
Aku yakin semua keputusan yang di ambil tth ku pasti sudah di perhitungkan.
" Apa sudah selesai? " Tanyanya saat sudah di hadapan ku.
" He'mh! Sayangnya Julian sedang sibuk dengan pekerjaannya! " Jawabku dengan nada seolah kecewa sudah menelpon Julian.
" Jangan begitu! Tth yakin dia memang sedang sibuk, mungkin! " Jawab teh Rinjani dengan senyum manis nya.
Tth mengajakku membantu Indri yang sedang asik memilih barang yang akan dia jadikan oleh-oleh, sedang aku dan teh Jani hanya mengamatinya saja, membawakan barang-barang yang sudah dia pilih.
" Kapan kau akan selesai! Tth enggak mau nanti kita sampe di sana malam " ucap teh Rinjani pada Indri, Indri pun menghentikan aksinya memilih sesuatu yang mungkin untuk nya.
" Teh Jani ini! Tidak bisakah membiarkan adik bungsunya ini berbahagia! " Rajuk nya pada teh Rinjani membuat aku sedikit mengulas senyum.
Percayalah hanya dia yang pecicilan, dan hanya dia yang super cerewet.
Setelah selesai dengan kegiatan belanja, kami melanjutkan perjalanan pulang ke desa teh Rinjani yang mengemudi aku dan Indri hanya duduk manis saja.
Perjalanan kami masih sangat jauh hingga aku lebih memilih memejamkan mata lalu tertidur dengan nyamannya.
***
Rinjani vov
Aku di bangunkan adik bungsuku saat kami sampai di pusat perbelanjaan, sedikit males untuk bangun karena kalau sudah masuk kesana pasti takan sedikit bajet yang keluar.
Aku bangun dan tetap menuruti keinginan adik bungsuku, lagi pula jika di ingat-ingat sudah lama aku tak berbelanja bersama mereka.
Aku dan adik kedua ku masuk belakangan sedang Sibungsu dia masuk lebih dulu.
Sampai di dalam dan sudah bersama Iin, pitri meminjam ponselku dia bilang mau menelpon Julian, dan ponselnya kehabisan baterai.
Karena aku juga tak sedang memakai ponsel ku, jadi ku berikan saja.
Saat menelpon dia memisahkan diri dari kami, mungkin merasa canggung jika menelpon di dekat kami! Padahal santai saja, toh kami juga enggak bakalan kepo.
Mendengar penuturan pitri saat Julian akhirnya menyatakan cinta padanya aku merasa senang, bahkan tenang.
Karena aku tau Julian orang yang seperti apa, dia juga penyayang, mengenai ilmu dan kepintaran jangan di ragukan, dan kalu masalah kastanya aku sedikit khawatir, jika Julian jelas dia akan menerima adikku pitri apa adanya namun bagaimana dengan keluarganya, namun itu bisa aku pikirkan nanti.
Jam 3 sore.
Kami sudah memasuki perkampungan desa, sedikit perubahan yang ku rasakan di desaku.
Jalanan masuk ke desa sudah di perbaiki, ku lihat juga setiap jalan yang ku lalui bersih tak seperti dulu, persawahan tetap ada karena itu milik mutlak orang di desaku.
Semakin mendekati rumah keadaan hatiku semakin senang, tak sabar ingin segera bertemu ibu dan bapak, menumpahkan semua rasa rindu dan lelah ku karena jauh dari mereka.
__ADS_1
Ku lirik kedua adikku masih terlelap dengan nyamannya.
Ku bangunkan mereka saat sudah sampai di depan rumah dan kami turun bersamaan.
" Assalamualaikum!! " Salam kami pada orang rumah, namun tak mendapat jawaban.
" Assalamualaikum! " Ku ulang kembali salam ku.
" Sepertinya rumah sepi teh! Pada kemana ya? " Indri berucap, aku menoleh padanya kemudian merogoh ponsel ku dalam saku.
# Abang! Rumah sepi pada kemana, ku lihat juga dari luar rumah Abang juga sepi? # Tanyaku pada Abang ku melalui pesan.
Tak mendapat jawaban, akupun berjalan mendekati rumah Caca, ku beri salam.
" Assalamualaikum!! Permisi!! " Suaraku
" Wa'allaikum sallam!! Rinjani! " Ternyata yang menjawab salam ku caca sendiri.
" Kami pulang? Sam siapa? " Tanyanya
" He'mh, dengan kedua adikku, ca kami tau orang rumah ku pada Kana? " Tanyaku langsung, karena ingin segera tau pada kemana orang di rumah ku itu.
" Oh!, Entahlah, kali enggak salah denger Abang mu masuk rumah sakit " jawab Caca membuat ku langsung memasang muka datar.
" Sejak kapan? " Datar ku bertanya.
" Apa kmu tau Abang ku dirawat di rumah sakit mana? " Tanyaku kembali.
" Aku kurang tau, tadinya berobat jalan di puskesmas terus karena enggak ada perubahan bahkan katanya makin parah, jadi Abang mu di bawa ke rumah sakit " jelasnya.
