Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 87


__ADS_3

Saat aku sudah berada tepat di depan ripa'i, ripa'i terlihat sedikit heran, mungkin dia tak percaya aku berada di depannya saat ini.


Detik berikutnya ripa'i tersenyum padaku dan aku membalas senyum itu. Cukup lama kami saling menatap, ada rasa rindu yang besar dari tatapan ripa'i jika saja saat ini hanya ada aku dan dia, mungkin saat ini aku sudah dalam pelukannya.


Ripa'i melangkah satu langkah padaku, dia mengulurkan tangannya,


" Nona Dena kau datang juga, bagaimana kabar anda? " Ucapnya seraya tersenyum, anta hanya diam melihat ku dan ripa'i.


" He'mh, nona Yun yang memintaku datang " ucapku sambil menjabat uluran tangan ripa'i, ripa'i memegang tangan ku lama aku tersenyum dan berkata.


" Kabar ku baik, bagaimana dengan anda tuan, dan tunangan anda " ucapku, lagi dan lagi ripa'i tersenyum membuat ku ingin memeluknya. Aku melepaskan tangan ku karena tatapan gadis yang bersama ripa'i sudah tak bersahabat.


Aku tersenyum saat bertemu pandang dengannya, teringat dulu glenca pernah bilang padaku agar aku menjauh dari ripa'i karena dia bilang ripa'i tunangannya, dan sekarang seluruh dunia bisnis tau bahwa glenca tunangan ripa'i, sedang tentang aku kekasih ripa'i hanya sebagian saja ah, tidak bukan sebagian bahkan hanya sedikit orang.


" Apa kabar anda nona Rinjani " ucapnya, awalnya aku heran kenapa dia menyabut ku dengan panggilan itu, namun di menit berikutnya aku paham. Karena dulu ripa'i mengenalkan ku padanya dengan nama itu.


" Kabar baik nona! " Aku menjawab.


" Bagaiman, apa sekarang anda sudah percaya jika William tunangan ku " ucapnya padaku pelan, mungkin tak ingin di dengar yang lain.


Aku tersenyum, " apa anda yakin nona " santai ku, aku ingin tau bagaimana reaksinya kalau aku tak sekhawatir itu padanya.


" Apa anda tau cincin siapa yang lebih dulu ripa'i sematkan " ucapku lagi.


" Sudah pasti punya ku, karena dia lebih dulu memberikannya padaku saat dia membeli sepasang cincin kembar, dan aku yakin dia belum kembali ke negaramu bukan " yakinnya berucap, aku menjawabnya dengan senyuman tak ingin banyak bicara biarlah keadaan yang berucap.


Anta kembali ke sisiku begitu juga ripa'i, dia kembali ke sisi glenca, aku hanya bisa tersenyum mau bagaimana lagi.


Tiba-tiba, anta merangkul pinggang ku aku menatapnya namun dia hanya tersenyum, ah senyum itu, Senyum sama seperti senyum yang pertama kali ia berikan padaku senyum penuh kehangatan.


Ku lirik ripa'i, wajahnya datar, pandangannya tertuju pada tangan anta yang sedang merangkul ku mungkin dia tidak suka, namun hanya bisa diam.

__ADS_1


Kami saling bercengkrama, tak lama tamu lain menghampiri kami, tepatnya menghampiri ripa'i dan glenca, tadinya aku dan anta hendak menjauh namun di cegah oleh seseorang.


" Tuan Arantha " suara seseorang dan anta pun menoleh.


" Apa kabar tuan " lanjutnya saat anta menghadapnya.


" Tuan Rendra, apa kabar anda " ucap anta pada laki-laki itu, laki-laki itu beralih pada ku seraya tersenyum.


" Hai nona, apa anda nyonya Arantha Surya? " Ucapnya, aku tak mengerti arah pertanyaannya namun anta memanfaatkan keadaan itu dengan baik.


" Tepatnya calon nyonya Arantha Surya " ucap anta, aku hanya diam saja, ripa'i menatap ku tajam dan aku menunjukan cincin yang ada jari manis ku dia tersenyum.


Aku memang tak suka dengan kabar yang beredar tentang hubungan ripa'i dan glenca, namun karena aku tau keadaan yang sesungguhnya jadi aku hanya bisa bersabar dan menunggu tanggal mainnya saja.


Sebisa mungkin aku tetap tersenyum ketika ripa'i di peluk, bahkan di cium oleh glenca. anta paham kalau aku ingin sekali berbicara pada ripa'i dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi sebenarnya.


Anta meninggalkan laki-laki yang tadi menyapanya, dia mendekat pada ripa'i dan berbicara sesuatu entah apa.


" Untuk apa kita kesini? " Datar ku bersuara, sedikit kesal ku rasakan pada anta, apa dia tidak paham kalau aku masih ingin melihat ripa'i.


" Kita akan bermalam di sini " ucap anta enteng.


