
Tak membutuhkan waktu lama, aku sudah berhasil mengalahkan nya, muka nya babak belur karna dia tadi berhasil memukul ku jadi aku lepas kendali memukul nya.
Saat ia terkapar aku memperhatikannya,
" Kau masih mau bangun " ejek ku
Laki-laki itupun beneran bangun kembali, ku lihat ia meraba bagian belakang tubuh nya, tidak lebih tepat nya ia sedang mencari sesuatu yang ia selipkan di tubuh nya
" CK, kau mencari ini " ucap ku
" Kurang ajar " saat ia akan menyerang ku kembali, teman nya menghentikan nya
" Cukup, ambil ini " ucap nya seraya melemparkan uang pada ku mungkin uang ibu itu
" Kenapa kau tidak melawan nya " kesal laki-laki yang babak belur pada teman nya
" Sudahlah ayo pergi " ajak nya pada teman nya
Aku masih betah berdiri di tempat ku dengan pikiran ku, hingga yanah menegurku, entah sejak kapan ia menghampiri ku
" Kamu nggak apa-apa kan " tanya yang dengan muka khawatir nya saat menghampiri ku
" He'mh " singkat ku
Aku dan yanah kembali ke warung makan tadi
" Bu ini punya ibu " ucap ku sembari memberikan uang ibu itu
" Terimakasih neng, sebenar nya neng nggak perlu repot-repot nolongin ibu " ucap ibu tadi, dan itu berhasil membuat aku kebingungan
Namun ku bawa santai saja
" Tidak apa-apa Bu, kalau gitu kami permisi " pamit ku, lalu bangun dari duduk ku
" Tunggu kalian pulang ke mana " tanya nya
" Ke daerah xx " jawab yanah
" Jauh juga " gumam nya yang masih bisa ku dengar
" Kami permisi assallamuallaikum " pamit yanah juga, dan kami pun melanjutkan perjalanan
Setelah berjalan agak jauh dari tempat tadi kami memutuskan menunggu bus
Saat sedang duduk di halte bus, kami berjumpa dengan dua orang tadi mungkin mereka mau naik bus juga, mereka menghampiri kami
" Jani itu kan orang yang tadi " ucap yanah
" Kita diam saja ingat yang tadi sudah berlalu"
" Hei gadis sialan ketemu lagi kita " ucap salah satu dari mereka, lebih tepat nya laki-laki yang babak belur tadi
Aku hanya diam saja, ku lihat laki-laki yang satu nya terus memperhatikan yanah
Aku melihat ke arah yanah, ternyata ia sedang ketakutan, beginilah repot nya bila membawa teman ke kota orang mending kalau tak ada masalah mah coba seperti sekarang ini
Aku menggenggam tangan yanah berusaha menenangkan nya, toh disini cukup banyak orang
Laki-laki itu mendekat berusaha menyentuh yanah namun berhasil di tepis oleh yanah
" Jani kita naik angkot aja ya, nanti biar aku deh yang bayar " pintanya, bukan apa-apa kalau naik angkot kami harus naik turun berkali-kali dan aku risih dengan itu
" Kita naik bus saja tidak apa-apa toh banyak orang disini " bisik ku tanpa menoleh ke arah yanah hanya mendekatkan mulut saja
" Berdiri " perinth nya pada gadis di sebelah ku, aku menoleh namun tak ingin menghiraukan
Tanpa menolak gadis itu berdiri
Laki-laki yang seusia kakak ku duduk di aebelah ku, dia tersenyum melihat ku
" Hai manis " sapa nya seraya tersenyum,menjengkelkan
" Ku lihat teman mu tak seberani dirimu " ucap nya lagi, itu berhasil mbuat ku menoleh ke arah nya
Aku tersenyum miring " dia bukan teman saya tapi sodara saya " jelas ku agar laki-laki itu tak mengganggu kami
