Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 88


__ADS_3

Aku dan ripa'i terjaga sepanjang malam, dia menemaniku, mendengarkan ceritaku tentangnya, menggenggam erat tangan ku kala suara ku bergetar, memberiku kenyamanan.


Kami hanya terduduk di kursi sepanjang malam, aku yang menyandarkan kepalaku di bahu ripa'i, dan dia merangkul ku, meletakan tangannya di pundak ku, tangan satunya tetep menggenggam tangan ku.


Saat waktu subuh datang, aku menatap wajahnya, ternyata dia terlelap. Mungkin lelah semalaman menemaniku dan mendengarkan ku hingga dia tertidur.


Ku pandangi wajah tenang itu, sungguh aku merasa kasihan padanya, di balik sikap tenangnya selama ini ternyata begitu banyak ketegangan, pantas dia selalu memujiku tentang semua perjalanan Yang ku lalui.


' apa mungkin kita akan bersama? Mungkinkah kau tetap akan menjadi milikku, sedang siapa aku ini? Hanya gadis yang terlalu jauh dari kata sempurna, bahkan kata baik pun bila di sisimu rasanya tak pantas untukku, maaf jika suatu hari nanti aku mengecewakan mu! ' pikiran ku yang terlalu jauh, atau terlalu takut, entahlah aku sendiri tak bisa mengerti itu.


Saat aku ingin menggerakkan tangan ku, melepaskan dari tangan ripa'i, ternyata gerakan itu membangunkan ripa'i.


Aku melihat ke wajahnya, dia tersenyum juga melihat ku, ah, salah menatapku mungkin itu yang tepat.


" Kau cantik sekali saat di pagi hari " ucapnya, dengan suara khas bangun tidur.


Aku tak berkata hanya menundukkan wajah ku saja agar ripa'i berhenti menatapku, namun ripa'i malah sengaja menggodaku dengan mengikuti setiap gerakan ku.


" Ripa'i, aku ingin menunaikan kewajiban ku! " Datar ku, karena sudah tak merasa nyaman dengan godaan ripa'i.


" Kewajiban? Kewajiban yang mana, bukankah kita belum menikah? Atau itu sebuah kode agar aku segera menghalalkan mu " ucapnya dengan senyum licik di bibirnya.


" Hentikan ripa'i! Aku ingin melaksanakan solat subuh, jadi lepaskan tangan ku " lembutku berkata, entah kenapa aku merasa kasihan dengan ucapannya barusan walau ku tau dia sedang bercanda.


Ripa'i melepaskan tangannya, akupun berdiri dari dudukku. Ah, ternyata lumayan membuat badan ku pegel duduk di bangku semalaman.


Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi, saat sampai di kamar mandi aku baru ingat kalau aku tak memiliki perlengkapan solat, akupun kembali keluar dari kamar mandi,


" Pai, aku tak membawa alat solat! " Ucapku, ripa'i menoleh,


" Bersihkan saja dirimu, saat kau keluar dari kamar mandi semua itu sudah ada di sini! " Ucapnya, aku tak membantah, akupun kembali masuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhku dan berwudhu.


Benar ucapan ripa'i, saat aku kembali ke kamar perlengkapan solat sudah ada di atas kasur, aku melirik ripa'i dan tersenyum padanya dan dia membalas senyumku.


Hanya sekilas, karena aku tak ingin menunda waktu.


Saat aku memakai perlengkapan solat, ripa'i masuk ke kamar mandi, mungkin ingin membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit setelahnya, aku selesai dengan ritual solat ku, tak lupa aku berdoa untuk kedua orang tua ku, juga segala urusan ku, termasuk ripa'i.


Aku mengedarkan pandanganku, mencari sosok ripa'i, ternyata dia sudah rapih dengan perlengkapan solat nya.

__ADS_1


Kalau dulu aku bilang dia sangat tampan saat menggunakan perlengkapan solat, padahal hanya dalam panggilan Vidio. Kali ini aku melihatnya secara langsung, sungguh memang benar-benar tampan.


" Sudah selesai " ucapnya, aku mengangguk.


" Kalau begitu, bisa ku pinjam sajadahnya? " Ucapnya lagi, aku tersenyum dan mengangguk kembali.


Ripa'i menjalankan ritual solat nya. menunggu sampai ripa'i selesai, aku membuka ponselku. Ku lihat ada pesan masuk beberapa mungkin dari semalam yang belum sempat ku buka.


Aku membuka icon pesan dalam ponsel ku, terdapat banyak pesan dari orang-orang terdekat ku, juga dari keluargaku.


