Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 133


__ADS_3

Karena terlalu asik berbagai cerita dengan kakak, aku sampai lupa kalau aku di panggil ibu untuk makan bahkan rasa lapar pun sudah tak ada. Kakak mendengarkan semua cerita ku, bahkan dia menyemanagtiku.


" Sudah waktunya magrib, mau ibadah bersama disini " tawar kakak ku, sedang tth ipar ku setelah menjemput anak-anak dia langsung kedapur katanya ingin menghangatkan masakan yang sudah dingin.


" Mmmh, Jani ingin merasakan ibadah bareng Abang Jani sendiri bahkan Abang yang mengimami " tanggap ku


" Kalu begitu Abang bersiap dulu, dan menyuruh tth mu untuk menyiapkan mukena satu lagi " ucapnya dan aku mengangguk


Kami melaksanakan ibadah bersama di rumah kakak ku, terasa damai dan tenang pikiran ku stelah melaksanakan itu.


Saat sudah selesai dan mengaji kakak ku mengajak kami untuk makan, aku tersenyum, bagaimana bisa aku melupakan lapar ku tadi sore saat sudah bersama kakak ku padahal saat itu aku sungguh sedang lapar.


" Kita makan yuk " ajak tth ipar pada kami yang masih duduk di depan tv


" Yuk, Abang juga tadi sudah ngajak makan, tapi Jani memilih duduk di sini sama mereka " ucapku dan mendapat senyum dari tth ipar ku


Sampai acara makan selesai dan aku sudah puas bermain dengan keluarga harmonis ini, menurutku.


Akupun kembali kerumah, langsung masuk kamar karena waktu isya sudah datang, selesai dengan itu aku langsung ketempat tidur dan memejamkan mata setelah sebelumnya mengabari pada adikku kalau aku tak pulang.


Sampai aku benar-benar terlelap dan menemui alam mimpi.

__ADS_1


***


Anta vov


Hampir satu bulan dari pernikahan Dena Rinjani atau lebih akrab Rinjani, aku masih memikirkannya padahal ku tau itu tak boleh karena dia sudah menjadi istri dari laki-laki lain. Namun selama aku tak mengganggu mereka, hanya memikirkannya saja kurasa itu tak apa.


Kalian mau tau bagaimana perasaan ku saat mengetahui kabar kalau gadis yang selama ini aku inginkan ternyata Akan menikah, dan aku tau betul siapa yang audah berhasil mengisi hatinya bahkan mungkin sudah menjadi pujaan hati baginya.


Orang itu tak lain ripa'i, ya begitulah kami menyebut namanya ripa'i, jika saja dulu dia tak datang ke sekolah kami mungkin saat ini akulah yang memiliki gadis itu, namun salah ku juga karena waktu itu aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan kalau aku menyukainya karen ku pikir terlalu cepat aku takut dia akan menolak ku.


Namun pada kenyataannya, ripa'i lebih dulu menyatakan perasaannya yang ku pikir itu hanya candaan, dan yang ku dengar tentangnya dia cukup brutal itu yang membuat ku berpikir kalu dia Takan lama menyandang status sebagai kekasih Rinjani, namun pada kenyataannya, walau lama aku menunggu mereka berpisah namun itu tak pernah terjadi bahkan sekarang mereka sampai menikah.


Hatiku sakit, perih rasanya bahkan hampir saja aku menangis jika tak mengingat perjuangannya bersama ripa'i, bahkan sempat berpikir Takan datang karena ku pikir takkan sanggup melihatnya, namun aku tak ingin juga meninggalkan kesempatan ini, mungkin setelah ini aku takan melihatnya lagi, karena aku akan meninggalkan negara ini dan memulai bisnis baru bersama Jian.


Tak ku sangka, ternyata aku bisa begitu bodoh dalam hal ini, bagaimana tidak, sekian lama aku selalu meyakini bahwa Rinjani akan menjadi milikku padahal aku tau ripa'i tak akan mungkin melepasnya, jika dia mau bisa saja dia memilih wanita yang selalu mengejarnya, aku tau itu tanpa harus ripa'i memberi tau padaku.


Kini kurasakan hampa dihari ku, salah, mungkin di hidupku.


Karena sejauh ini aku tak pernah mencoba untuk membuka hati pada wanita lain, bahkan pada yanah sekalipun wanita yang sudah ku tau mencintaiku dan berharap aku bisa selalu di sampingnya, namun sungguh aku tak pernah memberi harapan padanya bahkan pada yang lain karena hatiku terpatri pada Rinjani, padahal jika saja aku mau mungkin aku bisa melupakannya dari dulu apa lagi semasa kuliah kami terpisah cukup lama dan ku yakin itu bisa membunuh perasaan ku padanya bila aku mau.


Sekarang aku hanya bisa merelakannya agar dia bahagia dengan suaminya, dan menjalani hidup seperti yang selama ini dia inginkan. O ia, aku jadi teringat akan ucapannya yang merasa lelah namun tak boleh menyerah, merasa ingin pulang, namun belum ada bekal yang akan di bawanya.

__ADS_1


Namun sekarang aku yakin dia akan baik-baik saja bersama orang yang dia sayangi.


Saat aku di bandara hanya yanah yang mengantar ku, dia tersenyum manis dan berkata padaku.


" Jaga dirimu, pastikan kau akan baik-baik saja, dan semoga kau bertemu dengan wanita yang kau cintai disana dan jaga dia baik-baik jika sudah menemukannya " ucapnya padaku


Bukan merasa senang dengan ucapan itu, justru aku merasa miris, seolah dia tak ingin mencintaiku ku lagi, bodoh, bukankah aku yang menginginkan itu, aku yang berharap dia tak mengharapkan ku lagi, namun kenapa rasanya aku tak suka dengan ucapannya barusan.


" Kalau kau tak menjaganya mungkin kau akan kehilangannya lagi, seperti saat kau kehilangan Rinjani " ucapnya kembali


Aku menatapnya lekat, apa selama ini dia tau semua perasaan ku pada Rinjani, ya mungkin dia tau itu karena dia bukan baru mengenalku.


" Mmmh, dan semoga kamu juga menemukan laki-laki terbaik yang bisa membuat mu bahagia " timbal ku dan mendapat senyum aneh darinya


" Aku berangkat, terimakasih sudah mau mengantar dan menemaniku " ucapku dan memilih masuk meninggalkannya


Sungguh bukan bermaksud tega padanya, hanya saja aku tak ingin dia berharap lebih dariku, karena selama ini kedekatan antara kami hanya formalitas semata.


Aku pun pergi dari negara itu, meninggalkan semua kenangan yang ku punya, dengan perasaan yang tenang aku mencoba memejamkan mata berharap saat aku terbangun semuanya selesai namun sayangnya tak bisa rasanya terlalu sulit mungkin nanti secara perlahan baru aku akan bisa melupakan segalanya.


" Jika kau memang untukku, maka aku yakin sejauh apapun aku lari darimu kita pasti akan bertemu, dan jika saat itu tiba aku akan menggenggam mu Takan ku biarkan kau lepas "

__ADS_1


__ADS_2