Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 90


__ADS_3

Aku juga tak mau terus egois dengan terus menginginkan Rinjani saat aku tak bisa memberi kebahagiaan kepadanya.


Aku yakin dia juga punya rasa lelah, sebisa mungkin aku selalu ingin mengobati rasa lelahnya, menjadi sandarannya dan kekuatannya kala rapuh seperti Tadi malam.


Kalian pasti bertanya, apakah mungkin aku tak tergoda dengan Rinjani? Di tambah dia kekasih ku.


He'mh! Tentu saja aku tergoda, namun cinta dan sayang ku lebih besar dari pada nafsuku. Dan lagi! Aku seorang lelaki, laki-laki yang baik tidak akan pernah menyentuh wanita yang belum menjadi halalnya, ya walau aku tau dengan mencium dan memeluknya itu juga sudah suatu kesalahan, namun mau bagaiman, aku juga hanya manusia biasa.


Asal tidak melakukan yang benar-benar fatal aku rasa itu tak apa.


Kadang iman ku juga goyah, kala bibir manis nya sedang tersenyum. Bibir tipis, mungil yang terlihat menggoda itu, wajah cantik walau tanpa polesan, bentuk tubuh yang ramping namun berbodi, siapa yang tak tergiur oleh itu, dan aku selalu berhasil melawan itu semua. Karena aku pikir semua itu semu, sedikit saja aku berbuat lebih padanya bukan tidak mungkin dia bisa membunuhku.


Aku sampai di rumah besar Wilson. Suasana di rumah seperti biasanya sepi! Hanya ada para meid yang mengisi rumah, membosankan berada di negara ini padahal ini negara kelahiran ku.


Aku langsung menuju kamar ku, merebahkan tubuhku yang terasa lelah mungkin karena terjaga sepanjang malam, memejamkan mata hanya sekejap, entah Rinjani benar-benar terjaga hingga pagi atu tida, namun saat aku membuka mata dia sedang berusaha melepaskan genggaman ku. Ah!


Aku teringat kembali pada Rinjani, tersenyum saat kembali mengingat wajah cantik itu. Aku tau banyak wanita cantik bahkan menurut teman ku yang sudah tau Rinjani kecantikan mereka melebihi Rinjani, namun aku hanya bisa melihat rinjani lah segalanya.


Ponsel ku terus berdering, bahkan saat aku mengemudi! namun aku enggan mengangkat panggilan itu, karena panggilan itu dari orang yang membuat ku merasa muak walau hanya mendengar suaranya saja.


Saat panggilan berakhir, aku melakukan panggilan pada kakak ku bang herdi! Jika bukan dia yang selalu membimbing ku, mungkin aku Takan bisa sejauh ini.


Panggilanku tersambung dan langsung mendapat jawaban.


" Rinjani ada di sini! " ucapku langsung saat bang herdi mengangkat panggilan.


" Apa terjadi sesuatu padanya? " Tanya bang herdi, suaranya terdengar datar.


" Tida! Namun aku takut jika terjadi sesuatu padanya " jawabku


" Akan aku pastikan dia akan baik-baik saja " ucap bang herdi di sebrang telpon.


" He'mh, kapan semuanya akan selesai? " Tanyaku pada bang herdi, ku dengar helaan nafas panjang dari bang herdi.


" Berhentilah jika memang sudah tak sanggup, biar aku yang melakukannya " jawab bang herdi, jujur aku memang sudah ingin menyerah, namun mengingat pengorbanan bang herdi sejauh ini mana mungkin aku membiarkan itu sia-sia.


" Tidak! Pasti bisa ku selesaikan " ucapku, akupun mematikan panggilan itu aku juga yakin aku bisa menyelesaikan ini semua.


Selesai dengan semua panggilan ku, akupun memilih untuk tidur.


***


Rinjani vov


Aku terbangun! Ternyata hari sudah sore, aku membersihkan badan ku kemudian keluar kamar setelah melaksanakan kewajiban ku sebagai umat Islam.


Aku mengedarkan pandangan mencari siapa saja yang ada di rumah ini namun tak menemukan mereka.

__ADS_1


" Kenapa sepi! " Gumam ku.


Aku duduk di bangku yang terdapat di ruang tv, aku menyalakan tv sekedar untuk mengisi kesunyian yang ada.


Tak lama ku dengar suara gadis kecil bersuara.


" Bibi sudah bangun! " Sambil ikut duduk di samping ku.


" He'mh, kemana mamah dan papah mu? " Tanyaku.


" Mereka sedang bekerja! " Jawabnya, pandangannya terus ke arah tv.


Ku lihat dia menyukai film yang ku putar, dengan seriusnya dia melihat layar tv yang ada di depan kami, aku tersenyum sedikit muncul ide jail di kepalaku.


Ku ambil remote tv dan ku matikan TV yang sedang di lihat Shin. Dia menatap ku datar namun tak bersuara.


Ku berikan remote tv yang ku ambil tadi, dan dia menghidupkannya kembali.