# Jani, kapan pulang? Abang kangen, rasanya lama sekali tak melihatmu # Abang ku.


# tth, Indri ijin pergi sama teman-teman Indri ya? # si bungsu


# Jani apa kabar? # haris


# apa tth baik-baik saja, jika di perlukan aku akan menyusul # Fitri


# tth mu mau pulang menemui ibu, apa kamu sudah pulang? # mas Rendi


# bagai mana, semua baik-baik saja? # Andi


# Asiah memintaku untuk mengantarnya pulang # Gibran


Dan masih banyak lagi, namun aku langsung membaca pada pesan terakhir.


# pastikan ripa'i pergi sebelum matahari terbit # anta.


Aku sedikit tak suka membaca pesan dari anta, namun aku tau itu demi kebaikan ku juga ripa'i, dan demi misi yang sedang kami selidiki.


# he'mh, akan aku pastikan itu # pesan ku terkirim pada anta.


Aku melirik ripa'i, dia sedang mengangkat kedua tangannya, mungkin sedang meminta sesuatu atu sedang berdoa aku tak tau.


Saat sudah selesai dia duduk di sampingku,


" Ada apa? " Lembutnya bertanya.


" Biarkan aku menatap wajahmu kali ini " ucapku.


" Lakukanlah, selama yang kamu mau bahkan jika seumur hidup pun aku bersedia " jawabnya.

__ADS_1


" Tidak hanya kali ini " ucapku, dan akupun mengamati setiap inci wajah ripa'i, tak ada yang terlewat, ku rasakan tak rela di hatiku kala aku menyadari siapa lawan ku kali ini.


Aku berhenti menatap ripa'i, rasanya aku lemah saat ini.


" Katakan ada apa? " Lembutnya seraya memegang pundak ku


" Tidak ada, hanya saja keyakinan ku kecil kali ini! " Jawabku tanpa mau bertemu tatap dengan ripa'i.


" Kenapa? " Tanyanya lagi,


Aku tersenyum samar dan menarik nafas panjang, " apa kali ini kau tak mau menungguku, sebentar saja " ucapnya kembali, aku masih diam.


" Aku mohon, sedikit lagi, aku tak mau berjanji kali ini, namun aku pastikan semua akan baik-baik saja " lagi kata-katanya keluar untuk meyakinkan hatiku.


Aku menatapnya sekilas,


" Aku tau hatimu ripa'i, tapi kamu juga tau siapa yang menjadi lawan ku kali ini, apa aku harus memaksakan semuanya, aku takut itu berdampak pada keluarga yang selama ini ku perjuangkan dan ku lindungi " ucapku datar, tak mau ripa'i melihat betapa rapuh dan sedihnya aku saat ini.


" Apa yang kamu tau tentangnya? " Tanyanya padaku.


" Eemmm, aku tau siapa dia, aku juga tau kekuasaan yang dia miliki melalui orang tuanya, bahkan koneksi yang dia miliki sungguh membuat ku sedikit gelisah " jelasku.


" Sudahlah, aku akan berusaha walau aku tak tau apa akhirnya nanti, dan maaf jika aku selalu membuat mu kecewa lagi dan lagi, aku akan berusaha meyakinkan hatiku, kau tau aku tak selemah itu " ucapku kembali, tak ingin membuat ripa'i merasa kemah juga karena ucapan ku.


Ripa'i tersenyum, dan mengecup bibirku lama, hanya sekedar bersentuhan menyalurkan kasih sayang dan cinta yang tiada batas. Aku memeluknya saat dia melepaskan kecupannya.


" Kau harus pergi sekarang, jangan sampai mereka menyadari aku disini untukmu " ucapku, setelah melepas pelukan ku.


" He'mh, aku pergi, tetap waspada, dan jangan terlalu dekat dengan anta " ucapnya, dia kembali mengecup ku namun si kening.


Aku memandangi punggung ripa'i yang melangkah menjauh, seperti langkahnya, mungkin kah dia juga akan menjauh dariku.


Tepat pukul 7 pagi, seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar ku, siapa lagi jika bukan anta.


Dia tersenyum mengejek padaku, anta duduk di sampingku.


" Semalaman bersamanya, apa yang kalian lakukan? " Ucapnya dengan senyum licik yang dia tunjukan.


" Banyak! " Jawabku asal, kulihat raut tak suka dari wajah anta, mungkin dia mengharap jawaban lain dariku.


" Sudahlah, ayo kita pulang " lanjutku berucap.

__ADS_1


__ADS_2