Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 123


__ADS_3

Mendengar setiap kata yang keluar dari Kaka ipar membuat ku tersenyum padanya, mungkin karena sikapnya yang seperti ini yang membuat kakak ku begitu menyayanginya.


" Jani tau kenapa tth bisa merasa begitu bahagia bersama abang Jani? " Tanyanya padaku yang ku jawab dengan gelengan kepala


" Karena saat tth menerima Abang Jani untuk menjadi imam tth, tth tak sedikitpun memiliki keraguan padanya, cara Abang Jani mencintai tth sungguh berkesan, kejujuran Abang Jani pada tth dan keberaniannya untuk mengajak tth ta'aruf membuat tth yakin kalau Abang Jani laki-laki yang baik dan bertanggung jawab " jelasnya padaku dengan sesekali tersenyum dan melihat pada bangku sedang yang sedang di Fuji hanya tersenyum tipis.


" Dan ternyata terbukti, setelah tth bersamanya dan melihat perjuangannya untuk membahagiakan tth namun tak mengabaikan kelurganya dan keluarga tth, membuat tth takut kehilangannya dan tth selalu berdoa semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan umur yang panjang padanya dan Jangan mengambilnya lebih dulu dari tth kelak, karena tth tidak tau dan tidak bisa jika tanpa Abang Jani " ucapnya kembali, entah kenapa kali ini aku hanya ingin diam, telingaku hanya ingin mendengarkan semua kata yang dia keluarkan, entah itu curahan hatinya atau sebuah motivasi yang dia berikan padaku dengan caranya yang seperti ini.


" Tth bahagia bersama abang Jani? " Tanyaku dengan linangan air mata yang coba ku tahan karena perasaan haru pada tth ipar ku


Tth ipar ku mengangguk dan berkata " tentu " lembutnya


" Kembali ke Jani, apa Jani memiliki keraguan di hati Jani pada calon suami Jani? " Tanyanya, aku tersenyum dan menggelengkan kepala


" Lalu apa yang menganggu pikiran Jani? " Tanyanya kembali


" Jani hanya takut jika nanti Jani menikah, bagaimana dengan Indri juga pitri, mungkin untuk pitri Jani tak terlalu khawatir namun Indri, bagaimana dengan dia " jawabku


" Menikah suatu ibadah, jika pernikahan menjadi penghalang itu sebuah kebohongan, tak ada pernikahan yang menjadi penghalang, namun terkadang mereka yang menjalani pernikahan itu yang salah menafsirkan itu " lembut tth ipar menjelaskan padaku


" Jani tidak bilang kalau kelak pernikahan Jani akan menjadi penghalang, Jani hanya takut jika ripa'i meminta Jani untuk ikut dengannya dan itu artinya Jani akan jauh dari mereka dan juga kalan " jawabku


Tth ipar tersenyum padaku dan menatap ku lembut membuat ku merasa nyaman dengan tatapan itu.


" Tth yakin aa ripa'i orang yang baik dan penyayang " ucapnya, aku tersenyum mendengar kata aa yang tth ucapkan


" Apa menurut tth begitu? " Ku coba menggoyahkan keyakinannya


" Menurut Jani? " Pintar sekali, dia malah balik bertanya padaku

__ADS_1


" Sudahlah, tth yakin Rinjani paham dengan semua yang tth sampaikan tadi, intinya jangan mengkhawatirkan sesuatu yang mungkin Takan terjadi mencoba lah berpikir positif agar tak menyesal di kemudian hari, tth kekamar dulu ya mau melihat keponakanmu " ucapnya dan aku mengangguk mengiyakannya setelahnya dia berlalu menuju kamar keponakan ku


" Jadi, itu yang membuat Abang begitu takut untuk mati " candaku dan mendapat tawa kecil darinya


" Siapa manusia yang tak takut mati, hanya saja cara mereka bersikap yang menunjukan Solah mereka tak takut mati " jawabnya


" Abang hanya merasa kalu abang belum membahagiakannya, maka dari itu Abang ingin hidup lebih lama lagi untuk bisa memberikannya banyak kebahagiaan " lanjutnya menjelaskan


" Abang yakin kamu bukan seorang pengecut " ucapnya yang membuat ku sedikit tak menyukai itu


" Kapanpun ripa'i akan menikahi kamu, kamu harus sudah siap " ucapnya seolah menegaskan kalau ripa'i lelaki yang baik untuk ku.


" Apa Abang juga percaya pada ripa'i? " Tanyaku seolah tak mengerti dari ucapan kakak ku


" Abang hanya merasa tenang saja ketika melihat ripa'i disisi mu, Abang merasa dia laki-laki yang baik untukmu yang mampu memahami dirimu juga sipat mu " jelasnya padaku


" Abang merasa sudah lelah, Abang istirahat dulu, dan Abang minta menginap lah disini toh kamu juga tak sibuk bukan " pintanya, tadinya aku hendak menolak kerena masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan namun kakak ku lebih dulu berucap kembali


Malam semakin larut, namun aku tak dapat tertidur. Ada perasaan gelisah dalam hatiku entak kenapa, hati ku rasanya merasa was-was kadang juga perasaan ingin menangis datang dengan tiba-tiba tak tau apa sebabnya, bahkan aku selepas aku menunaikan shalat isya dan mengaji pun was-was itu tetap ada, bahkan seolah jantung ku berdetak dengan kencangnya.