" Kau suka film nya? " Tanyaku dan dia mengangguk tanpa menoleh.


" Apa yang membuatmu menyukai film itu? " Tanyaku lagi, dia hanya menjawab singkat.


" Tidak ada! " Pandangannya tetap pada tv di depan kami, merasa sedikit di acuhkan akupun hanya diam.


Ku dengar langkah seseorang mendekat.


" Kau merajuk hanya pada seorang anak kecil " suara anta, dia tersenyum mengejek padaku.


" Sungguh? " Ucapnya seolah tak percaya dengan jawabku.


Aku hanya diam.


" Apa langkahmu selanjutnya? " Dia bersuara kembali, kali ini aku meliriknya.


" Aku tidak tau! " Jawabku lemah.


" Apa kau tidak merasa lelah? " Tanyanya padaku, aku tersenyum miris. Ya mungkin saat ini aku merasa lelah.


" Genggam lah tanganku, percayakan semuanya padaku, berhentilah sampai di sini! " Ucapnya, aku tak merasa marah atau kesal mendengar ucapan anta.


" Kenapa? Apa kau tidak bisa melepasnya! Baiklah, mari berjuang bersama " ucapnya kembali, aku hanya bisa tersenyum.


" Paman! Bibi Takan pernah menyerah, bibi jagoan ku dia pasti akan berhasil, apa lagi ada papah ku yang hebat bukan begitu bibi? " Ucap gadis kecil yang ada di sebelahku, kemudian dia memelukku.


" Bibi jangan khawatir, aku juga akan membantu bibi " ucapnya mencoba menghiburku.


" Caranya? " Ucapku mencoba menanggapinya.

__ADS_1


" Berdoa! Aku akan berdoa untuk bibi " ucapnya sembari tersenyum lepas.


Aku sedikit menghilangkan rasa kalut di kepalaku, bercanda dengan Shin Hye. Mendengar tawanya membuat ku senang, anta hanya memperhatikan kami.


Canda kami terhenti kala seorang wanita masuk tanpa permisi ke rumah Yun.


Anta tersenyum mencibir kala melihat wanita yang masuk itu.


" Bibi siapa? " Tanya Shin Hye dengan bahas cina pada wanita itu.


" Apa yang mengundang anda datang kemari nona? " Datarku bertanya.


Wanita itu tersenyum, senyumnya terlihat licik.


Tanpa di persilahkan dia duduk di hadapan kami, tepatnya di hadapan ku.


Anta menyuruh Shin Hye untuk masuk ke kamarnya dan dia mendekat tepat ke samping ku.


" Katakan nona, ada perlu apa anda datang kemari? " Tanya anta pada glenca.


Ya wanita di hadapan kami saat ini tak lain adalah glenca, wanita yang saat ini berstatus tunangan ripa'i.


" Saya tidak suka basa-basi! Saya harap kedatangan anda kemari bukan bertujuan merebut Wiliam dari saya! " Ucapnya tanpa keraguan.


Anta tersenyum dan membalas ucapan glenca sedang aku hanya datar memandangi gadis itu.


" Maksud anda nona, gadis di samping saya ini adalah tunangan saya, jadi! Mana mungkin dia mau merebut siapa tadi yang anda maksud, ah, ya Wiliam. Itu tidak mungkin " balas anta berucap.


Ku lihat raut wajah lega dari glenca, mungkin dia bisa sedikit merasa tenang dengan status palsu yang anta jelaskan tadi.


" Saya harap begitu tuan, dan jika benar nona Rinjani ini tunangan anda! Saya harap anda bisa menjaganya " ucap glenca.


Wanita itu berdiri dari duduknya, dan tanpa permisi dia pergi begitu saja.


Aku tak habis pikir, gadis yang terlihat berkelas itu seperti tak mengenal tata Krama dan sopan santun.


Setelah kepergian wanita itu, anta kembali ke kamarnya sedang aku memilih untuk duduk di teras rumah.


Ku pandangi bunga-bunga cantik yang ada di depan ku, sangat cantik.


Lagi dan lagi, pikiran ku terus berpikir jauh.


Haruskah aku berhenti di sini atau tetap berjuang.


Jika berhenti di sini. Bagaimana dengan perjuangan kami selama ini haruskah semua itu berakhir sia-sia.


Tanpa aku sadari air mataku menetes kembali, namun perlahan. Sesekali ku seka air mata itu. Sungguh menangis dalam hatiku namun tak mampu bersuara.

__ADS_1


' ibu! Rasanya aku lelah! jika boleh memilih, Jani ingin seperti para sahabat Jani. Menjalin kasih dengan santainya, menyenangkan rasanya jika Jani bisa seperti itu ' pikirku.


Air mataku kembali menetes kala mengingat betapa sulitnya jalan yang aku tempuh. Menyedihkannya hariku, yang selalu di penuhi dengan lika-liku yang menyedihkan.


__ADS_2