
Aku tersenyum mendengar kata yang keluar dari mulutnya, harusnya dia hanya tau tentang belajar bukan seperti sekarang.
Melihat semangat rindi aku jadi teringat akan diriku saat seusianya, aku juga sama sepertinya, tidak punya apa-apa namun ku tak ingin patah sekolah dan melihat kepribadiannya aku yakin dia juga tak ingin berhenti sekolah.
" Mbak, nanti rindi Sama ibu bekerja di tempat mbak ya? " Tanyanya
" Kenap kau tidak mau? " Tanyaku balik
" Tidak bukan begitu, rindi mau kerja apa saja dan dimana saja selama orang yang memperkerjakan rindi orang baik " jawabnya santai
" Baguslah kalu begitu, rindi bisakah kau memanggilku tth saja, aku tidak nyaman dengan sebutan mbak " pintaku padanya, jujur aku merasa risih karena aku bukan orang Jawa, padahal aku tau itu umum buat siapa saja
" Oh tentu tth " ucapnya seraya tersenyum sangat manis
" Rindi aku mau tanya, apa kamu tak ingin melanjutkan sekolah? " Tanyaku padanya, dia termenung cukup lama hingga dia hany menganggukkan kepalanya.
" Jik aku menyekolahkan mu apa kamu mau? " Tanyaku kembali
" Tapi rindi tak mau merepotkan, tth sudah baik pada rindi dan juga ibu " jawabnya
" Bukan itu jawaban yang aku mau " ucapku
" Jawab saja nak jika kamu mau, insya Allah ank ibu tak merasa direpotkan " ucap ibu menimpali ucapan ku
Rindi menatap ku, seolah dia tak yakin dengan perkataan ku, ku balas tatapan itu dengan senyuman hangat agar dia tak merasa canggung padaku.
Ku yakin rindi anak yang cerdas di tambah keberaniannya membuat ku yakin kalu dia akan sukses kelak jika dia mau berusaha.
Benar manusia bisa sukses jika mereka berusaha, namun kebanyakan manusia hanya berusaha dan berujung kegagalan jika tak memiliki kecerdasan.
Sejatinya manusia dilahirkan degan kecerdasan namun karena suatu hal tak sepenuhnya manusia memiliki atau dapat mengasah kecerdasan itu, namun yang kulihat dari rindi sama seperti yang ku lihat dari kedua adikku, aku yakin jika mereka bersama bisa menjadi kombinasi yang tepat, namun aku juga tak ingin berharap karena aku tau rindi dan kedua adikku berbeda.
" Baiklah, kau pikirkan saja dulu nanti ku tanyakan kembali ketika sudah di kota " ucapku
Dan lagi, kenapa aku hanya menyebut tempat yang ku tinggali hanya kota tanpa menjelaskan dimana tepatnya, itu karena warga di tempat ku hanya menyebut kota pada daerah yang sudah maju atau sudah berkembang dan memang sudah modern.
Dan entah kenapa aku juga nyaman dengan hanya menyebutkan kota saja pada tempat yang aku tinggali bersama kedua adikku.
Aku pergi dari dapur kembali Ke teras rumah, ternyata Caca sudah tak ada, entah dia pulang atau kemana yang jelas hanya ada bang herdi ketika aku kembali.
" Kemana Caca? " Tanyaku pada bang herdi
" Entah, mungkin pulang " jawabnya santai, dia beralih memandang ku lekat
__ADS_1
" Kenapa? " Heran ku dengan tatapan bang herdi
" Apa kamu sudah yakin dengan keputusan yang kalian ambil " ucapnya
" Abang jangan khawatir, Jani sudah yakin kalau Jani siap menerima ripa'i " jawabku halus
" Jani juga tak mulai menyadari kalu Rinjani memang membutuhkan ripa'i di hidup Rinjani " ucapku kembali kala mendapati bang herdi hanya diam saja
" Jani, Abang harap kalian kan saling menjaga dan saling percaya, karena kamu tau bagaimana silsilah keluarga Wilson, dan Abang juga harap kamu akan tetap Menjadi penyemangat untuk ripa'i " ucapnya kembali
" Jani bukan manusia sempurna, bahkan terlalu banyak kekurangan dalam diri Jani, Jani tak tau harus bagaimana namun Jani akan mencoba untuk selalu bisa menemaninya dalam keadaan apapun " jawabku
" Dan soal menjaganya, tentu Jani yakinkan kami akan selalu saling menjaga hingga nanti " jelasku kembali dan mendapat tatapan dan senyuman hangat dari bang herdi.
Lama kami saling melempar tanya dan saling mencandai satu sama lain, hingga ibu memanggil kami untuk makan bersama dan kami makan bersama dengan tenang.
Sempat aku melirik rindi yang senyum-senyum sendiri seraya mencuri pandang pada adik laki-laki ku namun aku hanya diam.
