
Ya, saat setelah aku melakukan panggilan pada Rinjani malam itu aku langsung meminta pada bang herdi untuk menjemput ku dengan jet pribadi miliknya.
Entah kenapa aku merasakan takut kalau aku tak bisa Mengucap ijab qobul dengan Rinjani, padahal aku tau waktu dua Minggu tak seberapa dibanding beberapa tahun lamanya aku menunggunya dan terus mendampinginya, namun kali ini aku merasa takut karena kali ini aku sudah menabuh genderang perang dengan keluarga glenca, dengan terangnya aku mengucapkan kalau aku akan menikahi gadis lain dan mengatakan juga kalu glenca bukan gadis yang aku inginkan selama ini, aku tak tau keputusan ku itu benar atu salah karena aku sudah tak merasa tahan lagi dengan kelakuan glenca saat terakhir kali dia membius ku dengan obat perangsang dan dia mendapat bantuan itu dari pamanku yang ternyata hanya paman palsu.
Kali ini aku mungkin selamat dari jebakan itu, dan aku tak tau berapa banyak jebakan yang sudah glenca siapkan untukku, aku takut jika aku tak bisa melawan itu, terlebih jika aku melakukan kesalahan yang tak akan pernah Rinjani maafkan aku pastikan itu, jadi aku mengambil keputusan ini, tak berpikir jika Rinjani akan menerimanya atu tidak, namun saat menemui keluarganya mereka setuju mungkin karena mereka sudah tau dan hapal akan diriku, maka mereka yakin kalau yang aku Lakukan adalah yang terbaik.
Faktanya, saat aku datang kerumah Rinjani dengan di temani bang herdi dan penghulu yang sudah ku siapkan, aku mendapat bisikan tak enak dari adik Rinjani yaitu pitri, dia lumayan dekat dengan ku walau sikapnya dingin namun dia gadis yang sangat baik.
Setelah mendapatkan bisikan tak enak itu aku langsung bertanya dimana Rinjani, dia bilang di rumah bang Dedi yang kebetulan rumahnya tak jauh dari rumah ibu bahkan berdampingan hanya terbatas tanah kosong saja.
Sampai di sana aku melihat istri bang Dedi baru keluar dari sebuah kamar dengan wajah murung, dapat ku pastikan Rinjani berada di kamar itu dan aku yakin dia tengah menungguku untuk memberikan penjelasan padanya.
Dia seakan tak mau melihat ku, mulutnya terkunci seakan tak mau bersuara, tubuhnya seakan berubah membeku tak mau bergerak walau hanya sedikit.
Betapa takutnya aku, aku takut kalau rijani akan membatalkan pernikahan kami, aku takut akan kehilangannya.
Ku coba menjelaskan padanya, sampai aku bersujud namun dia tak merespon sedikit pun, hingga aku bertanya apa dia akan membatalkan pernikahan ini dan dia bersuara, setelahnya kembali diam.
Ku dengar langkah seseorang masuk namun itu tak membuatku ingin berdiri, ku lihat bang Dedi yang masuk dan dia bersuara namun itu hanya mempu membuat Rinjani mengeluarkan air mata, entah apa yang membuatnya mengeluarkan air mata itu.
Tak lama istri dari bang Dedi masuk dengan membawa gaun pengantin yang sudah ku persiapkan, gaun yang senada dengan pakaian yang kini ku kenakan.
Dia memberikan gaun itu pada Rinjani dan berkata.
" Jika Rinjani memakai gaun itu, berarti akan melanjutkan pernikahan ini, namun jik dalam waktu lima menit jani tak keluar kamar, itu tandanya kamu harus merelakan pernikahan kalian batal " begitulah yang dia katakan pada Rinjani.
Aku dan pasangan suami istri itu menunggu Rinjani, perasaan ku sangat takut, takut Rinjani akan membatalkan pernikahan kami, jika itu terjadi aku tak tau akan seberapa hancur hatiku.
Waktu terus berjalan, hanya menyisakan dua menit terakhir dan Rinjani belum keluar dari kamar itu membuatku semakin takut. Dan ketakutan ku semakin menjadi kala di menit kelima Rinjani belum keluar kamar itu pertanda kalu Rinjani memang ingin membatalkan pernikahan kami.
Air mataku jatuh, tubuhku terasa lemas, lidah ku keluh tak bisa mengeluarkan suara, hatiku menjerit mendapati kenyataan kalau Rinjani memang tak pernah mengharapkan aku di kehidupannya.
Andai saja aku mau menunggu dua Minggu itu, andai saja rasa takut kehilangan itu tak sebesar ini, andai saja keyakinan ku tak tergoyahkan mungkin semuanya masih baik-baik saja. Sekarang apa yang bisa aku lakukan, memaksakan kehendak ku padanya itu tak mungkin karena aku sangat menghargainya. Lalu bagaimana dengan ku? Apa mungkin dia tak pernah menghargai ku, itulah yang muncul dalam pikiranku.
__ADS_1
Ku lirik jam yang melekat di tanganku, sudah terlewat satu menit dari lima menit yang di tentukan dan tak ada tanda Rinjani akan keluar mau tidak mau aku pun mencoba untuk berdiri walau terasa berat namun ku coba untuk melangkah keluar dari tempat itu.
Baru saja aku berdiri dan hendak melangkah, ku dengar suara pintu dibuka akupun segera melihat kearah pintu, ku dapati wanita cantik yang nampak anggun dengan balutan gaun pengantin yang senada dengan pakaian ku lengkap dengan semua riasannya.