" Baiklah terimakasih infonya, aku akan mencari sendiri sisa infonya, aku balik dulu " ucapku dan langsung balik badan berjalan kembali ke rumah.
Sampai di rumah aku tak langsung memberi tahu kedua adikku walau mereka bertanya.
Ku buka kembali ponselku mencari nama seseorang yang ingin aku hubungi.
Panggilan ku di angkat.
" Assalamualaikum teh! Tth di mana Jani pulang tapi rumah sepi, pada kemana? " Tanya ku langsung pada istri kakak ku.
Ya! Orang yang ku telpon tak lain adalah istri kakak ku.
" Wa'allaikum sallam! Jani pulang, terus sekarang di rumah? " Bukannya menjawab dia malah balik bertanya.
" He'mh, sekarang tth di rumah sakit mana? " Tanyaku langsung tak ingin membuang waktu.
Mendengar kalimat rumah sakit kedua adikku menatapku apalagi pitri tatapannya sungguh menyeramkan.
__ADS_1
" Tth dan yang lain di rumah sakit yang ada di kota, nanti tth kirimkan alamatnya " ucapnya. Aku menjawab singkat " ya " kemudian memberi salam lalu memutus panggilan.
Ku lihat wajah kedua adikku penuh tanda tanya, namun aku masih belum ingin menjelaskannya ku suruh saja mereka kembali ke mobil untuk ikut dengan ku.
Baru saja menginjakan kaki di kampung halaman sudah harus kembali lagi ke kota, belum juga melepas rasa resah di hati ingin memeluk orang tua, justru bertambah kembali keresahan itu.
Aku sudah seperti pembalap mengendarai mobil ku, tak memikirkan kedua adikku, pitri mungkin akan biasa saja namun Indri, dia sudah menjerit ketakutan karena kecepatan mengemudi ku.
Ku dengar sebuah notifikasi pesan dari ponselku.
" Buka dan katakan padaku apa isi pesan itu! " Ucapku pada pitri, dia mengambil ponselku yang ku letakan di samping kursi kemudi.
" Apa ini? Siapa yang sakit? " Tanya pitri padaku.
" Katakan di mana alamatnya " datar ku berucap, tak menghiraukan pertanyaan pitri.
Dan diapun memberitahuku, beruntung rumah sakit itu masih dekat dari pedesaan ku.
Ku pasang aplikasi yang menunjukan arah ke rumah sakit itu agar aku lebih cepat sampai.
Tidak memakan satu jam mobilku sampai tepat di parkiran rumah sakit.
Ku edarkan pandangan ku ke seluruh penjuru rumah sakit, walau hanya di bagian luarnya saja itu penting untukku.
Ku langkahkan kaki ku dan di ikuti kedua adikku, ku hampiri meja pendaftaran di rumah sakit itu. Ku tanyakan pasien bernama dedih di rawat di ruangan mana, orang yang ada di meja itu memeriksa nama pasien yang ku sebutkan, dia memberi tahu di kamar mana pasien itu dirawat.
Kedua adikku berjalan seperti berlari menuju kamar itu, sedang aku! Aku memilih menarik nafas dalam guna menenangkan rasa kalut dalam pikiran ku, kemudian berjalan mengikuti kedua adikku.
Sampai di depan kamar yang ku tuju.
Aku melihat kedua adikku sedang memeluk ibuku bapak ku di sampingnya, sedang istri kakak ku dia tengah menatap mereka.
Aku mendekat ke istri kakak ku, memberi salam padanya juga pada kedua orang tuaku, ku cium tangannya setelah mencium tangan ibu dan bapak ku.
" Apa yang terjadi? " Tanyaku langsung pada istri kakak ku dengan ramah.
" Aa sakit sudah lama tapi nggak mau bilang, tth pikir sakitnya tidak parah karena aa nggak pernah mengeluh sakit, paling hanya bilang kecapean! " Jawab tth ipar ku dengan air mata menggenangi kelopak matanya.
Ku peluk dia, mencoba menenangkannya ku tau hatinya sedang rapuh, jiwanya sedang tidak tenang.
" Sudahlah, semua akan baik-baik saja " pelaku berucap mencoba menenangkannya.
Tak ku sangka dia malah mengeluarkan air mata yang tadi di tahannya, tangisnya tak bersuara namun tubuhnya bergetar menandakan betapa pilu hatinya saat ini.
Hampir saja aku ikut menjatuhkan air mata, bukan karena tak sayang aku tak menjatuhkan air mata, namun aku tak mau jika air mata yang ku jatuhkan akan menambah pilu hati tth ipar ku.
Ku ajak dia untuk duduk, tanganku tetap di punggungnya seraya mengusapnya.
__ADS_1
Ingin rasanya aku bertanya sakit yang seperti apa yang tengah di rasakan abang ku, namun ku urungkan sebaiknya aku menemui dokter yang menangani Abang ku.