Aku mencoba menghubungi ripa'i takut sesuatu yang buruk tengah terjadi padanya namun tak ada jawaban, mencoba menghubungi bang herdi ingin menanyakan apa semuanya baik-baik saja, dan bang herdi bilang semua baik-baik saja begitu juga dengan ripa'i. Lalu ada apa, mencoba menerawang pun tak ada jawaban yang ada hanya sebuah senyum dari banyak orang yang aku tak tau apa artinya itu.


Tak berujung mendapat jawaban dan ketenangan akupun hanya bisa berdoa, semoga tak ada sesuatu yang buruk yang sedang atau akan menimpa keluarga ku dan orang-orang terdekat ku.


Selesai dengan itu, aku pun memaksakan diri untuk tertidur, hingga sebuah mimpi datang dan membangunkan aku dari tidurku.


Didalam mimpi itu. Almarhum guru silat ku datang padaku dengan tersnyum lebar seolah dia sedang memberiku restu etah tentang apa itu, tak hanya itu dia juga memberiku sesuatu yang aku sendiri tak yakin dengan itu namun aku menerimanya.


Ku lirik jam di dinding ternyata menunjukan pukul tengah satu malam, mencoba tertidur kembali pun sangat sudah hingga aku memutuskan untuk melakukan tahajud, seselai itu membaca Alqur'an mencoba mencari ketenangan dengan membaca Alqur'an, lumayan lama dan ternyata saat kulirik kembali jam di dinding itu sudah menunjukan pukul 3 lewat bahkan hampir memasuki waktu subuh, kulanjutkan saja membaca Alqur'an sambil menunggu waktu subuh lagi pula sangat jarang sekarang aku melakukan ini semenjak aku di sibukan dengan urusan pekerjaan.

__ADS_1


Selesai melaksanakan solat subuh, aku tertidur kembali rasanya mataku sangat mengntuk, jadi ku pikir tak apa tertidur kembali toh nanti juga tth ipar ku akan membangunkan ku jika ada sesuatu yang penting.


***


Pitri vov


Hari ini aku dan orang rumah sedang sibuk mempersiapkan pernikahan tth ku teh Rinjani, bukan hanya aku bahkan para sahabat dan teman dari teh Rinjani juga, sudah dari semalam semua teman teh Rinjani sudah ada di tempat kami, merka sengaja ku beri tahu kalau pernikahan teh Rinjani di oercepat atas keinginan ripa'i, bukan tanpa alasan ka ripa'i memajukan tnggal dan hari pernikahan mereka dan bukan tanpa perkiraan pula,


Semua sudah di oerhitungkn olehnya, namun yang membuat kau bingung kenapa seolah teh rijnai tak mengetahui itu, enthlak aku hanya ingin yang terbaik untuk nya dan aku yakin ka ripa'i orang yang tepat.


Saat aku tau kabar kalau pernikahan teh Rinjani di oercepat aku langsung menelponnya namun hanya berkata kalau aku dan Indri akan pulang, entah apa reaksi para teman teh Rinjani sol ini aku tak tau yang kulihat dari rautbwajah mereka, bampaknya mereka juga sama seperti ku merasa kesal namun juga bahagia.


Semua persiapan sudah hampir siap, karena hanya pernikahan sderhana dan tak mengadakan pesta besar-besaran jadi semuanya bisa cepat di tangani berkat kerja sama antara para sahabat dan juga teman teh Rinjani.


Saat para teman teh rinajni berdatangan dan menanyakan keberadaannya aku baik yang lain hanya diam tak menjawab karena aku sendiri tak tau apa tth ipar kami audah mendandani teh Rinjani atau belum, namun kuseragkan masalah itu padanya.


Saat te nur dan keluarganya datang, ku lihat dia menangis sambil memeluk ibu, terakhir kali aku melihatnya menangis saat dia sedang ribut dengan mantan suaminya dulu dan kami tak bisa apa-apa, namun melihatnya sekarang aku sungguh merasa bahagia karena dia sudah menemukan orang yang tepat untuknya, di tambah dia sangat menghargai tth tertuaku itu.


" Assalamu'alaikum! " Kudengar suara lembut seseorang memberi salam, saat melihatnya ternyata itu nay dan suaminya namun tak membawa baby twins mereka.


" Wa'allaikum sallam " ucapku dan yang mendengar sakam kak nay, aku menyemburnya dengan senyuman, jarang rasanya aku tersenyum pada semua orang namun hari ini aku harus banyak tersenyum pada banyak orang.


" Mari kak masuk " ajakku padanya dan dia mengikutiku


" Diman Rinjani? " Tanyanya, tak tau harus menjawab apa jadi aku hanya asal menjawab


" Masih di dandani, ka nay silahkan minum dulu aja dan masnya jangan sungkan ya " ucapku


" Mbak Rena " sapa ja nay pada wanita cantik nan anggun di belakang ku, aku menoleh ternyata itu mas Andi dan istrinya mbak Rena, karena merasa nay sudah ada temannya jadi aku memilih untuk pamit dari sana guna menemui teh rijani aku khawatir kalau dia masih belumbtau semuanya

__ADS_1


" ka nay, mbak Rena pitri pamit dulu ya mau melihat apa teh rijani sudah siap " ucapku berpamitan dari hadapan mereka dan keduanya mengiyakan


Akupun pergi kerumah kak Dedi karena aku tau ka Rinjani ada disana.


__ADS_2