
Aku dan Shin Hye asik menikmati eskrim, tak mau kehilangan momen itu akupun berfoto bersama Shin Hye. Dia sangat senang bisa menghabiskan banyak eskrim dengan ku, aku pun demikian.
Aku merasa ada yang mengawasi ku entah siapa, ku edarkan pandangan ku mencari tau apakah benar aku sedang di awasi, atau hanya perasaanku saja.
Shin Hye menyadari kalau aku tengah mencari sesuatu dan dia pun bersuara.
" Jangan mencarinya, nanti juga dia datang dengan sendirinya." Celetuk Shin Hye, aku menoleh padanya seraya tersenyum.
" kau tau gadis manis, aku kemari hanya untuk membawa sesuatu yang harusnya menjadi milikku. " Datarku berucap.
" Apa itu? " Tanya Shin Hye kemudian.
" Bukan apa-apa, lupakan." Tak pantas rasanya aku membicarakan masalah orang dewasa pada gadis berumur 7 tahun.
" Baiklah. o ia bi, apakah paman yang bersama kita kekasih bibi? " Tanyanya lagi, aku tersenyum samar mendengar kata yang di ucapkan gadis kecil di depanku ini.
" Bukan, kami hanya berteman. " Jawabku.
"O begitu,, tapi aku lihat paman itu menyukai bibi! " Ucapnya lagi.
Aku tak menanggapi ucapan Shin Hye, karena ku pikir tak penting juga.
Setiap masa memiliki kisahnya masing-masing, masa SMP ku penuh dengan kelelahan, masa SMA ku penuh perjuangan, dan masa saat aku kuliah, penuh dengan pembelajaran. Kini masa remajaku,atau masa di mana aku harus bekerja, membanting tulang, memutar otak, juga membimbing kedua adikku. Apakah aku pernah mengeluh?. Tentu, aku akan mengeluh kala tak mendapat kepuasan dalam pekerjaan ku, atau apapun itu yang membuat ku merasa tak puas. Bahkan tak jarang aku menangis, kala aku merasa belum bisa membuat kedua orang tua ku bahagia.
Apakah pernah aku berpikir untuk mundur?. Sering, sering kali aku berpikir untuk menjalani hidup seperti para sahabatku saja, menjadi buruh konfexi, atau karyawan pabrik seperti ibuku. Namun pemikiran itu ku tepis kembali, kala aku mengingat bagaimana kondisi para sahabat ku yang menjadi buruh konfexi, tak ada perubahan dalam hidup mereka, mereka hanya mampu membantu keuangan keluarga mereka tanpa bisa menabung. Kenapa bisa begitu? Karena gajih yang tak seberapa, jika sekarang mungkin buruh konfexi sudah lebih maju, dalam gaji pun sudah hampir sama dengan karyawan pabrik bahkan mungkin lebih besar gaji konfexi, mungkin.
Saat sedang asik menghabiskan cup terakhir, aku melihat anta sedang berjalan ke arah kami,aku dan Shin Hye.
" Kenapa tak mengajakku makan eskrim juga? " Tanyanya, dengan muka di buat seolah sedih karena tak di ajak makan eskrim.
Aku hanya diam, namun Shin Hye bersuara,
" Paman juga mau ini " ucapnya seraya menunjukkan cup eskrim pada anta.
Anta ikut duduk, dia mengambil cup eskrim yang ada di tangan ku, aku hanya diam membiarkan anta menikmati eskrim itu.
Saat anta menyuapkan eskrim itu dengan sendok eskrim bekas ku, aku teringat ripa'i.
Ah ripa'i,biasanya dia menyuapi ku dengan sendok yang sama kala kami sedang makan berdua, namun sudah satu bulan tak ada kabar darinya entah dia kenapa aku tak tau.
__ADS_1
Aku asik dengan lamunan ku, tersadar kala gadis kecil di depan ku memegang tangan ku. Aku sedikit tersentak, mungkin karena lamunan ku yang terlalu dalam makanya aku merasa kaget.
" Bibi kenapa melamun? " Tanyanya.
" Tidak, bibi hanya sedang berpikir saja. " Jawabku asal.
" Berpikir. berpikir apa hingga membuat bibi jauh dari alam bawah sadar. " Ucapnya lagi, aku memandang lekat gadis itu, karena tak mau menjelaskan lewat kata-kata jadi aku menjelaskannya lewat pandangan itu.
Shin Hye tersenyum saat aku sudah selesai memandangnya, namun berbeda dengan anta. Dia malah terlihat datar.
Masih ingat, anta juga memiliki kemampuan lebih, tepatnya dia juga mempunyai Indra keenam.
" Kenapa paman terlihat datar? " Tanya Shin Hye pada anta.
Namun bukannya anta menjawab, justru dia malah bertanya padaku dan Shin Hye hanya diam.
" Apa kau begitu merindukannya? " Datarnya bertanya padaku. Aku meliriknya dan tersenyum sebagai jawaban ia.
" Jika bertemu dengan dia, apa yang akan kamu lakukan? Memeluknya, atau bahkan menciumnya? " Ucapnya, aku melihatnya datar, tak suka dengan ucapan yang baru keluar dari mulutnya. Bukan apa-apa, tapi dia harus lihat di antara kami ada anak kecil. Ku lirik Shin Hye hanya tersenyum.
" Itu bukan diriku." Datar ku menjawab.
Yun datang menghampiri kami, dia ikut duduk dengan kami.