" Benarkah, sebenar nya aku penasaran dengan mu, sepertinya kalian bukan dari kota ini " seloroh nya
Aku hanya diam tak menanggapi
__ADS_1
" Baik lah nama ku Andi, suatu saat kita akan bertemu kembali " jelas nya
Bus datang kami pun segera naik, ku lihat dua laki-laki itu tak ikut naik, sukur lah setidak nya yanah bisa bernapas
Sepanjang perjalanan yanah tertidur sedang aku hanya bermain dengan ponsel, mencari tau dunia kerja melalui Mbah Google
Kurang lebih lima jam kami dalam perjalanan, harusnya hanya tiga jaman namun karna jalanan cukup ramai dan bus tak bisa mengebut jadi kami pun harus sabar
Sumpah pegel rasanya, jenuh jangan ditanya lagi apa lagi tak ada teman untuk ngobrol
*****************
Akhir nya bus berhenti, aku membangunkan yanah, dan ia pun langsung terbangun
" Mau naik ojek apa angkot aja " tanya yanah, saat kami turun
" Ojek aja sampe rumah, udah pege-pegel ni " jawab ku seraya merangkul yanah
" Yuk pangkalan ojek " ajak nya
Karna kami turun cukup jauh dari pangkalan ojek jadi harus berjalan lagi untuk mendapatkan ojek ( belum ada ojek onlne ya di tempat kami)
" Bang Anter ke desa xx ya " pinta ku, saat sudah di pangkalan ojek
" Dua orang neng " tanya nya
" Iya pak, " jawab ku
" Satu motor " tanya nya lagi 'bawel juga' pikir ku
" Dua pak saya beda arah soal nya " yanah yang menjawab
" Jang penumpang ni mau " teriak nya pada orang yang ia sebut Jang
" Ayo neng " ojek pertama membawa ku
" Aku duluan ya, kabari kalau sudah sampe rumah " pamit ku pada yanah
" Ok " singkat nya
Ojek membawa ku pulang kerumah
" Assalamualaikum " sebelum aku membuka pintu
" Wa'allaikum sallam " jawa orang yang ada di rumah
" Bu baru pulang," tanya Siti yang membuka pintu, sebenar nya aku juga bisa
" He'mh, mau kemana " tanya ku pada Siti karna dia sudah rapih
" Mau ketempat temen kerja kelompok sama pitri juga " jelas nya
Aku pun tak bertanya lagi dan memilih masuk ke dalam rumah
Sunyi yang kurasa bila sudah di dalam kamar, sering ku merasa ada sesuatu yang hilang.
Ku lihat jam didinding menunjukan pukul lima sore, 'ternyata perjalanan ke sana lebih jauh dari pada ke tempat tth' pikir ku, aku memilih membersihkan diri terlebih dahulu sebelum rebahan
Selesai dengan semua ritual mandi ku, aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar ada banyak keperluan yang harus ku siapkan,
" In tth keluar bentar kalau Fitri sudah pulang nanyain tth bilang tth bilang aja lagi ada perlu di luar " jelas ku pada Indri seraya berpamitan takut dia nyariin
" Tth ulah kabel-kabel "
( Tth jangan lama-lama ) pinta nya
" He'mh " asal ku seraya meninggalkan nya
Aku hanya berjalan kaki karna motor di pake Fitri dan Siti motor kakak ku di pake kerja,
Jujur menjadi tth paling besar setelah tthbku cukup melelahkan, selain harus mengurus rumah juga harus mengurus adik-adik ku, bahkan juga harus mengajarinya moral kehidupan, apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang baik dan tidak baik, sungguh itu semua membuat ku menjadi tth sekaligus ibu.
