Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 122


__ADS_3

Hari ini aku melakukan aktivitas seperti hari kemarin, pergi ke pabrik guna memastikan semuanya sudah beroperasi dengan baik sebelum ku tinggalkan kembali ke kota.


Kedua adikku juga sudah pulang, mereka tak mengatakan alasan kenapa mereka pulang, hanya bilang jika mereka merindukan ibu, jujur aku sedikit tak yakin namun ku acuhkan karena bila benar pun wajar mereka tak selalu bertemu kedua orang tua kami kan.


" Jani nanti aku ijin ya " ucap ojah langsung saat berpapasan dengan ku, aku menoleh padanya


" Ijin, tumben, mu kemana emang? " Tanyaku


" Nggak ada keperluan aja, juga suami ku mengajak aku untuk main kerumah ibunya " jawabnya santai


" Oh, kapan mau ijinnya, boleh aja lagian bebas ko " ucapku padanya karena memang pabrik belum seketat itu.


" Oh, ok! Makasih " ucapnya dengan girang dan setelahnya pergi mendahuluiku.


Aku tidak bisa menjahit atau mesin apalah itu yang masih berhubungan dengan benang dan jarum karena itu bukan bidang ku jadi aku hanya memperhatikan para pekerja yang sedang sibuk dengan mesinnya masing-masing, mungkin mereka berpikir aku sedang mengawasi mereka padahal aku hanya memperhatikan dan kagum dengan kecepatan tangan mereka yang terlihat dengan lihainya menyulap bahan kain menjadi potongan pakaian yang cantik.


Tak jarang mereka memberi senyum padaku ada juga yang menyapa bagi mereka yang memang mengenalku dekat.


Puas dengan itu, aku kembali keruangan ku, membaca beberapa proposal yang akan aku berikan pada sebuah perusahaan yang akan aku temui nanti, karena saat ini aku dan Ijah masih belum bisa menemui pemilik perusahaan itu karena mereka bilang kalau bos besar mereka sibuk belum menemukan waktu luang untuk bisa di jadwalkan agar bisa kami temui.


Andai saja aku bisa menggunakan nama besar mas Rendi pasti sangat mudah untuk menemui mereka apa lagi perusahaan itu belum begitu berkembang, namun aku sadar kalau itu sama saja aku masih bergantung pada mas Rendi jika ku gunakan cara itu.


Selesai dengan semua perkiraan yang sudah ku pikirkan, aku melirik jam di tangan ku ternyata sudah pukul 4 sore, akupun memilih membereskan barang ku dan akan segera pulang, jam pulang pabrik sebenarnya pukul 5 namun aku selalu lebih dulu pulang karena masih ada yang aku urus setelah sampai rumah, melelahkan memang sudah bekerja seharian sampai rumah harus bekerja kembali namun tak apa, semua ku lakukan agar segera bisa membangunkan rumah untuk ibu dan bapak, agar aku bisa merasa bangga sudah bisa melakukan apa yang aku inginkan untuk ibu dan bapak.


Sampai di rumah ku dapati sandi yang sedang mengobrol dengan rindi entah apa yang sedang mereka bicarakan namun kulihat ada senyum di bibir manis rindi membuat ku juga ikut tersenyum.


Oh ia, mengenai adikku sandi. Dia juga ikut membantu usahaku dengan tak meninggalkan usahanya di bengkel yang dia bangun dengan tabungannya sendiri, bangganya aku padanya walau sekolahnya hanya SD namun pola pikirnya maju, bahkan aku tak berpikir kalau dia bisa sampai seperti sekarang. Lalu apa lagi yang aku khawatirkan? Tentu ada, masih ada dua asuhan yang harus ku Ayomi, yang harus ku didik dan ku tuntun agar tak salah arah, harapan ku besar pada mereka agar ikut bisa memajukan semua usaha yang sudah ku rintis. Bukan egois karena hanya memikirkan itu, namun aku ingin keadaan di desaku bisa lebih maju lagi, dengan menciptakan lapangan kerja aku berharap bisa memajukan pendidikan untuk para anak yang orang tuanya bekerja di pabrik ku, maka dari itu aku ingin semuanya maju dan kalau bisa bekerja dengan pesat agar lebih banyak lagi warga yang bisa ku pekerjakan di tempat ku.


Sampai di kamarku, aku langsung membersihkan badan ku yang sudah terasa lengket krena debu dari bahan yang ada di pabrik bercampur dengan keringatku.

__ADS_1


Segar rasanya setelah membersihkan tubuh, aku berjalan menuju dapur tepatnya meja makan karena aku merasa lapar, ku lihat ibu ada di sana sedang sibuk dengan masakannya.


