
Sudah hampir tiga Minggu aku tak melakukan berpergian keluar kota, bahkan keluar rumah pun hanya untuk bekerja, aku juga semakin sering mengontrol kedua adikku, hampir setiap jam aku mengirim pesan pada mereka memastikan kalau mereka baik-baik saja.
Hari ini hari libur, aku hanya lesehan di rumah malas untuk melakukan aktivitas apapun, Asiah mengajakku untuk belanja sayuran aku menolak karena sungguh aku hanya ingin rebahan saja.
Jujur selama ini aku merasakan sepi di hatiku, merasakan rindu yang amat dalam pada seseorang ternyata benar aku memang sudah terikat olehnya hingga aku tak memiliki niat sedikitpun untuk membuka hati pada siapapun.
Saat sedang termenung sendiri sebuah notifikasi pesan muncul, tadinya aku malas membukanya namun takut itu penting akupun membukanya.
# tiga Minggu sudah berlalu, waktumu hanya satu Minggu lagi jika masih belum mendapat pengganti ku maka bersiaplah kembali padaku # teman hati.
Ya pesan itu dari ripa'i, namanya di ponselku belum aku ganti.
Aku memandangi pesan itu tak berniat membalasnya.
Indri masuk dalam kamar ku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia membuka laptop ku, aku hanya membiarkannya.
" Teh! Perasaan ka ripa'i sudah lama tak pernah terlihat " ucap Indri entah apa maksudnya berkata seperti itu.
" Kenapa? " Tanyaku seolah semuanya baik-baik saja.
Ya! Aku tak memberi tahu siapa pun tentang status ku dan ripa'i saat ini, menurutku tak ada gunanya juga jadi aku hanya diam saja.
" Nggak! Apa ka ripa'i tak merasa rindu pada tth " ucapnya lagi.
" Dia sedang bertugas di luar negri, lagian tumben kamu menanyakannya " jawabku sambil bertanya kembali
" Tidak, aku pikir kalian sedang break " asalnya berucap.
" Ngawur kamu " asalku pula.
Tak ada lagi percakapan antara kami, Indri asik dengan laptop ku dan aku memilih hanya rebahan saja.
***
Dia hari setelah pembicaraan itu.
Sore harinya kami berkumpul bersama ada Gibran juga yang baru datang membawakan obat Asiah.
Keadaan Asiah sudah pulih hanya tinggal menghabiskan obat terakhir dan pemeriksaan terakhir setelah itu jika dia ingin pulang aku membolehkannya.
Suara klakson mobil terdengar dari luar tanda kalau sopir mas Rendi sudah kembali, aku segera keluar.
Ku lihat para sahabat ku turun dari mobil, aku mencari satu lagi sahabat ku yang belum ada.
__ADS_1
" Pupu nggak ikut dia sedang hamil besar " celetuk ojah seolah tau aku sedang mencarinya.
" Di mana Asiah? " Tanyanya sembari melihat ke belakang ku.
" Di dalam! " Jawabku dan mereka pun masuk ke dalam tanpa aku persilahkan, aku sedikit merengut karena tak ada yang memelukku semua masuk berhamburan pada Asiah.
Ternyata Gibran di belakang ku, saat aku berbalik dia tertawa kecil.
" Ingin di peluk, sini biar aku yang meluk " ucapnya enteng.
Aku tak mempedulikannya memilih masuk untuk bergabung dengan para sahabatku.
Para sahabatku sedang asik bercerita kecuali ojah, kini dia sedang membantuku menyiapkan makanan.
" Sudah selesai? " Tanya Gibran menghampiri kami.
Aku menoleh.
" Sudah tinggal ini doang " jawabku
" Mau aku bantu menyajikannya " tawarnya
" Tidak perlu " tolak ku
Ojah yang menyajikan makanan ke atas meja aku menyelesaikan satu masakan lagi, Gibran terus memperhatikan aku, sesekali dia tersenyum padaku aku merasa aneh dengan senyuman itu.
" Kau tau " tanyaku memastikan
" Eemmm, dia juga bilang kalau dalam satu bulan kau tak mendapat penggantinya dia akan menikahi mu " ucapnya, bukannya senang mendengar ucapan Gibran aku malah kecewa.
" Kenapa? Apa kau tak mau kembali padanya? " Tanya Gibran padaku
" Entahlah! " Lemah ku menjawab
Gibran mematikan kompor dan dia meraih kedua tangan ku memegangnya erat.
" Rinjani jika di ijinkan aku juga ingin ikut memperjuangkan dan mendapat cinta mu " ucapnya, aku menatap lekat pada netra coklat yang sedang menatapku, mencari tau kebohongan dari ucapan nya.