" Apa sudah selesai? " Tanyaku padanya. Karena ku lirik jam di tangan ku sudah pukul 1 siang, dan aku belum menunaikan kewajiban ku, Yun bilang kalau dia sudah selesai dengan belanjanya maka akupun mengajak untuk pulang.
Saat perjalanan pulang, aku melihat masjid yang terletak di pinggir jalan.
" Anta, bisakah kita berhenti dulu di sana! " Pintaku pada yang mengemudikan mobil.
Anta menepikan mobil yang ia kemudikan, kami pun masuk bersama dan melakukan sembahyang bersama. Selepas sembahyang aku memanjatkan doa, agar apa yang akan aku jalani di berikan jalan dan kemudahan, serta selalu memiliki ke tambahan hati tak lupa agar kesabaran selalu bersamaku.
Selesai dengan itu kami pun melanjutkan kembali perjalanan untuk pulang.
" Aku istirahat dulu, bangunkan jika aku ketiduran nanti! " Pintaku pada Yun, Dia pun mengiyakan ucapan ku dengan angguk.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu aku melirik anta, aku lupa ada hal yang belum ku jelaskan padanya mengenai ripa'i. Oh, sungguh bukan maksudku ingin membuat sakit pada hatinya, namun dialah teman yang bisa ku andalkan saat ini, dan mungkin hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan.
" Anta bisa ke kamarku sebentar, ada yang harus aku jelaskan padamu." Ucapku dan berlalu ke kamar ku tanpa menunggu kata yang akan keluar dari anta, entah dia mau atau tidak.
__ADS_1
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang mirip kasur lantai, namun terasa nyaman dan hangat.
Aku mendengar pintu di ketuk.
" Masuklah " ucapku kemudian mendudukkan tubuhku.
Anta menyapu seluruh ruangan kamar yang ku tempati, terdapat beberapa foto ku bersama Hans, Wira juga Yun, saat menggunakan pakaian jas serba hitam mirif bodyguard. Anta memperhatikan foto itu.
" Itu saat kami mendapat tugas terakhir dari Andi, ah salah tepatnya Riandi " jelasku, anta beralih melihatku seraya tersenyum.
" Jadi setelah lepas dari SMA begini kehidupanmu, bahkan sampai mengenal orang-orang seperti mereka." Ucapnya, aku pun sama sepertinya tersenyum menanggapi ucapannya.
" Tidak, aku tak pernah menginginkan mengenal mereka. Namun takdir yang membawaku pada keadaan seperti ini. " Jawabku singkat.
" Lalu bagaimana kamu bisa bertemu dengan mereka? " Herannya bertanya.
" Awal bertemu mereka, aku tak menyangka kalau mereka orang-orang hebat, karena saat pertama bertemu mereka lebih mirip preman dan mereka menunjukan wajah aslinya ketika sudah mengetahui kemampuan beladiri ku dan mengajarkan aku lebih lagi." Panjang ku menjelaskan.
" Sudahlah, aku sedang tak ingin membahas itu. Aku ingin menjelaskan rencana kita nanti malam dan ini mengenai ripa'i " ucapku, dan nadaku pelan saat mengucapkan kalimat ripa'i.
Anta beralih menatapku, tatapannya sulit di artikan, datar namun menyimpan sesuatu.
Aku menjelaskan maksud kedatangan ku ke negara ini, dan semua rencana ku untuk membawa kembali ripa'i, tak ada kata yang keluar dari mulut anta ketika aku menjelaskan semuanya.
" Aku minta maaf, aku terlalu egois namun kau juga tau, dari dulu aku tak pernah sedikitpun memberikan kamu atau ripa'i harapan, namun sekarang aku sungguh sudah menyayangi ripa'i. Maafkan aku. " Ucapku setelah menjelaskan semuanya.
Tiba-tiba saja, anta memelukku erat. Aku tak ingin pelukan itu jadi aku pun berusaha melepaskan pelukan itu.
" Ku mohon biarkan seperti ini, sebentar saja." Ucapnya pelan.
Sesuai perkataannya, hanya sebentar dan dia melepaskan pelukan itu. Aku kesal, kecewa, namun mau bagaimana lagi.jika saja anta laki-laki brengsek mungkin dia sudah berani berbuat lebih, terlebih posisi kami saat ini di dalam kamar.
" Jika dia mengecewakan mu, dan menyakiti mu. Maka jangan halangi aku untuk merebut mu darinya. " Ucapnya seraya memegang kedua bahu ku.
" Baiklah aku sudah paham semuanya, kau istirahatlah nanti malam kita beraksi." Ucapnya dan ingin melangkahkan kakinya keluar namun aku mencegahnya.
" Tunggu! " Kata yang keluar dari mulutku. Anta membalikan tubuhnya dan menatapku, aku berjalan mengambil sesuatu yang beberapa hari lalu ku beli.
" Ini, ku harap kau mau memakainya ketika kita di pesta nanti! " Ucapku, dan memberikan sebuah kotak cincin, ya yang ku beli waktu itu sebuah cincin yang sama persis seperti yang di pakai ripa'i, namun ia memakainya di leher, tepatnya ripa'i menjadikan cincin itu bandulan kalungnya, dia bilang akan ada di jari manisnya jika aku yang memakaikannya nanti.
__ADS_1
Anta melihat cincin itu, kemudian tersenyum padaku. Setelahnya berlalu.