
Aku tak ingin bersuara lagi karena percuma aku menerangkan pada ibunya rindi, intinya dia hanya ingin anaknya dan dia bisa bekerja. Mungkin untuk saat ini aku mengalah saja, nanti pelan-pelan akan aku coba menjelaskan kembali apalagi jika mereka melihat bagaimana teman yang kumiliki dan yang mereka miliki karena ilmu.
Lama kami hanya diam hingga kakak ku bersuara.
" Jani Abang haus boleh kita menepi dulu? " Tanyanya padaku
" Tentu! Nanti Jani akan menepi jika melihat warung atau minimarket " jawabku
Perjalanan kerumah mungkin membutuhkan waktu setengah jam lagi, namun rasanya aku ingin hanya beberapa menit saja sudah sampai di rumah.
Ku lihat ada sebuah minimarket, akupun menepikan mobilku disana.
" Abang mau jani belikan apa selain minum? " Tanyaku
" Terserah, namun abang ingin roti selai " jawabnya, aku pun tersenyum menanggapi ucapannya, aku beralih pada orang di bangku penumpang.
" Mau ikut turun dengan ku? " Tanyaku pada rindi dan dia mengangguk antusias membuat ku teringat pada adik bungsuku Indri.
Aku dan rindi turun dari mobil dan berjalan masuk ke minimarket itu, aku mengambil air mineral terlebih dahulu dan membayarnya kemudian memberikannya pada Abang ku, sedang rotinya belum.
Aku masuk kembali kedalam minimarket itu dan menyuruh rindi mengambil apa yang dia mau tak lupa juga untuk ibunya.
Camilan yang rindi ambil hanya dua sedang untuk sang ibu dia memilih mengambilkan roti.
" Sudah hanya itu, apa tak ada lagi yang kamu mau? " Tanyaku saat di meja kasir karena aku lebih dulu selesai.
" Boleh minta eskrim? " Tanyanya
" Hanya itu? " Tanyaku balik, dan mendapat senyum yang mirip senyum Indri jika sedang ada maunya, namun ku mengiyakan apa yang dia mau.
Rindi kembali mengambil apa yang dia inginkan, sedang ku hanya menunggu di kasir sambil memainkan ponselku.
Kasir minimarket bertanya padaku apakah rindi adikku, tak mau banyak bicara aku jawab saja " ia " dan tak ada pertanyaaan lagi.
Tak lama rindi kembali, kali ini belanjaannya lumayan banyak, bahkan dia juga mengambil peralatan mandi dan itu membuat ku tersenyum padanya yang dia balas dengan tersenyum lebar menunjukan deretan giginya.
Tak mau berlama-lama aku pun segera membayar semua belanjaan, lumayan sedikit mengurangi kantong ku namun tak mengurangi ATM Ku.
Kami kembali, aku memberikan apa yang tadi diminta kakak ku dan dia memakannya.
Setelahnya aku meneguk minuman yang tadi ku beli hanya air mineral, namun berbeda dengan rindi, dia lebih memilih air yang berwarna.
__ADS_1
Mobil berjalan kembali, dan semuanya terdengar hening.
Kurang dari setengah jam kami sampai di kediaman ibuku, aku di minta ibu membawa kakak ku ke rumah ibu, toh rumah kakak ku juga tak jauh dari rumah ibu.
Turun dari mobil kakak ku di sambut oleh Isak tangis sang istri juga anaknya, ibuku hanya mengamati di belakangnya, detik berikutnya mereka semua hanya diam kal rindi dan ibunya turun.
" Jani ini siapa? " Tanya Caca yang juga ada di situ
" Ini rindi dan ibunya, dia akan ikut aku ke kota untuk bekerja di sana " jelasku
" Kenapa nggak di pabrik saja, kan masih butuh karyawan " ucap Caca
" Nggak, dia akan ikut aku ke kota untuk mengurus kedua adikku " jawabku halus
Kami masuk kedalam rumah yang ternyata sudah di penuhi para sanak sodara juga tetangga yang ingin melihat keadaan kakak ku.
" Asiah sudah pulang? " Tanyaku pada Caca
" Sudah di Anter dokter ganteng itu " jawabnya
" Kenapa, kau naksir dia? Ingat kau sudah punya pacar " ucapku sambil berlalu masuk kedalam kamar ku, sedang rindu dan ibunya ibuku yang mengurus, toh aku sudah menjelaskan pada ibu siapa mereka.
" Kenapa? Kamu bolang dia cinta terakhirmu " ejek ku
" Dia selingkuh dariku " kesalnya menjawab
" Yaelah!! Masa cewe secantik ini masih di selingkuhi juga " candaku
" Apa si Jani yah, bisanya cuma ngeledek ya " kesalnya
" Ya udah maaf, aku mau mandi dulu, kamu disini aja nggak usah kemana-mana " ucapku pada Caca, karena aku masih ingin berbicara padanya, sekalian aku juga ingin memberi tahu kalu aku dan ripa'i akan menikah dalam waktu dekat semoga aja dia nggak jantungan.
