
Aku hanya menurut, dan kurasa ntah mengapa rasanya nyaman
" Tidurlah ku tau kamu lelah dengan semua kejadian yang baru kamu alami " ucapnya lembut seraya mengusap rambutku
" Pai boleh aku berharap " tanyaku sebelum benar-benar aku tertidur nanti
" Katakan " ucapnya, namun pandangannya melihat wajah ku yang sedikit terhalang rambut ku
" Aku ingin berharap padamu dan menjadikan mu sandaran untuk ku kala lelah atau senang ku " ucapku
" He'mh, tentu dan ku harap tetaplah begitu " ucapnya
Aku pun tak bertanya lagi, dan memilih memejamkan mata ntah ripa'i juga ikut memejamkan mata atau tida
Jika bisa aku ingin ripa'i menjadi yang terakhir dalam hidupku, namun semua tak selalu sejalan karna ada takdir yang menentukan
Sungguh di usia ini aku hanya ingin bahagia semana mestinya, tak harus merasa kecewa lagi dalam bentuk apapun, aku juga berharap aku bisa melanjutkan pendidikan ku
Aku ingin perjalanan ku tak sia-sia, ilmu dan pengetahuan yang selama ini aku pelajari aku ingin menjadikan itu sebagai jaminan
Walau harus berusaha lebih keras lagi aku tak apa, aku juga cukup sadar diri di kondisi keluarga ku yang seperti ini hanya ilmu yang dapat ku jadikan jaminan untuk bisa lebih maju lagi, tak apa jika harus masuk universitas dengan beasiswa justru itu akan menjadi kebanggaan bagiku, karna itu artinya tak sia-sia ilmu yang ku peroleh selama ini
Aku ingin tau sampai dimana kemampuan ku untuk bisa mewujudkan semuanya, semua mimpiku untuk kedua orang tua ku bahkan jika bisa aku juga ingin menopang hidup adik-adik ku agar jauh lebih baik lagi dengan pendidikan yang lebih baik
Sampai aku menemukan titik dimana aku akan merasa puas atau lelah dan menyerah, ku harap ripa'i juga akan selalu ada di samping ku walau ku tau tak mungkin karna jarak yang memisahkan, namun cukup hanya ada komunikasi yang baik dan saling percaya itu sudah cukup bagi ku
Ntah sudah berapa lama aku tertidur hingga ripa'i membangunkan ku
" Rinjani kita harus turun " ucapnya sembari menepuk pipiku pelan, mungkin aku cukup pulas karna semalam tak beristirahat dengan baik
" Mmmhhhh, sudah sampai ya " tanyaku sambil mencoba membuka mata yang terasa berat
Ripa'i tertawa kecil membuat ku sedikit curiga, apa ada sesuatu di wajah ku
" Maaf membangunkan mu, masih sangat mengantuk ya " ucapnya, aku mengangguk
Kami pun turun dari bus
" Kita naik mobil lagi apa mau naik ojek saja " tanya yanah
" Mobil saja ojek terlalu jauh, kita naik ojek nya nanti saja kalau sudah agak dekat dengan tempat kalian " ucapan ripa'i membuat ku menyadarkan diri sepenuhnya dari kantukku
" Apa kamu tak pulang ke tempat kakak mu " tanya ku
" Nanti setelah mengantar kalian " ucapnya
Angkot datang cukup padat, hingga ripa'i tak duduk dia hanya berdiri di dekat pintu sambil sesekali melihat ku
Sedang aku dan yanah berdesak-desakan duduk di dalam
Mobil melaju cukup kencang aku khawatir dengan ripa'i yang hanya di pintu
Satu persatu penumpang turun, dan angkot mulai longgar ripa'i pun kini sudah duduk saling berhadapan dengan ku bukan di sampingku, sedang kanan kiri ku ada yanah dan penumpang lain mungkin seusia dengan kami
Sesekali ripa'i tersenyum kala angkot berhenti menurunkan penumpangnya karna saat itu angkot akan di rem secara mendadak dan terus terulang seperti itu aku sudah mulai kesal
