Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 112


__ADS_3

Ripa'i menggenggam tangan ku, berusaha menguatkan ku.


Sungguh tak bisa ku bayangkan jika keluargaku mengetahui ini semua, aku hanya berharap semuanya akan baik-baik saja agar aku tak perlu menjelaskan sesuatu pada keluargaku.


Lama kami menunggu akhirnya lampu ruang operasi padam, menandakan operasi sudah selesai. Seseorang keluar dari ruangan itu aku langsung menghampirinya.


" Bagaimana dokter, apa semua baik-baik saja, apa semuanya lancar? " Tanyaku sekaligus tak peduli dengan yang lain.


" Operasi berjalan lancar, untuk sementara waktu Kaka anda akan di pindahkan ke ruang ICU, dan setelahnya Beru bisa dibawa ke kamar rawat kembali " jelasnya padaku, kemudian berlalu begitu saja.


Aku beralih pada ripa'i dan langsung memeluknya, sungguh yang ku harapkan itulah yang terjadi.


" Semua akan baik-baik saja bukan, jadi kamu tidak perlu khawatir " ucapnya seraya mengelus kepalaku.


Aku melepas pelukanku dan berjalan kekamar yang di gunakan kakak ku, terduduk lemas di bangku yang ada di sana.


Ku pandangi ponselku yang berdering lama dan nyaring, menandakan ada panggilan masuk di ponselku.


" Jawablah! Aku yakin mereka sedang cemas " ucap ripa'i setelah berhasil menyusul ku dan ikut duduk di sebelahku.


" Haruskah ku beritahu sekarang? " Tanyaku padanya, yang sebenarnya pertanyaan itu untuk diriku sendiri, Karena aku tak bisa menyembunyikan hal seperti ini dari keluargaku terutama istrinya.


" He'mh! Beri tahu mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan operasi yang di jalani Abang berjalan dengan lancar " lembut ripa'i memberi pengertian untuk ku.


Aku tak berbicara lagi pada ripa'i namun langsung meraih ponselku yang terus berbunyi dari tadi.


Ku angkat panggilan dari adikku dia mengucap salam terlebih dahulu baru setelahnya bertanya.


" Bagaimana keadaan kakak teh? " Tanya pitri dengan nada tak bersemangat.


" Baik! " Asalku menjawab, namun ternyata jawabanku yang hanya satu kata itu menimbulkan curiga bagi adikku.


" Katakan ada apa? " Nada suaranya sudah dapat ku pastikan kalau dia sedang memasang wajah dinginnya.


" Tidak ada! " Lemah ku menjawab

__ADS_1


" Aku tau tth, bahkan sangat mengenal tth! Katakanlah ada apa? " Dia terus bertanya padaku aku melirik pada ripa'i, dia tersenyum seolah memintaku mengatakan semuanya


" Abang baru selesai di operasi! Jika memungkinkan jangan beritahu kabar ini pada yang lain dulu, dan usahakan agar tak ada yang kemari sebelum bang Dedi sadar! " Datar ku mengatakan semuanya, bukan tak ingin keluarga tau namun saat ini lebih baik menunggu Abang ku itu sadar dulu agar tak terlalu membuat keluarga khawatir nantinya.


" Eemmm baiklah! Tadinya aku akan membawa ibu untuk kesana, namun akan aku pastikan ibu di rumah untuk hari ini, bagaimana dengan istrinya apa sudah tau? " Tanya pitri kembali, aku yakin dia dapat ku andalkan di saat seperti ini.


" Belum! " Jawabku


" Baiklah! Lalu kapan kakak akan sadar, apa membutuhkan waktu lama? " Tanyanya kembali, sungguh dia memang mewarisi sifat dariku selalu ingin tau detail semuanya.


" Dokter bilang tidak akan lama, dan semoga saja tidak memakan waktu sampai 2 jam " jawabku, karena aku sendiri belum mendapat kepastian dari dokter.


" Baiklah kalau begitu, oh ia! Apa tth perlu sesuatu? " Tanyanya


" He'mh, bawakan tth baju ganti, tth tidak akan pulang sampai melihat semuanya baik-baik saja " ucapku


" Baju yang ada di sini baju lama semua, apa tth mau aku bawakan yang baru tapi aku harus beli dulu, gimana? " Aissh! Aku lupa kalau tak membawa baju ganti namun baju ku yang di rumah baik yang di sana sama saja modelnya jadi nggak masalah, hanya saja yang di rumah semuanya baju lama.


" Tidak apa, bawakan lengkap ya! " Ucapku dan langsung memutuskan panggilan.


Aku merapihkan barang-barang ku yang akan aku berikan pada pitri untuk di bawa pulang saat dia sampai nanti.


