
Aku selalu menyembunyikan wajah ku ke belakang pundak Pai kala adegan itu tengah berlangsung
Saat film selesai aku buru buru keluar meninggalkan Pai dan dia juga menyusul ku
Rasanya aku kesal sekali pada nya ingin marah namun tak bisa jadi aku hanya bersikap biasa
Kami terus berjalan sesekali ripa'i melirik ke arah ku namun aku tak menghiraukan hingga ia berhenti dan membuat akupun ikut berhenti
" Masih kesal " tanya nya
" Enggak "
" Ayolah lagian kamu udah gede juga pacaran ga boleh peluk cium " kesal nya
Aku menatap tajam kearah nya ia tau maksud tatapan ku
" Iya iya maaf " lanjut nya
"Kita main itu saja yuk biar kamu nggak marah lagi " kata nya seraya menunjuk ke permainan mesin pengambil boneka
Dia menarik tangan ku dan aku hanya mengikuti nya, hanya satu kali permainan dia berhasil mendapatkan boneka nya dan memberikan boneka itu pada ku aku bukan gadis manja yang suka boneka namun aku tetap menerimanya
" Pai sudah sore aku harus pulang nanti ketinggalan kereta " ucap ku
" Tapi aku masih kangen " kesal nya
" Nanti kita ketemu lagi ko kalu kamu sudah selesai dengan magang mu " jelas ku
" Rinjani Rinjani seperti nya cuma aku yang menganggap hubungan ini ada " suara nya lemas
" Kenapa begitu "
" Ya karna sepertinya kamu tak menganggap hubungan ini ada buktinya hanya aku yang rindu sama kamu "
" Aku nggak tau Pai aku rindu atau nggak karna sudah lama semua itu aku kubur bersama perasaan ku yang dahulu " lirih ku namun dapat Pai dengar
" Tapi sekarang ada aku Jani apa tak ada rasa suka di hati mu sedikit saja untuk ku " pintanya
" Mungkin ada hanya saja aku tak tau perasaan apa itu "
" Ku mohon belajar lah mencintai ku lupakan dia Jani dia hanya masa lalu mu yang tak mungkin kembali " kesal nya
" Bagai mana kalau dia kembali " datar ku
Pai tersenyum sebelum berkata
" Lihat aku, aku yang kini ada di depan mu aku yang akan selalu menjagamu aku yang selalu berubah menjadi yang terbaik agar tak mengecewakan perasaan mu tapi bahkan perasaan mu bukan untuk ku "
Aku hanya diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Pai
" Jika kamu masih tak percaya pada ku aku akan meminta Abang ku untuk melamar mu untuk ku " lanjut nya lagi
" Jangan gila kamu perjalanan kita masih panjang aku masih ingin mengenal dunia luas " kesal ku
" Makan nya kalau tak mau aku nekat cukup selalu ada di sisi ku kita mulai semuanya perlahan " lembutnya meyakinkan ku
Aku hanya diam tak menjawab dan melanjutkan langkahku untuk pulang namun sebelum nya aku harus menjemput adik ku dulu
" Tunggu disini aku ambil motor dulu di parkiran " pinta nya aku mengangguk
Selama Pai pergi mengambil motor nya di parkiran aku terus memikirkan ucapan Pai apa benar aku seegois itu hingga Pai kembali pun aku tak menyadari nya
" Jangan melamun pake helem nya " suara Pai menyadarkan ku
Aku meraih helm itu dan ku pakai Pai tak lagi meminta ku untuk berpegangan pada nya seperti waktu dulu karna dia tau itu mustahil
Aku melingkarkan tangan ku pada perut Pai, Pai menoleh kearah ku aku hanya diam saja ku pastikan dia tersenyum namun tak dapat kulihat karna terhalang helm