Aku tersenyum tipis menyadari apa yang membuat Rinjani tidak keluar dalam waktu lima menit, ternyata dia memakai pakaian itu dan langsung merias dirinya sendiri entah dari mana riasan itu mungkin istri bang Dedi memang sudah menyiapkan semuanya.
" Maaf membuat mu menunggu lama " ucapnya saat aku tepat di hadapannya, aku tak mampu berkata hanya menggelengkan kepala, padahal kalu dia tau bahkan aku sempat menangis karena mengira dia akan membatalkan pernikahan ini, ku pastikan sampai kapanpun dia akan tersenyum mengejek padaku.
Istri bang Dedi menghampiri kami dan berkata
" Sudah, kau pergilah lebih dulu bersama Abang mu, Rinjani nanti tth yang antar, ada beberapa riasan yang harus di perbaiki " lembutnya berucap
Aku menurut pada calon tth ipar ku, dengan perasaan senang aku pergi dari tempat itu bersama bang Dedi dengan bang Dedi yang terus tersenyum padaku.
***
Rinjani vov
Saat gaun itu melekat di tubuhku, aku merasa kagum begitu cantiknya gaun yang ripa'i pilihkan untukku.
Selepas memakai gaun itu, aku melihat sebuah kotak, aku tau itu kotak rias kurasa tth ipar ku sengaja meletakkannya disana.
Aku pun mencoba merias diriku sebisa mungkin, karena aku tak pandai berdandan jadi aku tak yakin aku sudah sempurna atau tidak, tanpa aku sadari ternyata lima menit sudah terlewat dengan sesegera mungkin aku menyelesaikan riasan agar bisa keluar kamar lebih cepat namun tetap saja aku terlambat jauh dari waktu yang di tentukan, dan aku tak tau bagaimana pikiran ripa'i tentang keterlambatan aku keluar kamar.
Saat aku keluar kamar, aku lihat ripa'i sangat lesu tak bersemangat mungkin pikiran buruk sudah mengisinya, namun saat dia melihat ke arah ku senyumnya mengembang mungkin karena melihat ku mengenakan gaun yang dia berikan.
Dia berjalan kearah ku dan tersenyum sangat manis, Naum tetap saja rasa kesal ku tak akan bisa luntur begitu saja hanya karena senyuman itu.
" Maaf membuatmu menunggu lama " kata yang ku ucapkan kala ripa'i hanya memandangiku, dia tak berkata apa-apa hanya menggelengkan kepala pelan.
Tak lama kakak ku menghampiriku beserta istrinya, dan istrinya menyuruh ripa'i dan Kaka ku untuk lebih dulu ke tempat ibu sedang aku akan bersamanya menyusul setelah membenarkan riasan ku, dia bilang ada riasan yang harus di benarkan.
Tth ipar mendandani ku kembali dengan terus tersenyum padaku.
__ADS_1
" Taukah kau sudah membuat anak orang menangis " kata yang keluar dari tth ipar, aku menatapnya heran
" Sudah selesai mari, tth takut nanti dia kan menangis kembali karena berpikir kau akan membatalkan pernikahan kalian karena lama menunggu " ucapnya dengan nada menggoda
Aku berjalan dengan di gandeng oleh tth ipar ku yang tak kalah anggun dari ku.
Saat aku memasuki pekarangan rumah, kulihat para sahabat dan teman ku sudah ada disana, betapa kagetnya aku dengan keramaian yang ada, bukankah sudah ku katakan hanya sederhana tak harus banyak tamu yang datang, ku dapati Andi juga istrinya mbak Rena datang tak hanya mereka ternyata ka nay juga dan mereka sedang tersenyum hangat padaku.
Aku di tuntun oleh mereka menuju tempat dimana penghulu, ripa'i juga para keluarga sudah menunggu.
" Kau begitu cantik " ucap bang herdi padaku kala aku sudah di hadapan mereka, ripa'i menatap tajam pada bang herdi seolah tak suka dengan ucapan bang herdi
" Terima kasih " balasku
" Jani " Caca bersuara dan aku melirik padanya, matanya berair entah kenapa, aku juga melirik para sahabatku dan mendapati wajah mereka penuh haru melihatku, ingin rasanya aku berkata, kalau aku merasa tak nyaman dengan tatapan itu namun apa daya aku hanya bisa diam.
Ibu dan te nur menuntun ku untuk duduk berdampingan dengan ripa'i, aku meliriknya namun dia hanya fokus ke depan tak membalas lirikan dariku.
Kulihat bapak sudah duduk di sebelah pak penghulu seraya melihatku.
" Apa sudah bisa dimulai? " Tanya pak penghulu
" Sudah pak " jawab bapak seraya melihat kearah ku juga pada ripa'i
" Baik akan saya mulai, bapak silahkan berjabat tangan dengan calon mempelai pria " pinta pak penghulu pada bapak dan bapak menurut
Ijab qobul dimulai, dengan tenang dan lantangnya ripa'i mengucap ijab seolah tanpa rintangan sedikitpun.
Selesai dengan itu, kami melakukan sungkem pada ibu bapak juga bang herdi, tak lupa juga pada keluarga yang lain dan setelahnya, para tamu mengucapkan selamat pada ku juga pada ripa'i.
Acara berlangsung dengan tanpa hambatan, hingga seseorang datang menghampiriku juga ripa'i.
@ jangan lupa tinggalkan jejaknya biar Uthor nya semangat up date, mkasih🙏
__ADS_1