
Tak selalu mendapat keberuntungan aku juga sering kali mendapat kesialan, dan lagi aku hanya seorang wanita meski sekuat apapun aku, aku masih bisa menangis bahkan seperti sekarang ini,
Selama ini aku tak pernah mengalami luka serius, karena aku juga sudah tak lagi seperti saat aku SMA dan kuliah, mungkin di saat itu aku selalu mengalami yang namanya perkelahian, namun semenjak bekerja aku tak pernah lagi terlibat dengan yang seperti itu karena aku selalu memikirkan kedua adikku yang aku ajak untuk tinggal bersama ku,
Ntah sudah berapa lama aku memejamkan mata, namun saat aku sadar aku sudah mendapati diriku di sebuah ruangan mirip rumah sakit namun ku yakin bukan, aku mengedarkan pandangan ku, ku dapati kedua adik ku di bangku panjang tengah memejamkan matanya, aku yakin aku lama terpejam
Baju yang ku kenakan sudah digantikan, ada selang infus di tangan ku, sial benda ini menancap di tangan ku, ntah kenapa aku risih dengan benda yang bernama infusan itu.
Aku hendak mendudukkan tubuhku, namun ku rasakan perih di perut ku bagian samping, aku sedikit meringis, seseorang masuk dan langsung berlari kearah ku
" Apa yang kau lakukan,?" Ucapnya "sial luka mu berdarah kembali " lanjutnya dia memencet benda yang ada di samping ku dan datanglah dua orang berseragam putih mirip dokter namun aku bukan di rumah sakit
" Lukanya berdarah kembali " ucap salah satu dari mereka, sedang aku sedang meringis menahan perih dan sakit
Mereka memeriksa kembali lukaku, dan membersihkan ulang,
" Luka anda baru beberapa jam lalu kami jahit nona jadi jangan banyak bergerak dulu karna lukanya belum kering " ucapnya dan setelahnya memberiku obat
" Minumlah ini sebagai pereda rasa nyeri dan dapat mengeringkan Luka anda dengan cepat " aku hanya mengangguk
Andi menatap ku tajam, namun aku hanya membalasnya dengan tersenyum
" Ceroboh " kata yang keluar dari mulutnya
" Aku memberi tau Rena kalau kau terluka, dan dia akan kemari besok " ucapnya,
" Kedua adikku disini " pelanku bertanya
" He'mh, mereka tak hentinya menangis saat Julian memberi tahu kabarmu pad yang lain dan adikmu mendengarnya " jelasnya padaku
" Dan gadis itu ?" Tanyaku, aku ingin memastikan gadis itu selamat
" Dia dibawa Sem berserta laki-laki itu "
" Haris ?" Tanyaku
" Begitulah mereka menyebutnya " datarnya
" Kenapa kau begitu ceroboh, tau kah kau lawan mu itu siapa ?" Lanjutnya dengan nada jengkel
" He'mh aku tau, maka dari itu aku meminta bantuan mu " ucapku enteng
" Sudahlah kau istirahat dulu, o ia, ripa'i sudah tau keadaan mu mungkin sekarang dia dalam perjalanan kemari, " jelasnya
" Dan ini di mana ?" Aku hampir lupa menanyakan diman aku sekarang
" Ini markas ku yang ada di kota ini " jawabnya
Aku heran seberapa berkuasa dia, dan yang membuatku tambah heran diriku sendiri, kenapa aku bisa berteman dengan orang-orang hebat yang tak ku ketahui, padahal awalnya mereka sederhana namun ternyata menakjubkan.
