Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 127


__ADS_3

Hampir seluruh tamu sudah bubar, hanya menyisakan beberapa para kerabat dan sahabat itu pun mereka yang belum bersuami, sedang untuk ojah dan pupu, mereka sudah pulang bersamaan dengan para teman ku yang dari kota.


" Teh, Jani sudah lelah, Jani istirahat duluan ya " pamitku pada para tth ku yang masih mengobrol dengan yang lain


Ripa'i melirik ku, dia menatap ku kasihan mungkin dia tau aku kelelahan.


" Ceilah, penganten baru pengennya ngamar aja " seloroh Caca, aku menoleh dan sengaja menambahkan sedikit candaan


" Tentu, apalagi yang di tunggu pengantin baru kalau bukan malam pertama, bukan begitu " ucapku sembari melirik pada ripa'i di akhir kalimat, ripa'i tertawa kecil dia paham kalau aku hanya bercanda


" Ya udah gue duluan, dah " lanjutku berbicara setelahnya langsung menuju kamar, rasanya ingin segera membaringkan tubuh lelahku Dan langsung tertidur.


Entah sudah berapa jam aku tertidur namun saat aku membuka mataku, aku mendapati ripa'i yang sedang bermain dengan ponselnya, jam berapa ini kenapa dia masih bermain ponsel, akupun melirik jam di dinding yang ternyata pukul 3 malam menjelang subuh.


Aku bangun dari tempat tidur, mendekati ripa'i yang sedang duduk santai di atas bangku panjang yang ada di kamar ku


" Kenapa terbangun? " Tanyanya saat menyadari aku didekatnya, bukan menjawab namun aku balik bertanya


" Kenapa belum tidur? " Tanyaku balik, dia tersenyum dan memberikan jawaban yang membuat ku tak mengerti


" Aku takut mengganggu tidur mu " jawabnya


" Maksudmu, bagaimana bisa mengganggu ku sedang tertidur


" Kamu yakin jika aku tidur di sebelah mu, aku hanya akan tertidur? " Jawabnya


" Mungkin aku akan memeluk mu atu lebih yang bisa mengusik tidur mu " ucapnya kembali, aku hanya diam menanggapi itu, bagaimana bisa aku lupa itu, dia laki-laki dan bahkan kini aku halalnya, jadi bisa saja yang dikatakannya benar


" Baiklah, aku sudah terbangun jadi kamu bisa tidur " ucapku, kasihan ripa'i dia juga pasti merasakan lelah seperti ku


" Lalu kamu? " Tanyanya


" Aku akan ke dapur, mungkin ada yang bisa ku kerjakan disana " ucapku asal, namun mendapat senyum aneh dari ripa'i


" Benarkah, apa kau sedang berusaha menghindari ku " ucapnya, mata lelahnya sudah sangat nampak di wajah tampannya, aku merasa kasihan padanya harusnya dia ikut tertidur saja, jika takut membangunkan ku, dia bisa tidur di bangku yang dia duduki


"Tidak, cepatlah tidur kau sudah terlihat sangat kelelahan " lembutku berucap agar dia mau memejamkan matanya


" Temani " pintanya, merasa sudah kasihan melihat mata lelahnya akupun mengiyakan ucapannya.


Dia menuntun ku ke atas ranjang, menidurkan ku dan menyelimuti tubuhku dengan selimut, perasaan ku tak karuan ada perasaan takut, tegang dan entah apa lagi.

__ADS_1


Ripa'i ikut membaringkan tubuhnya di sebelahku kemudian menaikan selimut sampai atas dadanya, memejamkan matanya , Kemudian tertidur mungkin. aku memiringkan kepala untuk meliriknya, terlihat ketenangan di wajahnya yang kurasa dia sudah benar-benar tertidur.


Akupun ikut menutup mata namun tidak bisa tertidur kembali, karena aku takut akan melewatkan waktu subuh yang akan sebentar lagi datang.


Aku berpikir ingin memandangi wajah tenang ripa'i yang terlihat damai dalam tidurnya, maka akupun memiringkan badan ku dan menatap wajah itu, dalam gumam ku.


" Berapa banyak gadis yang dulu tidur di sampingmu, berapa banyak gadis yang menginginkanmu, namun kenapa kau malah menginginkan aku yang hanya bayangan bila si sampingmu " gumam ku dengan terus menatap wajah itu


" Kau tau arti bayangan bagiku, ada namun tak terlihat, hanya orang benar-benar ingin melihat lah yang dapat melihat bayangan, begitu lah aku, jika suatu saat aku mengecewakan mu, jika suatu saat kau merasa bosan dengan ku, maka apa yang bisa dilakukan oleh bayang sepertiku, tak banyak dan kau harus tau itu " gumam ku kembali, entah aku meratapi keadaan atau merasa diri tak pantas untuk ripa'i


Saat sedang ingin mengulurkan tangan ku untuk menyapu rambut yang menutupi keningnya, aku mengurungkan kembali takut jika dia akan terbangun, namun tangan ku ditariknya dan di tuntun untuk memegang wajahnya, aku kaget yang kupikir dia tertidur ternyata tidak.


" Apa hany itu pertanyaan yang ada di pikiran mi? " Tanyanya lembut setelahnya menciumi tangan ku.