Hingga semuanya selesai dan matahari pun berganti dengan bulan, bang herdi juga sudah pulang saat menjelang sore dia bilang akan melihat keadaan rumah yang dia tinggalkan lama namun aku yakin dia memiliki sesuatu yang belum di selesaikan itulah pikirku.
# bagaimana? # pesan yang aku dapat dari teman hati
# apanya? # balasku
# apa kau menyuruh bang herdi pulang tanpa membawa hasil? " Teman hati
# yakin? # teman hati
# apa yang kamu harapkan? # balasku
# mendapatkan dirimu # teman hati
Aku tersenyum membaca pesan dari ripa'i, akankah kami seperti ini sampai nanti namun itu bagaimana nanti saja.
# maka berjuanglah # balasku
# tentu, bukankah selama ini itu yang kita lakukan # teman hati
Sekilas aku berpikir, benar kata ripa'i, bukankah selama ini kami sama-sama berjuang
# Pai boleh aku bertanya? # balasku
# katakan # teman hati
__ADS_1
# boleh menelpon? # balasku
Tak ada balasan dari ripa'i cukup lama, ku pikir dia tak ingin ku telpon namun ternyata salah, justru dia yang menelpon ku.
Tak menunggu lama segera ku angkat karena jujur aku merindunya.
" He'mh, katakanlah, apa kau merindukan ku " katanya saat panggilan sudah tersambung
" Mmmh " singkatku, ku dengar tawa kecil dari sebrang telpon, rasanya ingin aku melihat saat dia tertawa seperti itu, nanti, bukankah nanti bukan hanya tawa dan senyumnya bahkan sehelai rambutnya pun milikku ketika dia sudah menjadi halal ku.
" Bukankah tadi ingin bertanya, katakanlah " ucapnya di sebrang telpon
" Jika nanti aku sudah berstatus istrimu, apa kasih dan sayang mu akan tetap sama " ucapku pada orang di sebrang telpon
" Apa maksudmu? Apa kau benar-benar menolak ku lagi " suara yang ku dengar sangat datar seolah ripa'i sedang tak hanya berfokus pada hubungan kami, apa dia sedang ada masalah, atau mungkin glenca menyulitkannya
" Kapan tanggal dan hari itu tiba? " Tanyanya
" Dua Minggu " jawabku, ku dengar helaan nafas tak bersahabat dari ujung telpon
" Kita menikah ketika aku sudah sampai di rumah mu " ucapnya santai, aku tak mengerti apa yang dikatakan ripa'i, apa mungkin dia akan memperlambat waktunya karena ucapan ku barusan
" Bersiap-siaplah, aku masih ada urusan jadi ku telpon kembali nanti " ucapnya langsung memberi salam dan mematikan panggilan
Setelah panggilan berakhir, aku memandangi ponselku yang tadi mengeluarkan suara ripa'i, ada sedikit perih namun entah apa maksudnya perih itu aku tak tau.
Ku tutup mataku bersamaan menarik nafas panjang dan menghembuskan ya perlahan, menit berikutnya aku mendapat panggilan kembali namun dari sahabatku Vika.
Ku angkat panggilan itu dan langsung mendapat dua kata pedas darinya.
" Dasar gila! " Begitulah yang ku dengar kemudian sambungan terputus kembali.
Aku tak mengerti apa maksud ucapannya namun tak mau terlalu memperdulikannya.
Tak lama ponselku berbunyi kembali, kali ini dari Andi, Andi! Ada apa dia menghubungiku apa ada sesuatu yang tak beres, maka ku angkat panggilan itu.
" Jadi kau tak menganggap kami ada selama ini, baiklah jika begitu " suara mbak Rena yang terdengar saat panggilan tersambung namun setelahnya terputus kembali bahkan belum sempat aku mengeluarkan suara.
Lagi panggilan masuk datang lagi, tadinya aku tak berniat mengangkat panggilan itu namun karena nama adik bungsuku yang tertera di layar ponselku maka ku angkat panggilan itu.
" Kami akan pulang, mungkin besok " ucap pitri dan setelahnya memutuskan panggilan, jika mendengar dari nada bicaranya, dia sama seperti yang lain terdengar kesal entah apa yang terjadi pada mereka, dan ada apa sebenarnya aku tak mengerti.
Ku matikan ponsel ku sengaja tak ku aktifkan agar tak menerima telpon dan kata yang tak ingin ku dengar jika itu sama saja seperti mereka.
__ADS_1
Membaringkan tubuhku di atas kasur namun tidak tertidur, membuka berkas yang akan aku bawa besok ke pabrik untuk ku berikan pada ojah sebagai orang kepercayaan ku, bukan karena itu juga namun ojah yang paling pandai bersikap dan berwawasan dalam bidang itu di banding sahabat ku yang lain, namun jangan salah, semua sahabatku memiliki peran penting di pabrik yang baru ku dirikan itu.
" Semoga kita bisa maju bersama " gumam ku