Tak pernah aku menyalahkan takdir sedikit pun, bahkan aku sangat bersyukur di posisiku saat ini, banyak orang di luar sana memiliki sagalanya ibu dirumah mengurus mereka namun sipat nya seperti tak di urus oleh orang tua mereka
Semua sudah ku beli dengan uang yang selama ini ku tabung, bayangkan sedari klas 1 sampai klas 3 aku menabung sudah berapa banyak tabungan ku sekarang
Ya sengaja aku menabung untuk aku gunakan di saat seperti ini, dan ku yakin bila aku meminta pada ibu pun tak akan banyak yang akan ibu beri dan lagi harus menunggu hari gajian, sedang aku harus menggunakan nya sekarang
Aku berhenti di pinggir jalan menghadap ke tanah lapang yang luas, melihat anak laki-laki satu kampung ku sedang main bola
__ADS_1
Aku duduk di pinggir jalan itu
# Pai aku ingin menangis, tapi tak bisa # pesan terkirim pada teman hati
Lama menunggu tak ada balasan dari sebrang sana
Aku pun memilih fokus pada permainan sepak bola
" Rinjani " salah satu dari mereka menghampiri ku, ku lihat yang lain juga sudah berhenti bermain bola
" Udahan " tanya ku, percayalah aku sebenar nya cukup ramah bagi kalian yang sudah mengenal ku
" Udah, udah sore mau pada pulang " jawab nya
" Kamu ngapain disini tumben, bukan nya mandi sana anak perawan mandi malam nggak baik " seloroh nya
" Enak aja, aku udah mandi! Tadi habis dari warung beli perlengkapan buat magang nanti " jelas ku
" Oh, balik yuk " ajak nya
" Yuk "
Saat aku melangkah aku di panggil lagi
" Jani tunggu dulu gue bawa motor soal nya " pinta nya menunggu mungkin dia akan mengambil motor nya dulu
" Yuk " ajak nya saat sudah di samping ku dengan motor nya
Tak lama aku sudah sampai hanya itungan beberapa menit saja
" Makasih ya tumpangan nya " ucap ku
" Apaan sih kayak nggak searah aja, sore bang " dia menyapa Abang ku yang ternyata sudah sampai di rumah, Abang ku hanya melambaikan tangan saja
" Mampir dulu nggak " tanya ku basa-basi
" Nggak usah bnatar lagi magrib langsung pulang aja "
Aku pun mengangguk mengiyakan ucapan nya, dan motor pun melaju kembali
" Bang kayak nya Jani bakalan ngkos deh " jelas ku, saat sudah duduk dengan kakak ku
" Emang harus " tanya nya
" He'mh, tempat nya jauh bang, capek kalau pulang pergi " jelas ku
" Udah bilang ibu belum " tanya nya lagi
" Belum, nanti aja kalau pihak perusahaan sudah ada kabar "
" Mmhhh, ya sudah Abang mau mandi dulu bentar lagi magrib " pamit nya seraya meninggalkan ku, akupun masuk kedalam rumah
Malam harinya aku mendapat kabar kalau aku dan yanah di terima magang, namun harus siap di tempatkan di cabang yang lain, aku sudah mengabari yanah juga dan dia setuju asal aku setuju
" Bu Dena mau ngomong bentar " ucap ku, karna mendapati ibuku akan masuk kar seperti nya beliau lelah ingin segera istirahat
" Aya naun Jani " ( ada apa Rinjani ) begitulah tanya nya
" Jani mau ijin untung ngkos boleh,?" Ucap ku hati-hati takut ibu tak mengijinkan
" Ku naun kudu ngkos " ( kenapa harus ngkos ) begitu tanya nya
" Jani sudah dapat tempat buat PKL namun jauh, kemungkinan nya kecil kalau harus pulang pergi " jelas ku
" Sorangan wae Jani " (sendiri aja ) tanya nya lagi
" Bareng yanah Bu, ibu tau Rinjani gimana Rinjani, jadi ibu tak harus terlalu khawatir sama Rinjani, percaya insya Allah Jani bisa jaga diri " ucap ku
Bukan apa-apa, aku juga belum tau kalau perusahaan mas Rendi memiliki cabang, dan aku belum tau mau di tempatkan di cabang yang mana
" Nya ngges ai kudu ngontrak mah Sambodo " ( ya sudah kalau harus ngontrak mah ) ucapnya dan ibu melanjutkan langkah nya ke kamar
Aku keluar rumah mencari udara, ntah kenapa melihat ibu yang kelelahan karna kerjaan nya membuat dada ku terasa sesak
" Bang " aku mendekati Abang ku yang sedang ngobrol bareng ka Boni
" Jani belum tidur " tanya ka Boni
" Belum kak, bentar lagi paling " jawab ku
__ADS_1
" Bang Jani sudah bilang sama ibu " ucap ku pada Abang ku