Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 80


__ADS_3

Dua hari sudah aku menunggu kabar dari Andi namun tak kunjung mendapatkannya, kembali aku bertanya pada Gibran karena perasaan ku di selimuti rasa khawatir, sesekali terasa ngilu di hatiku ntah kenapa aku tak tau, sempat bertanya pada guru ngaji ku namun dia bilang hanya aku sedang mengkhawatirkan seseorang ya itu memang benar.


Aku menemui Gibran di ruangnya dia sedang sibuk membuka berkas di depannya, dapat ku pastikan itu cp pasien nya.


" Katakan dengan jujur, ada apa sebenarnya dengan ripa'i " ucapku tanpa basa-basi


" Apa maksudmu " datarnya, aku baru melihat muka datarnya ternyata dia tak jauh berbeda dengan ripa'i


" Katakanlah aku mohon karena perasaan ku mengatakan tengah terjadi sesuatu yang buruk padanya, jika tidak mana mungkin dia mengabaikan aku " jelasku sedikit percaya diri padahal mana aku tau dia mengabaikan aku apa tidak


Gibran menatapku dalam kemudian berkata


" Ripa'i sedang berurusan dengan sesuatu yang berbau perkelahian itu sebabnya dia memintaku menjagamu, dia juga berkata jika terjadi sesuatu padanya aku akan meyakinkan kalau dia selalu menyayangimu begitulah ucapnya sebelum pergi " jelas Gibran semakin membuat ku bersikap dingin, kenapa dia tak bilang saja padaku


" Di negara mana dia sekarang " tanyaku


" Di Beijing " datarnya


" Kau bilang dia di negara asalnya bukan karena mengurus perusahaannya " kesal ku mengetahui fakta yang membuat ku marah


" Maaf, namun dia pergi kesana " asalnya


" Jika kau mau kita bisa menyusulnya " ucapnya lagi


" Kita " mengulang perkataan Gibran


" Jika hanya kau seorang aku takut terjadi sesuatu padamu " ucapnya lagi aku tak menanggapi


Aku hanya diam menyusun rencana dalam otakku, kemudian meninggalkan ruangan Gibran


" Baiklah kita bertemu besok, aku permisi " pamitku, meski marah padanya namun sikap ku tetap biasa saja


" Apa yang sedang kamu hadapi sekarang, kenapa tak memberi tahu padaku, sungguh aku tak pernah mengkhawatirkan mu sampai seperti ini " hatiku membatin


Aku mengendarai mobil ku kembali ke kerumah ku, aku juga memberi tahu mas Rendi kalau aku Takan masuk namun akan tetap memantau pekerjaan ku, juga mengerjakannya karena mas Rendi yakin dengan kemampuanku maka diapun memberi ku ijin, sebelumnya mas Rendi bertanya ada apa namun aku hanya menjawab tidak ada apa-apa, maka dia pun paham.


Pagi harinya Gibran menemui ku di rumah, ntah jam berapa dia berangkat ke sini hingga sepagi ini dia sudah sampai di rumahku, Fitri menatap ku heran dan dia bertanya.


" Ada apa, dan tth mau kemana " datarnya bertanya, sebelum menjawab ku pastikan dulu tak ada adik bungsuku


" Ripa'i dalam masalah tth akan membantunya, jika Indri bertanya bilang saja tth mengerjakan proyek di luar kota " pintaku pada Indri karena aku belum tau apa yang akan aku hadapi

__ADS_1


" Beri tau Fitri jika membutuhkan bantuan " ucapnya


" Pasti, jaga adikmu tth tidak tau akan berapa lama tth pergi " ucapku kembali dan Fitri hanya mengangguk


Saat hendak keluar dari rumah Indri turun dengan sudah rapih mengenakan seragam


" Tth mau pergi " tanyanya kala melihat ada Gibran juga


" He'mh, jaga diri baik-baik tth juga titip te Asiah ya " lembutku seraya tersenyum


" Nanti oleh-olehnya ya " pintanya seraya tersenyum aku mengiyakannya karena tak mau membuatnya merengut


Aku berpamitan kedua adikku menyalami tangan ku juga Gibran aku juga meminta Asiah untuk menjaga rumah selama aku tak ada, dan mengingatkan kedua adikku jika sedang lupa dalam hal apapun itu.


Aku dan Gibran berangkat ke bandara dengan menggunakan mobilnya sedang mobil ku aku tinggal, sampai di sana Andi sudah menungguku dengan memegang paspor yang aku minta, Andi menatap ku dalam dan berkata


" Jangan melakukan kecerobohan dan tetap mengabariku, sampai di sana orang ku akan menjemputmu akan aku kirimkan kontaknya padamu berhati-hati lah dan bawa dia kembali " ucapnya seraya memelukku, karena dia sudah ku anggap seperti Abang bagiku maka aku membiarkan dia memelukku


" Jika urusan ku sudah selesai aku akan menyusul mu " lanjutnya


" Terima kasih tolong jaga orang-orang yang ada di rumahku, pastikan mereka akan baik-baik saja agar aku tak terlalu memikirkan mereka " ucapku dan Andi mengiyakan itu


Ku lihat nampak wajah bingung dari Gibran mungkin dia ingin bertanya namun melihat ku yang hanya datar dia hanya diam saja, aku memejamkan mataku namun pikiran ku terus menggangguku, lagi Gibran sempat melihat ku memegang senjata yang Fitri berikan padaku saat akan berangkat tadi, dia bilang kita tak pernah tau bahaya apa yang akan menghadang jadi Fitri memintaku membawa senjata berupa pistol beruntung saat di bandara tak terlacak, bagaimana bisa? tentu bisa jika otak ku aku gunakan maka apa yang tak bisa, pesawat masih lama akan mendarat jadi aku memilih menyibukkan diri sampai merasa bosan dan aku tertidur.