" Aku mohon ijinkan aku masuk dalam kehidupanmu " ucapnya kembali, aku terkekeh mendengar ucapannya. Ku lepaskan tangan ku dari genggamannya dan menjawab pertanyaannya dengan lembut.
" Maaf Gibran, tapi aku sudah menerima orang lain sebagai pengganti ripa'i " ucapku.
Gibran nampak tak percaya memang kenyataannya tak ada siapapun aku hanya beralasan saja.
__ADS_1
" Sungguh! Siapa orang yang beruntung itu? " Tanyanya dengan nada tak percaya.
" Orang yang sudah lama mengenal ku dan ripa'i, bahkan dia yang lebih dulu mencintaiku sebelum ripa'i namun saat itu hati ku masih tertutup " jelasku, bahkan saat ini pun hatiku masih mencoba untuk menerimanya, aku juga tak mau terus mengecewakannya namun sungguh tak bisa.
" Baiklah, aku kan senang walau hanya menjadi temanmu saja " ucapnya dan aku mengangguk.
Dia kembali ke dalam meninggalkan aku di dapur, ada rasa tak enak saat aku mengatakan hal itu padanya namun bagaimana lagi,
Biarlah semua berjalan seperti air, walau tak tentu arah namun mereka tetap mau mengalir, dan walau berakhir di tempat kotor mereka tak menolaknya.
Semakin hari aku semakin merasa sepi, apa lagi para sahabat ku sudah pulang mereka hanya menginap semalam saja di rumah ku, dan Asiah juga ikut pulang bertambah saja rasa sepi yang ku rasa.
Hari ini hari Jum'at, anta menjemput ku pagi-pagi sekali dia tak mengatakan alasan kenapa sepagi ini dia sudah menjemput ku.
Aku di bawanya ke suatu tempat makan, mungkin miliknya atau milik siapa aku tak tau dan rumah makan itu ternyata tak jauh dari tempat kerjaku.
Aku juga baru sadar kalu tempat itu sepertinya baru, karena sebelumnya tak ada tempat makan siput di sini.
" Apa tempat ini baru di buka, setau aku tidak ada rumah makan di dekat kantor ku " ucapku pada anta, dia menoleh dan tersenyum.
" He'mh, tempat ini baru di buka dan di resmikan hari ini dan kau lah tamu pertama kami " ucapnya, aku memasang wajah heran.
" Tamu pertama kami " ucapku mengulang kalimat anta.
" He'mh, aku mendirikan rumah makan siput ini karena ku amati di sekitar sini tak ada rumah makan siput " jelasnya, aku mengangguk seolah paham, namun percayalah aku mengangguk hanya tak ingin ribet saja.
Anta memintaku memesan sesuatu namun aku menolak, ini masih pagi dan aku harus memakan siput untuk sarapan ku, begitulah pikirku.
" Nta nggak mungkin kan aku pagi-pagi sarapannya kaya gini " ucapku pada anta dan mendapat tawa ejekan darinya.
" Kami tu! Sejak kapan kamu bisa ngelucu " ucapnya seraya mengusap kepala ku pelan, saat anta melakukan itu aku teringat ripa'i, karena hanya dia yang berani mengelus kepalaku.
" Di sini aja juga makanan lainya, kamu mau apa untuk sarapan pagi ini " tanyanya padaku.
" Cukup segelas susu hangat saja " jawabku.
" Baiklah suau hangat plus roti nya ya " ucapnya aku mengangguk untuk mengiyakan.
Sambil menunggu sarapn ku datang aku bermain dengan ponsel ku, melihat kembali setiap foto yang ku ambil bersama para sahabat ku waktu mereka menginap di rumah ku.
Senyum ku mengembang kal melihat foto ojah, aku teringat kembali permintaanya dia memintaku pulang Minggu depan karena dia akan melangsungkan pernikahan Minggu depan berikut dengan resepsinya juga.
" Satu sahabat ku sudah berumah tangga, dan Minggu depan ojah juga akan menyusul, rasanya menyenangkan melihat mereka menjadi pengantin " gumam ku sembari terus memandangi setiap foto yang ada di ponselku.
__ADS_1
Tak lama sarapan ku datang namun anta entah kemana dia aku tak tau, aku memakan sarapan ku tak sampai habis hanya separo saja, karena ku lihat jaarim jam di tangan ku menunjukan sudah pukul 7 jadi aku Haris bergegas kekantor, walau mas Rendi tak pernah menegurku namun aku cukup tau diri sebagai karyawannya.
Akupun pergi dari tempat itu tanpa berpamitan pada anta, namun aku menitip pesan pada salah satu pegawai yang ada di sana.