukan hanya Rinjani aja kita juga capek ko " kata yanah yang memang dia juga kayanya kelelahan.
" Ya udah yuk, kita lanjut lagi " kata ku, dan kami pun melanjutkan perjalanan kami yang tadi terhenti.
Lama kami berjalan, sudah beberapa pos yang kami lewati dan ini pos terakhir setelah ini kami akan beres-beres tenda untuk pulang.
Semua sudah beres yang lain juga sudah berkumpul, dan kami melakukan upacara penutup yang di akhiri dengan doa.
Semua sudah bubar, balik dengan jemputan nya masing-masing. aku masih duduk di bangku depan gerbang sekolah setelah tadi mobil yang mengantar kami kembali ke sekolah.
Aku hanya sendiri mengumpulkan tenaga untuk aku berjalan pulang karna, Kakak ku tak bisa menjemput ku.
Tak lama sebuah motor berhenti di depan ku dan ternyata orang yang mengendarainya kak Jaka, orang yang selalu membuat ku kesal dia turun dari motornya.
" Lagi nungguin aku ya " aku hanya diam tak menanggapi.
" Hayu atuh naik udah sore ini aa Jaka anterin pulang " dengan percaya dirinya dia bicara begitu.
" Tidak kak makasih " tolak ku halus.
" Ayo lah Rinjani, nggak bakal di apa-apain ini " cerocos nya lagi.
Dia terus saja memaksaku walau aku berkali+kali berkata ' tidak, ' hingga aku merasa terganggu dan berdiri hendak pergi namun tak jadi karna ada satu motor lagi berhenti di hadapan ku.
" Maaf lama ya nunggu " ucapnya, seolah-olah aku sedang menunggu nya.
Ka Jaka yang masih ada di sana bersuara,
" Apa -apaan Lo, berani bener mau bawa cewe gue " aku hanya menggelengkan kepala mendengarnya.
__ADS_1
" Sejak kapan Rinjani jadi cewe kakak, dia saja belum putus dari ku " ucapannya, membuat aku melongo seperti orang bodoh.
" Hei kalian..." Belum sempat kata-kata ku selesai, anta sudah memakaikan helem di kepala ku. ya, laki-laki itu tak lain anta.
Sepertinya dia tau aku merasa risih dengan kak Jaka makanya dia begitu, itulah pikir ku.
Dan aku pun tak menyia-nyiakannya, aku naik saja dan kami pun melesat meninggalkan ka Jaka sendirian.
Di tengah jalan aku meminta anta menghentikan motor nya.
" Stop disini saja, dan makasih sudah membantu ku " ucap ku, setelah motor berhenti.
Namun belum sempat aku turun, motor sudah kembali jalan dan aku hanya diam saja mungkin dia bukan orang yang suka menurunkan boncengan di tengah jalan pikir ku, lagian aku juga cukup lelah berjalan pikir ku.
Tak lama aku sudah sampai di pertigaan rumah ku, sebenarnya kalau motor masuk sampai depan rumah ku hanya saja aku meminta di turunkan di sini saja.
" Stop disini saja, rumah ku di depan sana sudah dekat " pinta ku dan dia pun menghentikan motornya.
Aku turun dan membuka helem, namun setelah nya aku juga melihat dia turun dan membuka helem juga.
" Ngapain ikut turun? " tanya ku.
" Aku mau nganter kamu sampai rumah " jawabnya.
" Ya tapi rumah ku di depan sana sudah sampai sini saja, makasih sudah mau nganter aku sampai rumah tapi nggak perlu. " aku membalikan badan hendak melangkah.
" Begitukah caranya berterimakasih " ucapnya, sembari memegang tangan ku untuk menghentikan langkah ku.
Aku menghempaskan tangannya karna memang aku tak suka orang lain bisa pegang-pegang aku sembarangan.
" Lepas, jangan lancang tangannya " kesal ku.
" Maaf " singkatnya.
Dia berjalan duluan di depan ku, aku hanya diam di tempat ambil memperhatikan nya.
" Emang dia tau yang mana rumah ku " gumam ku kesal.
Tak lama dia berhenti dan membalikan badannya, aku tau dia memintaku berjalan dan menunjukan jalan ke rumah ku, tak mau banyak bicara akupun berjalan mendahuluinya.
Dan sampailah aku tepat di depan rumah ku.
" Kenapa memperhatikan rumah ku begitu serius " tanyaku, kala aku menyadari dia tengah memperhatikan rumah ku.
" Tidak, ya sudah aku pergi " dan dia berlalu begitu saja meninggalkan ku dengan perasaan hera
***
Malam hari nya,
Malam ini malam Minggu, aku tengah duduk di luar rumah bersama kakak ku dan teman temannya. Peding juga Pali ada di situ, ya, Peding dan Pali mungkin seumuran dengan kakak ku sedang aku dan kakak ku hanya selisih 3 tahun saja.
Aku sedang asik memperhatikan kakak ku dan teman temannya sedang memodifikasi motor-motor mereka sambil bercanda ria, saling meledek dan kadang membanggakan diri masing-maasing.
Tak lama kakak ku menghampiriku,
" Perasaan sudah lama si Sukma nggak ada main ke sini " tanyanya, aku hanya mengidikkan ke dua bahu ku saja
" Kenapa? " tanyanya lagi.
" Nggak knapa-napa, mungkin sudah lupa jalan ke sini " jawab ku datar.
__ADS_1
" Ya sudah itu urusan kamu, yang penting pelajaran nggak ke ganggu " tambah nya " he'mh " singkat ku dan dia pun balik pada teman-temannya.