Sekilas dia mengusap tangan ku yang melingkar diperut nya dan setelah nya motor melaju menuju tempat yang ku beritahukan pada Pai
Aku ke stasiun di Anter Pai dan adik ku di Anter bibi Pai juga membelikan kami tiket kereta aku sudah menolak karna ku tau Pai masih anak sekolah walau dia dapat gaji magang nya namun aku gak mau merepotkan nya
Kulihat ada tiga tiket kereta di tangan Pai aku melihat nya dengan muka heran
__ADS_1
" Kenapa " tanya Pai yang menyadari muka heran ku
" Ko ada tiga tiket " tanya ku
" Ya karna aku mau memastikan pacar ku pulang dengan selamat " jelas nya
" Terus motor mu "
" Sudah ku titipkan untuk dua hari di sini "
" Dua hari, kamu nggak kerja dong "
" Nggak udah ijin juga sama Abang "
" Abang tau kita pacaran "
" Tau bahkan dia yang memberi ku ide agar memacari mu " aku heran berarti benar Pai memang tak benar benar suka pada ku pikir ku
" Kenapa " tanya nya lagi karna aku hanya diam
" Nggak knapa napa "
" Jangan berpikir aneh aneh jauh sebelum Abang bilang begitu aku memang sudah ada niat buat jadiin kamu milik ku " aku hanya memandang nya sekilas setelah nya hanya diam
Kini kami sudah di dalam kereta penumpang cukup padat sehingga kami duduk saling berdempetan tadi nya adik ku di tengah antara aku dan ripa'i tapi ntah kenapa tiba tiba dia berdiri dan berpindah ke sebelah ku
" Aku nggak suka cowo lain Deket kamu " mendengar bisikan Pai aku menoleh ke sebelah Pai ternyata benar aku bersebelahan dengan laki-laki
Aku tak menanggapi bisikan Pai hanya tersenyum ke arah nya dia memakaikan genset ke telinga ku tadinya aku menolak namun dia memaksa sesekali aku tersenyum saat mendengarkan lagu yang di putar Pai
Aku merasakan tangan Pai merangkul pundak ku aku menepis nya adik ku menoleh
" Knapa teh " tanya nya
" Nggak papa " jawab ku Pai tersenyum saat Pai mendengar aku menjawab adik ku tadi
Aku tau Pai pasti pernah melakukan peluk cium atau beradu cumbu dengan remaja seusianya saat belum mengenal ku bahkan saat aku menolong nya waktu pertama kali itu karna dia kepergok kakak nya sedang mencumbu anak gadis orang di rumah nya mungkin, dia menceritakan semua pada ku saat itu Abang nya sedang di Jakarta karna sedang mengurus pekerjaan nya yang ada di sana sedang Pai ia tinggal sendirian di rumah nya di kota Tanggerang
Aku heran kenapa remaja seusianya bisa berbuat sebrengsek itu awalnya aku takut berteman dengan Pai namun perlahan aku melihat sosok lain dari Pai
" Belum mungkin bentar lagi " jawab nya
" Pulas amat tidur nya kaya orang abis berantem kecapan terus tidur " seloroh nya
" Emang teh Jani abis berantem tadi siang " pitri yang menengahi obrolan kami
" Tadi siang di mana " tanya Pai geram
" Santai aja nakutin muka nya " seloroh pitri aku hanya diam " tadi siang pas kami mau turun dari kreta ada 3 gadis seusia ku di gangguin sama beberapa anak jalanan kayanya seusia Kaka juga si " jelas pitri Pai menatap ku meminta penjelasan
Sebelum menjawab aku tersenyum " aku nggak apa apa ko cuma anak jalanan " asalku namun mendapat tatapan tajam dari Pai
" Sudah sampai " celetuk pitri membuat aku dan pa'i mengalihkan pandangan
" Yuk turun " ajak pitri
Kami pun turun dan berjalan mencari angkot
