
Ku katakan apa niat dari kedatangan bang herdi yaitu ingin meminta ku untuk adiknya.
Seluruh keluarga tersenyum mendengar penuturan ku begitu juga dengan orang baru yang ada di rumah ku.
Selesai pembicaraan, kami pun makan dengan tenang, sesekali anak kakak ku bertingkah manja pada sang bapak, keponakanku itu meminta sang bapak untuk menyuapinya dan sang bapak pun hanya menurut.
Selesai makan aku mengantar rindi dan ibunya ke kamar adikku, mereka bisa menempati kamar itu untuk sementara.
Aku kembali ke kamarku setelahnya, membaringkan tubuh lelahku dan tertidur.
***
Pagi harinya,
Aku bangun jam sepuluh pagi, karena saat jam tiga malam aku sudah terbangun dan tak dapat tidur kembali, jadi setelah menunaikan solat subuh aku tertidur kembali bahkan aku tak menyempatkan mengaji saking lelahnya badan ku ini.
Setelah merapihkan tempat tidur dan merapikan diri, aku keluar kamar menuju dapur namun, langkahku terhenti kala aku bertemu mata dengan seseorang, aku mengurungkan niat untuk ke dapur, menghampiri seseorang yang saat ini tengah tersenyum hangat padaku.
" Mau jadi pengantin jam segini baru bangun! " Celetuknya setelah aku menyalaminya.
Aku tersenyum menanggapi ucapannya, ku tau dia hanya ingin bergurau saja karena laki-laki di hadapan ku ini sudah paham akan diriku.
" Abang sudah lama disini? " Tanyaku pada bang herdi, ya saat ini orang yang tengah bersama keluarga ku tak lain bang herdi.
" Belum lama " jawabnya
" Oh! " Tanggap ku sembari tangan ku meraih gelas berisi air di depan ku.
" Rinjani " ucap ibu, mungkin ibu merasa tak enak pada bang herdi akan sikap ku, namun berbeda dengan bang herdi.
Di malah tersenyum melihat kelakuan ku yang dia sendiri sudah tau sisi lain ku jika sedang bersama orang yang aku sayangi.
" Jangan khawatir Bu, bang herdi audah tau Rinjani " belaku
" Nggak sopan " balas ibu, aku hanya tersenyum tak menjawab
" Tidak apa-apa Bu, saya sudah anggap Rinjani seperti adik kandung saya sendiri, karena Rinjani mengingatkan saya pada adik saya yang sudah tak ada " di akhir kalimat bang herdi sangat pelan mengucapkannya entah apa yang menimpa keluarganya.
" Adik? " Bingungku, karena saat itu aku belum tau kalau ripa'i dan bang herdi memiliki sodara perempuan.
" Iya, Airin Rachmi Willson, namun dia sudah dulu meninggalkan kami memilih ikut menyusul kedua orang tua kami " jelasnya
" Maaf Jani tak tau itu " ucapku, merasa tak enak pada bang herdi, namun beruntung suasana yang tak nyaman itu berubah kembali saat Caca datang.
Dengan girangnya dia berlari kearah ku dan langsung memelukku entah kenapa.
__ADS_1
Semua mata tertuju padanya, dan aku hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah dia kala dia menyadari aku tak hanya dengan keluargaku.
" Maaf, Caca datang di waktu yang nggak tepat ya? Kalau gitu Caca permisi dulu deh, Rinjani nanti aku cerita setelah kamu selesai " ucapnya dan hendak ingin pergi namun aku menahannya.
" Sini duduk " ucapku, Caca menatapku seolah memohon ingin di lepaskan, dai pikir aku akan ngapain
" Aku keluar aja ya " ucapnya namun aku malah menarik tangannya agar duduk di sampingku dan diapun menurut.
" Jadi acaranya mau seperti apa? " Tanya bang herdi
Bapak dan ibu saling melihat, setelahnya menatap padaku, aku pham mereka menyerahkan semuanya padaku.
" Sederhana saja " jawabku
" Kenap? Apa kamu tidak mau menggunakan uang ripa'i, agar uang itu sedikit berkurang " ucap bang herdi, masih saja sempat bercanda
" Tak apa, Jani mau acaranya sederhana saja yang penting kami menjadi pasangan halal, itu cukup bagi Rinjani " jelasku
" Setiap calon mempelai wanita pasti berharap lelaki yang akan menikahinya ikut serta saat ini, maaf Jani aku tidak bisa membawa ripa'i saat ini kau lebih tau alasannya, dan aku harap kamu tidak terlalu kecewa " ucap bang herdi, aku tersenyum mengejek padanya, pasalnya aku tau ini bukan sikap bang herdi namun demi adik yang dia rawat dan dia sayangi dia bisa bersikap seperti sekarang ini.
" Tidak apa-apa pak, Jani tidak akan merasa kecewa, iya kan nak " ucap ibu membalas ucapan bang herdi, aku tersenyum mengiyakan ucapan ibu
" Abang tidak perlu khawatir, Jani tidak masalah dengan semua ini, lagi pula ripa'i sudah lebih dulu menjelaskan sebab dia tak bisa datang saat ini " lembut ku berkata pada bang herdi
Semua nampak santai bertukar kata, bahkan saling melempar canda.
Aku dan Caca memilih pergi ke teras depan, duduk santai di bangku yang terbuat dari bambu. Caca bilang dia ingin bercerita jadi ku dengarkan dia bercerita, dan tak ku sangka ternyata bukan hanya aku yang mendengarkan cerita caca namun ada bang herdi juga di belakang kami. Dengan santainya dia bersandar pada tembok seraya menyilang kan tangannya di dada.
Aku dan Caca menyadari keberadaanya kala dia mengomentari cerita caca.