Ripa'i memegang tangan ku, aku melihat ke arah Yanah dia hanya tersenyum sedang ke arah kiri ku dia hanya datar
Sesekali aku memergoki wanita di sebelah ku sedang menatap ripa'i namun ketika ripa'i melihat ke arahnya dia memalingkan mukanya hingga ripa'i mengeluarkan suara
" Gadis di depan saya ini kekasih saya, ah tidak dia calon tunangan saya " ucapnya aku hanya tersenyum ku tau ripa'i hanya berusaha menghentikan wanita itu agar tak mencuri Padang lagi padanya
Aku malah iseng menimpalinya
" Ah, bukan dia calon suami saya, dia suka bercanda maaf ya " ucap ku sambil menahan tawa
Sedang yanah sudah dari tadi ia tertawa kecil jika sedang tidak di mobil mungkin tawanya sudah lepas
Ripa'i tersenyum menunjukan gigi ratanya seraya menggelengkan kepala, mungkin dia tak menyangka aku bisa jail juga
Sedang wanita tadi malah terlihat kesal dan berpindah duduknya, mungkin kalu sudah dekat dia akan memilih turun
__ADS_1
Sampai kami turun ripa'i terus menggenggam tangan ku, ia tak peduli banyak mata yang melihat, sebenarnya aku agak risih
Aku melepaskan genggamannya saat sudah benar-benar turun dari angkot itu
" Kau, maaf aku tak bisa mengantar mu sampai rumah mu, nanti di kiranya aku calon mantu mereka yang kau bawa dari kota " canda ripa'i pada yanah
" CK, tak perlu terimakasih lagian bapak ku sudah jemput, tuh disana " ucap yanah sembari menunjuk ke arah bapaknya
Motor bapak yanah melaju menghampiri kami
Begitu motor sudah berhenti di depan kami, aku menyalami bapak yanah begitu juga ripa'i
" Rinjani pulang sama siapa ?" Tanya bapak yanah yang memang tentunya sudah tau aku bahkan dia percaya anak semata wayangnya ikut PKL dengan ku
" Rinjani naik ojek pak " jawab ku
" Sendiri, apa tak apa-apa " ucapnya lagi, mungkin khawatir
" Rinjani bareng saya om " ripa'i menengahi kami
" Om, panggil bapak saja lebih enak di denger, kamu temen mereka juga, " mungkin bapak yanah tak nyaman dengan sebutan om
" Iya saya teman mereka juga, " jawab ripa'i sopan
" Ya sudah kalu gitu kami duluan ya Jani dan kamu " ucap bapak yanah yang memang belum tau nama ripa'i, aku tersenyum
" Ripa'i pak " ucap yanah
" Ya udah Jani ka ripa'i aku duluan ya, sampai bertemu di sekolah " ucap yanah sembari memakai helem
Motor yang di kendarai bapak yanah sudah melaju menuju tempatnya
" Kita naik ojek " ajak ku pada ripa'i
" nggak, aku sudah meminta teman ku membawakan motor ku " jawabnya
Aku heran kapan dia menghubungi temannya
" Ntah dia bilang bentar lagi " jawabnya sembari celingukan
Aku melihat bangku panjang yang terbuat dari bambu yang di rakit, aku susuk saja di sana
" Pai aku naik ojek saja " karna sudah tak sabar ingin segera pulang bertemu keluarga
" Sebentar, bentar lagi dia datang orangnya sudah di daerah sini katanya " cegah Pai
Tak lama ponsel ripa'i berbunyi mungkin dari temannya
Pai mengangkat panggilan, tak lama setelah panggilan berakhir datang dua orang dengan dua motor pula
" Lama amat " datar Pai pada temannya
" Maaf tadi nyari orang dulu yang mau ikut nganterin " jawabnya
" Hai, pasti Rinjani ya " sapa salah satu dari teman mereka
" He'mh " singkatku, karna sudah merasa kesal
" Maaf ya lama " ucapnya lagi
Aku tersenyum, sebenarnya memaksakan
" Tida apa, lagian maaf sudah merepotkan, tadinya aku mau naik ojek saja " ucapku, laki-laki itu tersenyum pada ku
