
Mobil pun berangkat, hanya ibu dan bapaknya Asiah yang kami perbolehkan untuk ikut, bukan apa-apa takutnya nanti mereka akan menghambat perjalanan
" Pai, kerumah sakit mana kita akan membawa Asiah " tanyaku
" Kerumah sakit milik keluarga Gibran " jawabnya
" Oh namanya Gibran " asalku
" Kenapa, apa dari tadi kau ingin tau namanya, apa kau tertarik padanya " ku tau Pai sedang mengajakku bercanda setelah ketegangan tadi
" Mungkin, kurasa dia lumayan tampan " balasku dengan muka seolah menimbang
Bukan menjawab ripa'i malah tersenyum dan mengusap samping kepala ku
" Jika keadaan seperti tadi, jangan bersikap seperi itu, jika sedang panik dan kau seperti itu, suatu saat itu akan menjadi senjata bagi musuh, beruntung aku yang di sana dan aku pacar mu jika musuh mu aku pasti akan memanfaatkan keadaan itu " jelasnya panjang kali lebar
" Jadi apa kamu mau mencoba menjadi musuh ku " asalku
" Mana bisa, marah padamu saja aku tak mampu " jawabnya, dan itu seolah memberi keinginan dalam diriku untuk bertanya hal itu
Mungkin keinginan bertanya itu sudah lama namun karna aku yang terlalu masabodo jadi tak pernah menanyakannya
" Ripa'i aku penasaran dengan itu " datar ku
" Dengan apa " tanyanya balik
" Dengan sikap lembut mu yang tak pernah menunjukan kemarahan padaku, apa ia kamu tak pernah merasa marah terhadapku ?" Tanyaku ingin memastikan
" Jangan naif Rinjani, jika kamu berpikir seperti itu tentu kmu salah, aku juga hanya manusia biasa bisa marah jika kesal, jika ada suatu hal yang membuat ku merasa tidak nyaman " jelasnya sesekali ia melirik ku saat berbicara dan tersenyum
" Harusnya yang kamu tanyakan bagai mana kala aku marah dan melampiaskannya pada siapa, mungkin itu akan sedikit masuk akal karna aku tak pernah menunjukannya padamu bukan " lanjutnya
Ya, aku benar-benar naif mana mungkin ripa'i tak pernah marah apa lagi jika hanya karenaku, harusnya aku sadar jika selama bersama ku ripa'i banyak mengalah dia yang lebih berhak untuk marah pada ku selain karna sikap ku, juga karna aku yang sedikit terlambat membuka hati ku untuknya
" Lalu dengan cara apa kamu melampiaskannya ?" Tanyaku benar-benar ingin tahu
" Marahnya karna apa dulu " tanyanya, aku bingung berarti selama ini ripa'i sering marah dong
Namun itu malah membuat ku memiliki ide untuk menggodanya
" Jika marah karna cemburu " tanyaku
Sebelum menjawab dia tersenyum
" Serius mau tau " yakinnya bertanya aku mengangguk
" Kalau dulu aku sering banget cemburu sering banget, namun tak mampu bila harus sampai marah dan menunjukannya padamu " jelasnya
" Lalu kamu pendam atau kamu curahkan ? Pada siapa ?" Tanyaku lagi
__ADS_1
" Saat di depanmu aku hanya bisa menahannya, namun jika sudah pulang ku lampiaskan pada Samsat atau game, jika masih belum kelar juga ya nelpon kamu udah " jelasnya
" Mmmmhhhh " singkat ku seraya manggut-manggut
" Lalu soal apa lagi yang bisa bikin kamu marah pada ku " tanya ku lagi
" Tidak ada, namun ada satu hal yang kadang aku sangat marah pada diri sendiri " jelasnya wajahnya sedikit murung apakah ini masalah serius
" Apa itu apa boleh aku tau " tanyaku penasaran
" Ketika aku tak bisa menahan diri terhadapmu bahkan sampai mencium mu, sungguh sebisa mungkin aku selalu menahan diriku namun kau tau kalau kau itu terlalu mempesona " nada ny sedikit seolah menggodaku
" Dan aku melampiaskan marah karna itu pada tubuhku sendiri, karna tubuh ini tak mampu menahan diri terhadap mu, aku minta maaf " lanjutnya
" Aku yang minta maaf, aku hanya mau ketika kau miliki aku sepenuhnya maka di saat itu semua kepuasan kau dapatkan akan terasa berkesan karna kau mendapatkannya dengan penuh kesabaran " jelasku