" Di sini, untuk apa? " Heran ku, hotel yang sekarang kami kunjungi tak jauh dari pesta keluarga glenca.


" Ikut aku " anta menarik tangan ku, aku mengikuti langkahnya. Tibalah kami di depan sebuah pintu yang dapat ku pastikan itu pintu kamar untuk ku.


" Kau tidurlah, jika dia sudah sampai aku akan membangunkan mu " ucapnya, anta mendorongku masuk saat pintu telah dia buka, sedang dia entah mau kemana.


Aku merebahkan tubuhku di kasur empuk dalam kamar itu, air mataku lolos, keluar dengan sendirinya ada rasa sesak yang ku rasakan di dadaku, ku dengar ponselku pun berbunyi namun enggan rasanya aku mengangkat nya hanya ku biarkan saja.


Sejauh apa aku bisa melangkah, sejauh apa aku bisa berdiri, melangkah, terjatuh, terluka, bahkan hampir putus asa. Namun aku selalu mencoba bangkit dan memulai semuanya kembali, namun entah kenapa kali ini keyakinan ku goyah, aku juga tak yakin jika aku masih bisa bersama orang yang hatiku mulai sayangi, mengingat seseorang yang berada di sisi ripa'i saat ini sungguh tangguh kekuasaannya, jika terus memaksakan aku tak tau apa yang akan terjadi padaku, bahkan mungkin keluarga ku.

__ADS_1


Aku hanya bisa berharap kalau aku masih setangguh dulu, sekuat dulu, bahkan jika bisa aku ingin menguatkan kembali hatiku bahkan membekukannya kembali agar tak kurasakan sesak ini lagi.


Air mataku terhenti dengan sendirinya, aku bangun dari rebahan ku, ku lirik jam di tangan ku pukul 1 malam, saat keluar pesta tadi pukul 12 lebih.


'ibu, sedang apa? Apa sedang tertidur, lelap kah tidur ibu, semoga begitu, Jani ingin pulang dan tidur bersama ibu, memeluk ibu dan juga kedua adik Jani, semoga ibu tak mengalami kesulitan lagi tak peduli seberapa sulitnya Jani akan selalu berusaha mewujudkan semua yang sudah Jani impikan untuk kebahagian ibu, bapak, juga keluarga kita, do'akan jani semoga selalu berhasil dan sehat, juga selalu dalam lindungannya ' pikiran itu selalu muncul ketika aku merasakan saat-saat seperti ini.


Ku dengar pintu kamar ku di ketuk, dan di buka dari luar, aku berbalik dan melihat ke arah pintu, air mataku kembali menetes kala melihat wajah tampan itu, wajah tampan yang sedang tersenyum manis padaku,wajah tampan yang akhir-akhir ini ku rindukan.


Dia berjalan mendekatiku, air mataku semakin tak dapat ku bendung aku menangis tanpa bersuara, bibirku tetap memaksakan tersenyum, ripa'i berdiri tepat di depan ku, ya orang yang masuk kamar ku ripa'i, aku menundukkan wajahku tak mau ripa'i melihat ku kembali meneteskan air mata untuk yang ke sekian kalinya.


" Maaf membuat mu menangis! " Lembutnya seraya menegakkan wajahku agar bisa melihat wajah ku.


Aku menutup mataku tak ingin menunjukan betapa lemahnya aku saat ini.


Ku rasakan jemari ripa'i mengusap air mata di pipiku, namun bukannya berhenti justru air mata itu tak berhenti, aku semakin sesak entah perasaan apa yang sedang ku rasakan.


Ripa'i mengecup keningku, beralih pada bibir ku, aku pun membuka mataku, ripa'i tersenyum menatapku.


" Tak perlu khawatir, aku, hatiku, bahkan tubuh ini masih milik mu! " Ucapnya lembut dengan terus menyapu air mata di pipiku.


" Berhentilah menangis, aku tak mengijinkan mu menangis jika untuk hal ini " ucapnya kembali.


Tak peduli dengan keyakinan ku untuk tak ingin di peluk atau memeluk, dan tak mau munafik pada perasaan ku saat ini, aku ingin memeluk ripa'i, memeluknya sangat erat untuk menumpahkan semuanya.


Aku memeluk ripa'i, meski dia mencoba melepaskan pelukan itu aku tak mau, ku dengar tawa kecil keluar dari nya namun aku tak mempedulikan itu. Ripa'i memelukku sama eratnya.


Setelah merasa lebih tenang dan air mata ku sudah tak mengalir kembali, bahkan sesak itu juga sudah berkurang, aku melepas pelukan ku.


" Kenapa? " Kata yang keluar dari mulut ripa'i, aku hanya datar melihatnya.


Sungguh dia bertanya kenapa?

__ADS_1


" Lihat ini, aku tetap menyimpannya dan maaf aku menunda rencana kita untuk menemui ibu dan bapak " lemahnya berucap, aku tau semuanya namun tak mau berbicara biarlah ripa'i yang menceritakannya sendiri.


__ADS_2