Saat selesai dengan semuanya, aku kembali memainkan ponselku, ku kirim pesan pada mas Rendi, memberitahunya tentang keadaan bang Dedi aku yakin dia akan langsung memberitahu pada te nur jadi aku rasa tak perlu memberitahunya.


Masih bermain dengan ponselku, membuka setiap aplikasi yang memang harus ku buka sekedar memastikan semua pekerjaan yang aku pegang berjalan lancar.


Saat sedang memeriksa semua laporan yang masuk baik itu dari kantor organisasi atau dari tempat kerja ku, aku teringat pada tugas yang baru saja akan aku lakukan, karena tugas itu alasan kedua aku pulang setelah keluarga terutama ibu dan bapak.


Harusnya hari ini aku sudah meresmikan pabrik yang baru saja selesai itu, dan harusnya hari ini sudah ada penerimaan pegawai namun karena kejadian tak terduga ini aku jadi Harus menunda semuanya.


" Ya Allah semuanya atas izin mu, maka aku yakin semuanya akan berjalan baik semana mestinya " ucapku berusaha meyakinkan diri sendiri.


Seseorang membuka pintu saat aku sedang terdiam, dia berjalan kearah ku dan membawakan aku sesuatu yang aku yakin itu makanan, dia tersenyum manis padaku setelahnya ikut duduk di sampingku.


" Kamu belum sarapan bukan, aku bawakan ini! " Ucapnya

__ADS_1


Sederhana! Hanya susu coklat hangat kesukaan ku dan beberapa potong sandwich.


" Tentu, aku akan memakannya asal kau juga ikut main " ucapku, tak ada bantahan, ripa'i membuka bungkusan itu dan menyuapkannya padaku, tak ku tolak hanya satu gigitan setelahnya aku langsung mengambilnya dari tangan ripa'i.


" Kau juga makanlah! " Ucapku seraya mengunyah makanan yang ada di mulutku.


Kami makan dengan hening tak ada obrolan seperti biasanya, aku tau jika keadaan seperti ini pasti ada yang sedang mengganggu pikiran ripa'i namun aku tak ingin bertanya, bukan tak peduli atau tak ingin tau namun aku mengenal ripa'i dia pasti akan mengatakannya padaku jika itu mengenai kami, dan jika bukan dia tidak akan hening seperti ini di kala kami sedang bersama.


Benar dugaan ku! Selesai menghabiskan makanan yang ada di depan kami ripa'i menatapku lekat kemudian bersuara.


" Jani! " Kata yang keluar dari mulutnya, aku menatapnya lekat.


Mendapati aku hanya diam saja seraya tak menurunkan tatapan, dia paham aku memintanya meneruskan kata yang belum keluar dari mulutnya.


" Aku mau tanya sekali lagi, memastikan bahwa yang aku dengar semalam tidak salah " ucapnya hati-hati.


" Katakanlah aku tau hatimu membutuhkan kepastian jawaban " ucapku lembut dan itu membuatnya tersenyum hangat padaku.


" Eemmm, kau tau selama kita bersama sudah berapa kali kau memintaku untuk menunggu hingga kami siap melepaskan semuanya dan itu berarti kamu sudah siap memberikan semua yang pernah kamu jalani pada pitri " ucapnya halus


" Eemmm! Benar tentang semua yang aku katakan pada mu semalam " jawabku pasti


" Tapi aku takkan memberikan semua beban itu pada pitri, dia masih belum siap dan takutnya dia akan berhenti di tengah jalan " lanjutku berkata kembali


Ripa'i menatapku penuh haru, karena aku tau tatapan itu sudah lama dan sering dia berikan padaku kala keadaan ku sedang seperti sekarang.


" Namun yakinlah Pai! Aku pasti bisa memenuhi semuanya, kelak jika kita sudah bersatu dalam ikatan pernikahan, aku akan mengikuti semua perintah mu " lagi aku berkata, ripa'i tersenyum mengejek.


" Kamu pikir aku menjadikan mu budak sehingga kamu harus menurut padaku " ucapnya seraya tersenyum tipis.


" Tidak Rinjani! Aku ingin jika nanti kita sudah bersama kita akan tetap seperti sekarang, saling percaya dan mendukung, saling memberi pemahaman dan mengajarkan, saling melindungi dan mengasihi, bukan siapa harus menuruti siapa " lanjutnya menjelaskan, ya aku tau itu, namun aku juga tak akan membangkang jika ada kegiatan ku yang mengganggu hubungan kami dan dia tak suka.


" Aku berharap begitu " ucapku


" Dan satu lagi! Aku berjanji tidak akan memaksamu melayaniku jika kamu belum siap " ucapnya yang membuat ku sedikit melongo, pasalnya selama bersamanya tak pernah kata yang seperti itu keluar dari mulutnya

__ADS_1


__ADS_2