" Tth sudah sadar " pitri menghampiriku dia memelukku sembari terisak, di susul juga Indri matanya berderai dengan air mata
" Aww,," ringis ku karna pelukan Fitri tepat mengenai lukaku
Dia kaget dan tersentak, " maaf " lirihnya
__ADS_1
" Kenapa menangis ?" Datarku
" Tth nggak sadar sudah bikin kami khawatir setengah mati, jika terjadi hal buruk pada tth, jika tth kenapa-napa bagaimana kami akan menjelaskan pada ibu " ucapnya sembari terisak menahan tangis, aku selalu melarang Fitri untuk menangis karna adik-adik ku harus lebih kuat dariku
" Kau lihat gadis ceroboh banyak yang menyayangimu jadi jangan gegabah lagi " datar Andi
" Termasuk kau " asalku
" Kau sudah seperti adik bagiku, rasanya tak rela kau terluka di depan mataku, aku pikir akan kehilangan mu saat kau menutup mata, dan saat para dokter ku bilang kau kehabisan banyak darah dan persediaan kami habis karna kami jarang menggunakan markas ini,beruntung darahmu sama dengan ku jadi kau bisa tertolong " jelasnya sendu, oh betapa terharunya aku, namun mau bagaimana lagi pada dasarnya aku dingin ya ku hanya tersenyum menanggapinya
" Jadi di tubuhku mengalir darahmu " asalku, dan Andi mengangguk padahal hanya sekedar ingin menghibur
" Aku ingin istirahat " ucapku
" Berhentilah menangis " datar ku Kla aku melihat Indri masih menahan Isak nya
" Tth jahat " kesalnya dan berlari ntah Kemana
" Kejarlah dia, dan beri pengertian padanya kau pasti paham " datar ku pada Fitri dan dia mengangguk
Andi menatapku tajam, mungkin dia tak suka aku bersikap seperti itu pada adikku
Aku tertidur setelah meminum obat yang di berikan oleh dokter, ntah kenapa rasanya begitu mengantuk
***
Ripa'i vov
Aku mendengar kabar dari Andi kalau Rinjani akan melakukan penyerangan, berulang kali aku menelponnya namun tak mendapat jawaban, aku menghubungi Andi dia mengangkat
" Cukup berbahaya, bahkan aku tak pernah berurusan dengannya " jawab suara di sebrang sana
" Lalu bagaimana bisa Rinjani berurusan dengannya " kesalku
" Aku tidak tau, kau jangan khawatir orang-orang ku sudah ku kerahkan untuk membantunya termasuk aku, Takan ku biarkan gadis kecilku mengalami kesulitan " jawabnya
Aku senang Rinjani di kelilingi orang-orang hebat yang menyayanginya, namun rasa khawatir ku tak dapat ku tutupi
" Aku akan ikut membantu kirimkan lokasi kalian " datar ku
" Tidak perlu, percayakan semuanya padaku kau urus saja urusan mu aku akan mengabariku kembali " suara di sebrang sana dan langsung mematikan panggilan ku
Aku bekerja tanpa fokus hari ini, fokus ku pada Rinjani, ku serahkan semua masalah kantor pada asistenku karena pikiran ku sedang tak di kantor, aku terus uring-uringan menunggu kabar dari Andi atau Rinjani namun tak ada kabar dari mereka
Hingga sore hari pun tiba, aku memacu mobilku dengan kecepatan penuh menuju apartemen guna mengganti baju, setelah itu akau akan ke tempat organisasi Rinjani yang ada di kota xxx ku tau dia disana karena dia sempat memberi tahu ku kalau dia akan ke sana, masalah penyerangan nya di mana aku bisa tanyakan disana
Aku terus mencoba menghubungi nomor Rinjani dan setelah terus berusaha akhirnya panggilan di angkat, namun bukan Rinjani yang menjawab
Ku dengar teriakan seorang laki-laki sedang menyuruh seseorang agar berkendara lebih cepat,
" Siapa kau kenapa mengangkat panggilan ku, dimana Rinjani ?" Tanya ku berulang kali
" Ripa'i ini aku, Rinjani sedang terluka dia tak sadarkan diri datanglah ke tempat ku akan aku kirimkan lokasinya " suara di sebrang sana