" Kamu mau pulang ke mana " tanya ku pada api
" Ke rumah mu lah ke mana lagi "
" Ngapain "
" Nemuin calon mertua " asal nya
" Aku Anter kamu dulu pulang baru aku pikirin mau pulang ke mana " jelas nya namun di jawab oleh Adi ku
" Nginep aja kak nanti tidur nya bareng kakak aku sama teman teman nya "
" Emang boleh " tanya nya pada adik ku
" Boleh kan tidur nya juga di rumah tth ku yang udah pisah rumah sama kakak aku lagi iya kan teh " pitri menoleh pada ku
__ADS_1
" Terserah " asal ku
Kami pun sampai di depan gang rumah setelah turun dari ojek
" Assallamu allaikum " sapa ku pada orang rumah
" Wa'allaikum sallam " jawab ibuku
" Baru pulang tumben malem " tanya ibu ku karna biasanya aku tak pulang malam kalau ngambil duit dari bapak beda kalau ngambil duit dari tth karna kalau ngambil duit dari tth aku pasti main dulu bareng ripa'i
" Assallamu allaikum Bu " sapa ripa'i
" Wa'allaikum sallam " ramah ibu
" Jani bikinin minum dulu temen mu " kata ibu menghampiri ku di kamar
" Bentar Bu "
Aku keluar membawa teh hangat untuk Pai dia tersenyum pada ku
" Makasih calon istri " gurau nya aku tak menanggapi
" Aku mau mandi dulu ya kamu sama yang lain aja dulu " pamit ku
Setelah aku mandi aku menyuruh Pai untuk mandi ku pinjamkan baju oblong ku yang polos dan celana olah raga ku dia menerimanya dan memakai nya
" Lumayan " ucap nya setelah mengenakan baju itu
Aku baru nyadar ternyata ripa'i setampan itu dan dia pacar ku, namun setelah nya ku tepis pikiran itu
" Kenapa aku ganteng ya " narsis nya yang menyadari aku tengah melihat nya
Aku tak menjawab " makan yuk " ajak ku
" Boleh tapi disini saja ya " jawab nya
Aku kedalam mengambil sepiring nasi beserta teman teman nya
Aku melihat Pai makan dengan tak berselera
" Kenapa makanan nya tidak enak " tanya ku
" Bukan " jawab nya " kalau ku tau aku hanya makan sendirian aku menolak tadi " lanjut nya
" Aku tidak lapar sudah makan aku temani, kamu orang pertama yang aku temani makan di rumah ku lagi " semangat ku agar dia mau makan
" Baik lah aku makan tapi bantuin " pintanya
" Iya deh bentar aku ngambil makanan lagi "
" Ngapain ini juga nggak bakalan abis sama aku ini aja " pinta nya
" Nggak apaan " tolak ku
Saat aku hendak bangun tangan ku di tarik dan aku langsung terduduk dia menyuapi ku tapi aku menolak namun ia tak mau mengalah
" Buka cepetan kalau nggak nanti aku cium mau " sontak saja aku membuka mulut dan setelah menyuapi ku ia menyendok kembali makanan dan memasukan nya ke mulut nya menggunakan sendok yang sama
Aku kaget ko bisa sih
" Jorok " kesal ku sembari memukul tangan Pai
" Apa nya yang jorok bekas kamu ini " enteng sekali dia ngomong seperti itu
Dia menyuapiku lagi dengan sendok yang sama
" Enggak mau bekas kamu " tolak ku
" Kenapa jijik " tanya nya aku hanya memandangnya sinis
" Ayo buka, kalau nggak mau ciuman lewat sendok aku bisa kasih langsung " gertak nya
" Apaan sih " kesal ku
__ADS_1
" Makan nya buka aaaaa. " Pinta nya
Aku sudah kehabisan sabar ku hingga aku hanya menurut kami makan satu piring dengan sendok yang sama tak ada lagi perdebatan sampai makanan habis dan aku pamit untuk tidur karna esok harus sekolah