" He'mh aku paham, sebentar lagi kita sampai " ucapnya, aku melihat kejalan dan ternyata kami sudah sampai di kota, sungguh tak terasa jauh jika dibandingkan berkendara sendiri
Tak ada lagi percakapan karna ripa'i mengikuti laju mobil Gibran yang menambah laju kendaraannya
Satu jam kemudian kami sampai di sebuah rumah sakit yang besar, mobil Gibran berhenti dan ia masuk lebih dulu
Aku pun keluar dari mobil ripa'i saat ia menghentikan mobilnya, aku segera menuju Asiah,
Ku lihat Gibran membawa kursi roda dari dalam, mungkin itu yang bisa ia dapatkan, dia mengangkat tubuh lemah itu dan meletakkan di kursi dorong yang ia bawa tadi
Ripa'i datang
" Bagaimana apa sudah di tangani " tanyanya seraya menjatuhkan tangannya di pundak ku
" He'mh " singkatku
Mungkin karna masih nampak kekhawatiran di wajah ku ripa'i pun mencoba menenangkan ku
" Jangan khawatir, kita akan melakukan yang terbaik untuknya " ucapnya, aku menoleh menatpnya sekilas
" Terimakasih " ucapku
" Tak perlu sungkan, kata Gibran Asiah masih punya banyak waktu untuk sembuh "
Ntah ripa'i mengucapkan itu untuk menenangkan ku atau memang kenyataan nya, karna aku tak paham dengan itu
Ripa'i mengajak ku mendekati bapak dan ibunya Asiah, akupun menurut terlalu fokus pada Asiah tak ku sadari mengacuhkan mereka
" Bu pak, ibu sama bapak sudah makan" tanya ku lembut
Mereka menggelengkan kepala
" Kalau begitu Rinjani belikan makanan dulu ya, biar ibu sama bapak tidak sakit " ucapku, namun mereka menolak
__ADS_1
" Tidak usah Jani, nanti saja kalau ibu sudah bisa lihat Asiah " lemah suara ibu Asiah
" Asiah pasti baik-baik saja Bu, percayakan semuanya pada dokter ya, dan jangan lupa berdo'a semoga Asiah bisa segera melakukan operasi "
Bukan aku yang membalas ucapan ibu Asiah, melainkan ripa'i
Tak lama Gibran datang dan menghampiri kami,
" Bagaimana " tanya ripa'i langsung
" Sudah di pindah kan ke ruang lain melalui jalur khusus, untuk menjalani operasi kondisinya harus membaik dulu karna saat ini kondisinya benar-benar lemah, jadi kita harus menunggu " jelasnya pada ripa'i dapat ku dengar karna mereka berbicara di hadapan kami
Dia beralih melihat ku
" Jadi anda calon nyonya Wilson " ucapnya, aku hanya diam
" Kenalkan saya Gibran, teman tuan William saat di luar negri kami satu universitas hanya saja beda jurusan " ucapnya seraya mengulurkan tangan, akupun menjabat tangannya sekilas seraya mengulas senyum
" Ibu bapak mari ikut saya " ajak Gibran pada kedua orang tua Asiah, mereka pun mengikuti Gibran
" Pai kau duluan saja, aku mau belikan makanan dulu untuk mereka " ucapku
" Baiklah aku antar " tak menolak akupun membeli makanan di Anter ripa'i
Aku baru sadar kalau ku belum mengabari kedua adikku kalu hari ini aku pulang telat, dan mungkin aku juga akan membawa kedua orang tua Asiah untuk tinggal dengan kami
Di dalam mobil aku mengeluarkan ponsel ku
" Masih bermain ponsel saat kekasihnya ada di sampingnya " celetuk ripa'i
" He'mh, aku belum mengabari kedua adikku, karna sepertinya aku akan pulang malam " jelasku
# tth pulang telat, makanlah lebih dulu ada urusan yang harus tth urus jangan tidur terlalu malam # pesan terkirim pada Fitri
" Kenapa tak di telpon saja " suar ripa'i
" Sedang malas " asalku
" Kita mau beli apa " tanyanya lagi
" Yang jelas nasi ripa'i, ku yakin mereka belum makan karna memikirkan kondisi anak mereka seperti itu " datar ku
Ripa'i membawaku ke sebuah restoran, dia juga mengajak ku makan selama menunggu pesanan yang di bungkus kami pun makan di sana
Aku tak berselera mungkin karna kecapean atu masih memikirkan Asiah,
" Sudah selesai " tanya ripa'i kala aku hanya memandangi makanan yang ku makan hanya beberapa sendok
" Aku tak lapar, apa kamu sudah selesai " tanyaku balik ripa'i mengangguk dan dia pun meminta pesanan kami yang di bungkus kemudian membayarnya
__ADS_1