Seketika aku menghentikan mobil ku mendadak, pertama kalinya aku mendengar kabar Rinjani terluka bahkan sampai tak sadarkan diri, pikiran buruk langsung menghantuiku sejenak aku terdiam,ucapan Andi terngiang jelas di telingaku
__ADS_1
" Bagaimana bisa begini bukankah kau akan menjaganya " ucapku
Aku kembali berfokus pada mobil ku, kembali berkendara dengan hati yang Tek tenang aku terus mengendarai mobil ku, beruntung aku cukup lihai dalam berkendara
" Kumohon jangan sampai terjadi hal yang buruk padamu, " gumam ku
Dalam hati ku terus saja memohon agar yang tak ku inginkan terjadi pada orang yang ku sayang untuk kedua kalinya,
Masih nampak jelas di ingatan ku kala kedua orang tua ku di bunuh secara keji di depan mata ku, dan sampai sekarang bang herdi dan aku masih mencari dalang pembunuhan kedua orang tua ku
" Rinjani aku mohon bertahanlah " sepanjang jalan aku terus saja berbicara sendiri
Ku lihat jam di pergelangan tangan ku sudah pukul 9 malam, namun aku belum sampai ke tempat tujuan ku, aku menambah kecepatan berkendara ku ntah kenapa perasaan ku tak tenang, dalam otak ku aku ingin segera melihat wajah Rinjani ku yang selalu terlihat datar namun sangat cantik bagiku
Mungkin jam 1 aku sampai di lokasi yang di berikan Andi padaku, tempat itu jauh dari keramaian dan di jaga ketat, saat aku mau masuk mobil ku tak mendapat jalan akupun terpaksa keluar dari mobil, sikap sigap di perlihatkan para penjaga luar aku yakin masih ada ketegangan
" Aku ingin masuk " datar ku
" Maaf kami tidak mengenali anda " ucap salah satu penjaga
" Aku mengenal Andi " ucapku ntah siapa nama Andi bagi mereka sehingga mereka langsung meringkus ku
" Apa yang kalian lakukan " tanyaku kesal
Salah satu mereka mengabari seseorang melalui alat penghubung yang terpasang di teling mereka
Seseorang keluar dari gerbang
" Lepaskan " datarnya, dan seketika mereka melepaskan aku
" Maaf atas sambutan tak mengenakan ini " datarnya berbicara padaku
" Dimana Rinjani " kesalku
Dia membawaku masuk, sedang mobil ku Andi menyuruh para anak buahnya memarkirkannya setelah meminta kuncinya dariku
" Kau bilang kau akan menjaganya?" Datar ku bertanya
" He'mh, aku minta maaf tak bisa menjaganya " lemah nya, aku yakin ada penyesalan darinya
" Masuklah " dia menunjukan sebuah pintu padaku, aku menatap pintu itu dan menatap kembali laki-laki seumuran kakak ku dia mengangguk seolah paham dengan tatapan ku
Aku masuk kekamar itu, hanya terbaring satu orang yang dapat ku pastikan itu Rinjani
Aku melihat wajahnya pucat, matanya terpejam, sedikit terselip keanehan di benak ku, bukankah Andi bilang Rinjani sudah baik-baik saja kenapa wajahnya nampak pucat, aku memandangi wajah itu, mendekatinya dan menggenggam tangannya
" Dingin " gumam ku, seketika aku panik dan mengguncang tubuh yang terlihat tertidur itu, perlahan tak mendapat respon, aku menepuk pipinya pelan berusaha agar dia terbangun namun tetap dia terus memejamkan matanya
Aku kembali menggenggam tangannya, dan mengedarkan pandangan ku pada seluruh tubuh yang terbungkus selimut, tak ada yang salah, aku teringat kalau Rinjani mendapat luka tusukan di bagian perut
Aku membuka selimut itu, betapa terkejutnya aku mendapati hampir seluruh baju Rinjani berlumuran darah, bahkan sprei yang jadi alasnya juga, aku keluar mencari bantuan berteriak memanggil seseorang namun nampak sepi " sial " gumam ku
Ku rogoh ponsel di saku ku aku melakukan panggilan pada nomor Andi
" Cepat kekamar Rinjani bawa dokter yang menanganinya, cepat!!!"
__ADS_1