" Sudah ayo pulang " Pai menengahi kami seraya memakaikan helem di kepala ku
" Aku duluan " ucapku saat sudah di atas motor ripa'i
" Duluan " ucap ripa'i pula pada temannya mungkin, dua orang itu mengangguk dan mereka pun menaiki motor
Lama di perjalanan mungkin satu jam setengah dari tempat ojek tadi ke rumah ku
__ADS_1
" Assallamuallaikum " salam ku pada orang rumah
Ya saat ini kami sudah sampai di rumah ku, ku pandangi sebentar depan rumah ku yang sedikit berserakan peralatan kakak ku
" Wa'allaikum sallam " jawab orang dalam rumah seraya berlari kecil ke luar rumah
Aku yakin itu adik ku ntah yang man, mungkin Indri, saat ini aku sedang duduk sembari melepas sepatu ku ripa'i juga ikut duduk
" Teteh " suara nyaring Iin
Aku memejamkan mata mendengar suara nyaringnya, tak lama Fitri, sandi dan yang lain juga ikut keluar kecuali bapak mungkin belum pulang
" Bu " suaraku sembari menyalami tangan ibu begitu pun ripa'i
" Baru pulang apa sudah dari tadi " tanya ibu
" Baru Bu, ini baru lepas sepatu " jawab ku
" Fit ambilkan minum untuk tth mu dan temannya " titah ibu pada Fitri, yang disuruh langsung meluncur
Aku mengajak ripa'i masuk di suruh ibu, ibu menggelar tikar di pertengahan rumah tempat biasa keluarga berkumpul jika sedang ada di rumah
Aku menyuruh ripa'i duduk lebih dulu sedang aku kekamar guna menyimpan tas yang berisi berkas penting laporan magang
Setelah kembali dari kamar aku melihat semua anggota termasuk Kakak ku sudah di sana dia sedang mengobrol dengan ripa'i juga ibu, ini pertama kalinya ripa'i mengobrol dengan ibu
Melihat ripa'i sedang mengobrol aku memilih bergabung dengan adik-adikku
" Ka mana oleh-oleh nya " celetuk Fitri
Para ponakan ku juga sudah menunggu
" Ambilkan dulu tas besar kak " pinta ku
Sandi dan Fitri yang berantusias mengambil tas, sungguh aku sangat bahagia melihat keceriaan mereka ini yang aku rindukan
Sandi dan Fitri kembali
" Ini teh " sandi memberikan tasnya pada ku
Aku membagi hadiah-hadiah kecil satu persatu tak ada yang tertinggal semua berterima kasih, aku mendekati kakak ku
" Ini untuk Abang " aku membelikan Abang ku jam tangan tak mahal namun tulus berharap Abang ku akan suka
" Abang juga kebagian " candanya
Abang mengambil jam tangannya, sedang ibu aku tak tau mau belikan apa, jadi ku belikan baju saja namun rasa senang nya sungguh membuat ku ingin cepat-cepat bisa bekerja
" Makasih " ucap ibu dan Abang ku
" He'mh, Jani mandi dulu ya, Pai aku mandi dulu " pamitku
Selesai mandi aku mengajak ripa'i Untu makan, dan ibu pun sudah menyiapkan makanannya
" Makan yang kenyang, maaf hanya seadanya " ucap ibuku, aku tersenyum
" Bu tau tida, Rinjani sangat ingin makan masakan di rumah ketika Jani jauh " ucapku, air mata ku menetes begitu saja, sungguh aku sangat merindukan ibuku jika saja aku seperti anak remaja yang lain mungkin saat ini aku sedang menangis sambil memeluk ibu ku
Ku lihat ibu tersenyum
" Kali begitu makanlah yang banyak, ada sayur kangkung kesukaan mu " ucap ibu,aku mengangguk
" Jadi ini sayur kesukaan Rinjani " Pai menengahi
" Iya " jawab ibu singkat
" Kalu begitu ibu ke kamar " pamit ibuku
Aku menyendokkan nasi ke piring ripa'i, tadinya hanya di piring ku namun ripa'i memintaku menyendokkan ya juga
" Sayurnya juga dong, masa mau kamu habiskan semua "
__ADS_1