" Aku tak pernah meniduri gadis manapun, jika semasa SMA aku terkenal dengan brengseknya aku, tak tu bukan pada para gadis, melainkan karena aku yang tak bisa sehari saja tak membuat ulah, dan karena itu aku mendapatkan julukan brengsek dari bang herdi " jelasnya, aku hanya diam mendengarkan sembari beradu tatap dengannya


" Dan mengenai gadis, aku tak pernah menganggap mereka kekasih hanya pelampiasan atas rasa sepi yang ku rasakan, dan aku tak pernah tidur dengan anak gadis orang selain sekarang ini " ucapnya kembali


" Lalu pada saat aku menolong mu dari amukan bang herdi, bukankah itu karena kau mau,,,, ah sudahlah " aku tak bisa meneruskan kalimatku yang kurasa itu tak sopan


" Teruskan " ucapnya dengan terus menciumi tangan ku


" Tidak perlu " jawabku


" Kapan aku melakukan itu? " Tanyaku


" Sudahlah, yang jelas aku bahagia kala mengingat itu, dan sekarang kebahagian ku bertambah karena kau sudah milikku sekarang " ucapnya


Aku baru tau kalau ripa'i memiliki sisi yang seperti ini, manja, bahkan yang biasanya dia tak banyak bicara kini aku dapat mendengarnya bicara tentang dirinya


" Apa kau bahagia juga " tanyanya padaku yang ku jawab dengan senyuman


Ripa'i menarik leher bagian belakang ku agar mendekat padanya, setelah itu, dia mengecup kening ku lama dan berlangsung pada bibir membuat ku tak nyaman dalam posisi ini.


Aku membiarkannya, hanya merasakan setiap kecupan yang dia berikan di bibir, pipi, mata, bahkan hidungku dan terakhir dia mengecup kembali kening ku lama.


" Tidurlah masih ada waktu untuk tertidur " ucapku membujuknya agar mau beristirahat


" Sekarang sudah pukul 3 lewat, rasanya tanggung nanti saja setelah solat subuh aku akan tidur, dan sekarang aku hanya Inging memeluk istriku saja " ucapnya, kemudian menarik ku dalam dekapannya, dia terus menciumi keningku namun aku hanya diam, apa lagi yang bisa aku lakukan.


Aku tak merasakan pergerakan ripa'i pagi yang ku pikir dia tertidur maka akupun mencoba mengangkat kepalaku ingin melihatnya namun, ripa'i malah ******* bibir ku, dengan lembut dan terasa hangat. Namun saat ciuman itu turun pada leher ku aku mencegahnya, dia menatapku dan tersenyum padaku.

__ADS_1


" Aku tau kau belum siap, dan aku paham itu. Aku takkan melakukannya selama kau belum siap, percayalah aku hanya ingin mencumbu mu, melepaskan rindu yang serasa ingin membunuh ku " lembutnya berucap, dengan mata terpejam dia kembali mengecup bibir ku, kemudian leherku, aku merasakan geli dan ingin tertawa sumpah ini pertama kalinya untukku.


Ripa'i menghentikan aksinya dan ikut tertawa kecil dengan ku, setelah itu tak ada lagi dia hanya mendekap ku seraya bercerita, apa alasan dibalik dia mempercepat pernikahan kami.


Aku tak habis pikir, apa ada wanita seperti itu, kenapa dia begitu beraninya merusak diri hanya untuk ambisi memiliki, percayalah aku tak melihat cinta darinya, yang kulihat hanya ambisi ingin memiliki ripa'i saja.


" Jika semu itu terjadi, berarti aku harus mengikhlaskan kamu menikahinya " asalku berucap


" Aku bukan pengecut, jika itu terjadi mau tidak mau aku harus bertanggung jawab " jawabnya


" walau harus melepaskan aku " ucapku kembali


" Siapa bilang aku akan melepaskan mu " jawabnya


" Jika kau menikahi glenca, maka aku yang akan pergi bukan begitu " ucapku


" Takkan ku biarkan itu, karena hanya satu wanitaku yaitu kamu " jawabnya


" Salah, jika itu terjadi maka bukan hanya ada aku, tapi juga glenca, dan aku tak bisa egois maka aku harus pergi darimu " ucapku kembali


" Jika kau pergi dariku, lalu kau akan memilih siapa? Anta, dia, apa kamu yakin " jawabnya seraya bertanya


" Kenapa? Bukankah dia juga sama sepertimu, menyayangiku dan mampu memahami ku " asalku menjawab namun ternyata ripa'i serius menanggapinya


" Jadi selama aku jauh darimu, kau mendapatkan kasih sayang darinya " ucapnya seraya melepas pelukannya


" Pantas kau tak pernah merindukan aku " ucapnya dengan melipat tangannya di dad


" Jujur, apa dia pernah melakukan sesuatu padamu " tanyanya dengan menatapku lekat


" Maksudmu? " Tanyaku balik


" Memelukmu, atau bahkan lebih " ucapnya entah itu hanya asal bicara atau itu isi pikirannya yang dia curahkan


Aku membalikan badan darinya, tak suka dengan perkataannya. Apa mungkin selama ini itu yang dia pikirkan tentang ku dan anta.


Ripa'i mencoba memelukku dari belakang mungkin dia paham kalau aku sedang kesal karena ucapannya.


" Maaf, aku tak pernah meragukkan mu, bahkan jika benar dia pernah memelukmu atu bahkan mencium mu itu tak penting bagiku, karena aku akan menghapus pelukan itu dan juga ciuman itu, katakan dimana dia mencium mu " ucapnya ada nada tak suka darinya


" Ripa'i, seperti apa kau mengenalku, dan sejauh apa kau memahami ku hingga kau menanyakan hal semacam itu padaku " jawabku, aku bangun dan hendak pergi dari kamar itu rasanya aku merasa sesak dengan apa yang ripa'i katakan. Namun tangannya mencegah ku, memaksaku kembali kedalam pelukannya.

__ADS_1


Aku hanya diam kala dia memelukku rasanya tak ingin bersuara, hingga ripa'i yang bersuara.


" Maaf, aku sungguh minta maaf, maafkan aku " ucapnya dan aku hanya diam, ku coba melepaskan pelukan itu memilih untuk duduk di bangku.


__ADS_2