" Sejak kapan bang herdi di sana? " Tanyaku kala dia selesai memberikan komentarnya pada Caca
Bang herdi tak menanggapi ku dia justru malah ikut duduk di samping Caca, ku berikan senyum mencibir kala dia melirikku.
" Kenapa? Apa kau tak suka pendapatku? " Tanyanya pada Caca dan yang di tanya hanya diam saja
" Baiklah, terserah kau saja toh bukan urusan ku, aku pikir semua orang yang dekat dengan Rinjani adalah orang Piter semua, ternyata tidak " ucapnya dan itu berhasil membuat Caca bersuara
" Maksud anda saya bodoh? " Tanya Caca dengan nada yang tak bersahabat. Dasar, kenapa malah kepancing
" Jika anda tak terima saya bilang begitu, anda mau apa? " Tantang bang herdi, dasar orang ini, paling pandai mencari keributan
" Jani kita kelamarmu saja di sini ada pengganggu " kesal Caca ternyata juga berimbas padaku.
" Yang di katakan bang herdi benar, walau bang herdi tak mengatakannya, aku yang akan mengatakan itu padamu " lembut ku memberi pengertian pada sahabatku
__ADS_1
" Tapi gue masih sayang dia Jani " lesunya menjawab perkataan ku
Aku heran padanya, apa segitu lamanya hingga aku tak menyadari kalau sahabatku sudah tak memiliki keteguhan seperti dulu, bahkan sekarang aku rasa Caca yang lebih sering mengeluh tentang asmaranya padaku, padahal, dulu dia yang paling acuh akan hal itu kenapa sekarang seolah dia yang selalu tak ingin kehilangan.
" Semalam kmu ingat, kamu menangis karena kamu bilang dia memutuskan mu karena menyelingkuhi mu? " Tanyaku padanya, hanya untuk mengingatkan saja
" Tapi itukan semalam Jani " jawabnya
" Ya semalam, tapi aku tak tau sebelum semalam sudah berapa malam kamu menangis " jawabku acuh, jujur mendengar jawban Caca membuat ku sedikit kesal.
Caca hanya diam dan sedikit menunduk. Tak tega melihatnya seperti ini, aku berinisiatif untuk menghiburnya namun tak tau caranya hingga, sebuah ide konyol muncul di pikiran ku.
" Gimana kalau Lo gue jodohkan sama anta mau? Dia baik loh orangnya, lumayan ganteng juga " ucapku tanpa dosa, namun ternyata mendapat tatapan tak sedap dari caca
" Kenapa ya, dulu aja gue selalu di kejar cowok, sekarang seolah gue si remehkan oleh mereka " celetuknya
Aku merasa serba salah dalam situasi ini, jika ku izinkan dia kembali pada mantan kekasihnya yang jelas sudah ku tau kalau dia tidak baik untuk sahabatku, itu sama saja aku tak sayang pada sahabatku. Tapi jika aku hanya diam, aku juga takut nanti Caca mengira kalu aku sahabat yang tak bisa apa-apa, padahal faktanya begitu.
" Kalau kamu memang masih ingin bersamanya silahkan itu pilihanmu, namun jika nanti dia membuatmu menangis kembali, ingat, aku masih disini dan jangan bilang kalu aku tak mengingatkan mu " jelasku padanya dan dia hanya diam, bang herdi tersenyum padaku, mungkin dia juga paham maksud dari ucapan ku.
" Makasih Jani! Lo tau, Sebenarnya ojah baik pupu juga tak mengijinkan aku untuk menerimanya lagi " ucapnya
" Lalu? " Heran ku bertanya, sudah jelas kalau kami sayang padanya dan jelas kami tak akan membiarkannya kembali pada orang yang salah
Caca tak menjawab dia hanya diam, ku rasakan kebimbangan di dirinya itu terlihat jelas di wajahnya, dia sendiri antara yakin dan tak yakin ingin kembali bersama mantan kekasihnya itu.
" Kalu kamu merasa bingung, bagaiman jika kamu menjadi kekasih ku saja! " Ucap bang herdi dan itu berhasil membuat Caca melongo
" Jangan , jika menjadi kekasih ku bukan hanya kasih sayang yang kami dapat, namun juga Matri " ucapnya, jujur aku tak suka dengan kalimat materi yang bang herdi cantumkan di akhir kalimatnya, seolah dia menilai sahabatku haus akan Matri.
" Maksud anda, saya harus berpacaran dengan om om " jawab Caca dengan seringai mengejek
" Om om! Kamu pikir aku om om, bukankah aku lebih terlihat lebih muda dari para pemuda yang ada di sini " jawab bang herdi
" Cih! Anda bilang lebih muda, sadar dong, anda itu sudah pantas memiliki cucu " kesal Caca
Aku tau bang herdi hanya berniat menghibur Caca, dan Caca, dia hanya sedang terbawa suasana saja. Merasa bosan dengan adu kata Caca dan bang herdi, aku memilih ke dapur guna mencari makanan, atau buah yang bisa ku makan jadi aku meninggalkan mereka di teras.
Sampai di dapur.
Aku mendapati rindi yang tengah membantu ibuku memasak, sedang aku tak melihat ibunya mungkin sedang beristirahat bagaiman pun ibu rindi baru keluar dari rumah sakit, dan mengenai Kaka ku. Dia memilih kembali ke rumahnya, beruntung rumahnya tak jauh dari rumah ibu jadi aku bisa memantau keadaannya.
" Rindi, kenapa disini? " Tanyaku
" Iya mbak, sedangan membantu bibi masak lagian rindi bosan hanya di kamar saja " jawabnya santai dengan tangannya tak berhenti dari aktivitas yang sedang dia lakukan
__ADS_1