" Ibu membuat SOP ayam? " Girang ku bertanya setelah mendekati ibu dan melihat apa yang sedang dimasaknya


" Iya, kakak mu sedang ingin makan SOP Jadi ibu membuatkannya " jawab ibu, ku pikir ibu membuatkan itu untukku


" Oh, tapi sisakan buat Jani ya sedikit " pintaku karena aku suka dengan SOP buatan ibu, lagi pula lama rasanya tak memakan SOP buatan ibu entah kapa kali terakhir aku memakan itu


" Iya, lagian ibu masak banyak "


Aku membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa ku makan, taukah kalian dulu aku membelikan kulkas ibu dengan uang paruh waktu saat aku kuliah, dan sampai sekarang kulkas itu masih berfungsi dengan baik karena ibu selalu merawatnya.


" Bagaiman keadaan Abang? " Tanyaku pada ibu setelah mengambil buah apel yang ada di dalam kulkas


" Sudah jauh lebih baik " jawab ibu


" Kapan cek up kembali? " Tanyaku lagi


" Kamu mau makan, ini sup nya sudah siap ibu mau mengantar ini ke tempat kakak mu " ucap ibu, aku berfikir untuk ikut bersama ibu saja dan makan di tempat Abang


" Jani mau makan di tempat Abang saja " ucapku dan menyusul ibu yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu


Di luar rumah sudah tak ada sandi dan rindi mungkin sudah masuk kamar masing-masing atau kemana aku tak tau, dan mengenai ibu rindi, dia sudah sehat bahkan ibu rindi sering membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, sempat ku cegah karena tak enak takut dia berpikir kalau aku sengaja membawanya kesini agar membantu ibu, namun dia bilang " tak apa dan jangan khawatir aku sudah sehat " begitulah ucapnya.


Ku dapati kedua keponakan ku tengah bermanja pada sang ibu sedang sang yah tengah duduk seraya menatapi mereka, aku masuk setelah mengucap salam, ku dekati mereka tepatnya mendekat pada kakak ku dan langsung mendapat senyum aneh darinya.


" Jani sudah lapar, bisakah kita makan sekarang " ucapku tak mau menanggapi senyum aneh kakak ku


" Ia, ayo kita makan dulu " ajak kakak ipar ku yang cantik nan anggun itu, terkadang aku suka merasa aneh pada kakak ipar ku, apa yang dia lihat dari kakak ku.

__ADS_1


Kami makan bersama, karena kedua keponakan ku sudah lebih akrab dengan ku maka kini aku bisa menyuapi salah satu dari mereka.


Di tengah kami makan kedua adikku datang dengan membawa dua kantong kresek yang entah berisikan apa.


Mereka ikut duduk di meja makan namun tak ikut makan hanya memandang ku sinis entah kenapa, mau bertanya namun takut mereka bertambah sinis padaku jadi aku hanya diam.


Selesai makan kami berkumpul dan mengobrol bersama hingga waktu Maghrib tiba dan kami melakukan solat Maghrib di tempat kakak ku hanya ibu yang pulang.


Selesai melaksanakan solat magrib kami kembali bercerita, namun pikiran ku pada ripa'i terakhir kali dia menghubungiku dua hari yang lalu dan sampai sekarang dia belum menghubungiku lagi.


" Jani apa ada yang mengganggu pikiranmu? " Tanya kakak ku


" Tidak ada " jawabku seraya menggelengkan kepala pelan


Kakak ipar mendekat padaku dan memberi ku sedikit nasehat yang dia bilang sekedar masukan.


" Boleh tth memberi sedikit masukan " ucap tth ipar ku lembut, ah bagaimana aku tak bertambah heran pada kakak ku yang bisa mendapatkan wanita sepertinya, ibadahnya, pengertiannya, kesabarannya, kelembutannya semuanya sungguh luar biasa di mataku dan itu pula yang membuatku selalu merasa dekat dengan mereka.


" Eemmm, katakan Jani memang membutuhkan itu " ucapku, kalu kemudian tth ipar ku tersenyum


" Kenapa? Apa Jani salah bicara? " Tanyaku merasa aneh dengan senyuman itu


" Memang Jani tau apa yang mau tth sampaikan? " Tanyanya balik dan aku berbalik senyum padanya


" Tak apa, sebelumnya tth mau tanya tentang keyakinan Jani akan pernikahan yang akan Jani jalani sebentar lagi " ucap tth ipar ku seraya menggenggam tangan ku


Aku tak menjawab hanya tersenyum getir mendengar kata yang tth ipar ku ucapkan


" Apa Jani tau arti sebuah pernikahan? " Tanyanya padaku, aku hanya menatapnya dan seolah dia paham kalu aku takampu menjawab itu.

__ADS_1


" Pernikahan Takan bisa berjalan dengan sempurna jika salah satu dari yang menjalani memiliki keraguan " jelasnya lembut


" Sedikit saja keraguan itu ada di hati Jani, maka keraguan itu akan terus bertambah sedikit demi sedikit dan itu bisa menjadi bumerang kelak di pernikahan Jani " jelasnya kembali dengan sesekali mengusap punggung tangan ku yang di pegang nya.


__ADS_2