***


Gibran vov


Sungguh aku tak mengenal Rinjani, bahkan aku tau dia hanya dari Wiliam yang Rinjani sebut ripa'i, sedikit mendengar kisahnya dari ripa'i itupun karena aku penasaran kenapa Wiliam begitu teguh hatinya pada gadis bernama Rinjani itu.


Saat pertama bertemu dengannya ku pikir dia gadis desa biasa yang sukses karena kepintarannya seperti kata ripa'i, namun saat melihat siapa saja temannya aku semakin penasaran orang seperti apa Rinjani ini, kenapa dia mengenal orang-orang hebat seperti Julian Draxler, dia seorang ilmuan muda terkenal yang kini sedang mengembangkan suatu formula bersama ayahnya.


Samuel Alexander yang dia sebut Sem, dia juga bukan orang sembarangan aku cukup tau itu karena aku bukan orang yang hanya bergerak di tempat, karena selain seorang dokter aku juga seorang pemegang perusahaan walau itu milik mamah ku.


Dan tadi saat di bandara aku bertemu dengan tuan Riandi, laki-laki ambisius, juga genius dalam segala bidang, bahkan aku juga dengar kabar tentangnya kalau dia juga salah satu mafia paling di segani, oh tuhan sebenarnya wanita seperti apa gadis bernama Rinjani ini, bahkan hanya orang tertentu saja yang memanggilnya Rinjani sedang di luaran sana nama dena yang pamiliar.


Wiliam memintaku menjaganya, dia bilang dia akan membereskan masalah di masa lalunya yang aku sendiri tak tau karena dia tak menjelaskan.


Sempat berpikir untuk memberi tahu Rinjani namun ku urungkan mengingat Wiliam memintaku untuk tetap diam namun karena Rinjani terus bertanya jadi aku memberi tahu dia, nampak sedikit kekesalan darinya saat aku memberitahunya di mana Wiliam berada namun aku hanya bersikap biasa.


Teringat dengan ucapan Rinjani saat menemui ku di ruangan ku dia bilang jika Wiliam dalam masalah, maka akupun mencari tau kebenarannya melalui orang suruhan ku yang ku kirim untuk mencari tahu tentang Wiliam

__ADS_1


" Bagaiman ?" Tanyaku pada orang suruhan ku


" Belum ada laporan " ucapnya, akupun pergi dan mencari tahu sendiri namun hasilnya tetap sama


Saat ini aku sedang di pesawat bersama Rinjani, aku duduk bersebelahan dengannya ku pandangi wajah lelapnya


" Beruntung sekali Wiliam memiliki gadis seperti mu dalam hidupnya " pelanku berucap


" Pantas dia begitu bersikeras menolak semua gadis yang mencoba masuk dalam hidupnya, ternyata yang dia pertahankan memang layak di pertahankan " lanjutku kembali kemudian mengikuti Rinjani tertidur


***


Rinjani vov


Pesawat mendarat pukul 8 malam, lumayan waktu yang terbuang sia-sia di dalam pesawat, ku lirik orang di sebrang kursi ku dia sedang menatapku


" Jangan menatap ku seperti itu " asalku seraya tersenyum mencibir


" Aku hanya bingung saja sedari bangun tidur bahkan saat kita memasuki pesawat, sampai mendarat kau hanya diam saja " ucapnya


" Tak ada yang ingin aku bicarakan jadi lebih baik diam " asal ku menjawab,kami pun turun dari pesawat setelah pesawat benar-benar berhenti


" Panggil aku Dena, " datarku ketika sudah keluar dari pesawat


" Kenapa ?" Tanyanya


" Kita tak pernah tau mana musuh mana sekutu " jelasku seraya menelpon seseorang


" Dimana kau " datar ku bertanya saat panggilan di angkat


" Saya di sini nona " ucap seseorang di belakang ku, aku tersenyum melihat gadis cantik di belakang ku umurnya lebih tua dariku hanya saja tak jauh berbeda selisih beberapa saja


" Bagai mana kabar anda nona ?" tanyanya kembali sembari mengambil koper yang ada di tangan ku


" Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja " jawabku dan dia tersenyum


" Ah ia, bahkan anda semakin cantik saja " ucapnya aku tak menanggapi itu, Gibran mengikuti kami di belakang sampai ke mobil, aku meminta Gibran tinggal bersama ku, jangan salah tempat yang akan aku tempati sebuah rumah lengkap dengan penghuninya, ya wanita cantik ini dan keluarga kecilnya.


Gibran duduk di sebelah supir sedang aku dan Yun Feng di belakang, dia bisa bahasa Indonesia karena dia sempat tinggal di Indonesia bersama andi ya dia juga salah satu adik angkat Andi dan menikah dengan salah satu bayangan Andi.


Yun terus bercerita karena aku terus bertanya, dia bilang dia sudah mempunyai gadis kecil berusia 7 tahun, ah menyenangkannya memiliki keluarga kecil jika hanya mendengar cerita saja lain lagi jika menjalaninya.

__ADS_1


__ADS_2