Di dalam kamar mandi yang alakadarnya, aku sedikit termenung, bagaimana nanti kehidupan ku setelah menikah? Masihkah aku di perbolehkan seperti sekarang ini?, Bagaiman jika nanti ripa'i membatasi kebebasanku. Jika masalah keluarga, aku yakin ripa'i takkan melarang ku dalam hal apapun itu, asal untuk keluarga. Namun aku takut jika ripa'i memintaku untuk meninggalkan apa yang sudah aku perjuangkan, mungkinkah akan seperti itu?.
Lama aku memikirkan itu seraya terus mengguyur tubuhku dengan air, merasa sudah cukup dengan ritual mandi ku, akupun kembali kekamar dengan sudah mengenakan pakaian. Caca melirikku, dia tersenyum membuat ku sedikit heran.
" Kenapa? Apa ada yang salah denganku? " Tanyaku
" Tidak, aku baru menyadari kenapa dari dulu kau banyak di kejar laki-laki " jawabnya
" Kamu pikir, masa aku di kejar para wanita kan aneh " candaku, ku tau maksud Caca bukan seperti itu.
__ADS_1
" Terserah! Kamu bilang mau berbicara padaku, soal apa, apa soal pernikahan? " Tanyanya dengan senyum menjengkelkan
Aku menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum aku menjawab pertanyaan Caca
" Kau sudah tau? " Tanyaku balik, dan ikut mendudukkan tubuhku di kasur milikku di mana Caca duduk sekarang
" Serius! Sama siapa? Kapan? Ko nggak kasih tau kita-kita " cerocosnnya
" Satu-satu ca, gue mau nikah sama pacar gue lah, emang Lo yang di tinggal pacar Lo ga nikah-nikah deh Lo " jawabku sembari mencandainya
" Iish,, jahat ya Lo, serius Jani! Sama ripa'i? " Tanyanya kembali
" He'mh, untuk yang kesekian kalinya ripa'i melamar ku, dan ku rasa mungkin sekarang sudah waktunya aku menerima lamaran itu " jawabku yakin
" Mmmh, seharusnya dari dulu kau tak selalu menolaknya, namun karena aku tau alasanmu menolaknya, jadi aku hanya diam, ku doakan yang terbaik buat sahabatku, salah bukan hanya gue namun semuanya " ucapnya, aku baru menyadari lama aku tak pernah berkumpul dan mengenal para sahabat ku, hanya berkomunikasi melalui telpon namun sangat jarang bertemu, dan itu membuatku tak tau jika para sahabat ku sudah jauh lebih baik sekarang, bahkan Caca pun bisa berkata bijak membuat ku tersenyum mendengarnya.
" Kau sudah memberi tahu yang lain? " Ucapnya kembali bertanya padaku, apa aku sudah memberi tau para sahabat ku.
" Belum, nanti jika bang herdi sudah datang kemari " jawabku
Ah! Bang herdi, apa mungkin kami akan mendahuluinya. Lagian aku bingung jika harus menunggunya menikah entah itu kapan, sedang yang ku tau jangan kan pacar dekat dengan seorang wanita saja dia enggan.
Dia pernah bilang padaku, jika mungkin nanti dia akan menikah, dia ingin gadis yang sipat nya sepertiku, namun keberaniannya jangan, karena dia ingin pendampingnya wanita yang manja, yang akan terus membutuhkannya.
Caca tertidur di kasurku, aku memilih bergabung dengan keluarga ku.
Saat sudah bersama mereka, ibu bertanya padaku kapan aku akan mengantar rindi dan ibunya ke kota, ku bilang sja nanti, jika pernikahan ku benar akan di laksanakan dalam waktu dekat itu berarti aku tak bisa untuk berpergian dulu, karena Kata orang di desa itu tak baik.
Hari sudah sore, para sanak sodara sudah pulang dari tadi, istri kakak ku pun sudah menyiapkan makanan dan meminta kami untuk berkumpul guna makan bersama.
Namun saat ini aku sedang bersama mas Rendi tengah membicarakan perkembangan pabrik yang baru ku rintis, apa dia bercanda, pabrik itu baru saja berjalan beberapa Minggu mana bisa langsung berkembang pesat.
Karena saat ini kami sedang berkumpul bersama jadi kurasa ini saat yang tepat untuk aku memberi tahu pada semuanya tentang niat baik ripa'i, Caca juga ada, saat bangun tidur tadi dia hendak pulang namun ibu menahannya dan memintanya agar makan bersama kami.
" Bu, pak, Abang, teteh, mas. Besok bang herdi akan kemari " ucapku
" Herdi siapa? " Tanya ibu
" Abang dari ripa'i " jawabku
" Apa niatnya datang kemari? " Tanya bapak, kakak ku hanya diam dan duduk dengan tenang
__ADS_1