Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 114


__ADS_3

Aku hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan ripa'i, karena aku sendiri tak tau bagaimana dulu aku menilai ripa'i karena waktu itu aku menilai dia sama saja seperti yang lain.


Ripa'i terus menatap kearah ku, berharap aku memberi jawaban atas pertanyaannya namun aku hanya diam.


Pesanan kami datang dan itu menyelamatkan aku dari kebingungan, bingung harus menjawab apa pada ripa'i.


" Baiklah! Sepertinya kali ini kamu selamat " ucapnya dengan nada mengejek


" Silahkan menikmati " ucap bapak yang mengantarkan makanan kami


Aku hendak menyendok makanan ku namun terhenti karena ripa'i, dia mengambil sendok di tangan ku dan meletakkan sendok itu kembali.


" Kamu menyuruhku makan, kenapa mengambil sendok milikku " ucapku tanpa menoleh pada ripa'i melainkan fokus pada sendok yang akan ku ambil kembali namun di halangi ripa'i.


" Biar aku yang akan menyendok kan makanan untukmu " ucapnya dengan tersenyum manis


" Pai, jika terus seperti ini aku lebih baik pulang " datarku


" Kamu marah? " Tanyanya dengan serius


" Baiklah! Aku minta maaf, selamat makan " lanjutnya dengan nada lesu, melihat reaksi wajah ripa'i yang seperti itu, aku merasa tak enak hati, padahal aku tau ripa'i hanya ingin sedikit menunjukan perhatiannya yang sudah lama tak pernah nampak karena keadaan.


Aku mengambil sendok ku kembali, menyendok makanan yang ada di depan ku, ku lirik ripa'i hanya diam mungkin dia sudah tak memiliki selera untuk makan.


Sendok berisi makanan bukan masuk ke mulutku namun aku memberikannya pada ripa'i, ku dekatkan sendok berisi makanan itu ke mulutnya dan dia melirikku kemudian tersenyum dan membuka mulutnya.


Setelah menyuapi ripa'i aku menyendok ulang makanan kemudian memasukkannya ke mulutku dan itu membuat ripa'i tersenyum lebar.


Setelahnya kami makan dengan tangan masing-masing dengan tenang.


Selesai makan kami tak langsung pergi dari tempat itu, masih betah duduk di tempat itu.


" Maaf aku membuatmu merasa tak nyaman tadi " ucap ripa'i pelan


" Tidak, aku yang minta maaf karena selalu mengecewakanmu " jawabku


Setelah sedikit berbincang kami pun meninggalkan tempat itu, dan di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun sedang waktu isya sudah datang.

__ADS_1


Kami berhenti di depan rumah, entah itu rumah siapa kami hanya menumpang berteduh, aku terus melirik jam di tangan ku karena waktu terus berjalan namun hujan masih sangat deras.


Ripa'i melihat kekhawatiran di wajah ku, karena aku sungguh khawatir akan melewatkan waktu isya ku.


Ripa'i mengetuk pintu pemilik rumah, dan menanyakan tempat ibadah pada sang pemilik rumah, kebetulan sekali kami berteduh di rumah yang pemiliknya baik, mereka mengijinkan kami untuk melaksanakan solat isya di rumahnya.


Kami masuk dan di tuntun ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan berwudhu.


Ripa'i membersihkan diri terlebih dahulu, sedang aku menunggu di luar, selesai ripa'i aku bergantian.


Aku di pinjamkan alat sholat oleh si ibu pemilik rumah, ripa'i di pinjamkan peci dan sarung akhirnya kami melaksanakan solat isya dengan ripa'i yang menjadi imam ku.


Selesai dengan itu, kami hendak berpamitan namun di cegah oleh si ibu pemilik rumah, dia bilang hujannya masih cukup deras dan kami pun tak membawa jas hujan pula, ibu pemilik rumah meminta kami untuk duduk di ruang tamunya dan dia masuk ke dalam, tak lama ibu itu kembali dengan membawakan dua gelas teh hangat.


" Silahkan di minum " ramahnya seraya meletakkan teh hangat itu di depan kami,


Ripa'i melirikku seolah bertanya apa tidak apa-apa jika kita meminumnya.


Dan ripa'i pun meminumnya walau hanya sedikit.


Menunggu hujan reda kami sedikit berbincang dengan sang pemilik rumah, aku juga sempat bertanya apa mereka tinggal hanya berdua, karena selama aku duduk di rumah itu, aku tak melihat ada orang lain selain bapak dan ibu pemilik rumah.


Ripa'i menjawab pertanyaan yang bapak pemilik rumah tanyakan, dia menjelaskan kali aku tunangannya dan akan segera di nikahi olehnya setelah kakak ku sembuh.


Mereka mengangguk mengerti atas jawaban ripa'i.


Hujan sudah reda hanya menyisakan gerimis halus, aku dan ripa'i berpamitan karena ku lirik jam di tanganku sudah menunjukan hampir sepuluh malam, bisa kalian bayangkan sudah berapa lama kami berada di sini.


Saat aku berpamitan dan mencium tangan bapak dan ibu itu, mereka mengelus kepalaku seraya tersenyum hangat setelahnya berkata.


" Jagalah dia, jangan lihat cangkangnya namun lihatlah hati dan ketulusannya " ucapnya, sekilas aku menyadari ternyata bapak yang memegang tangan ku dan berkata itu memiliki Indra keenam, pantas sedari tadi ucapannya mampu menenangkan hatiku, bahkan seolah dia patut untuk aku jadikan tuntunan, entah kenapa pikiran itu ada padahal kami baru kali ini bertemu.


Bergantian kini ripa'i yang mencium tangannya dan bapak itu juga berkata pada ripa'i.


" Jangan jadikan rasa bimbang yang di rasakan nya berujung penyesalan untukmu nak " ucapnya pada ripa'i, ripa'i tersenyum pada bapak itu dan mencium kembali punggung tangan bapak itu setelahnya melihat ke arah ku dan tersenyum, dan entah kenapa aku merasa Malu untuk pertama kalinya pada ripa'i, entah karena senyumnya atau karena aku mengerti isi hati ibu dan bapak itu.


Setelah berpamitan, kami langsung menuju rumah ku, ripa'i mengendarai motornya hanya pelan karena masih hujan walau hanya gerimis, sempat aku meminta ripa'i untuk menambah laju kecepatan motornya namun dia bilang musibah tak akan memberitahu terlebih dahulu, ada baiknya bersabar untuk menuju keselamatan.

__ADS_1


Mendengar ucapan ripa'i aku sedikit bingung apa yang membuatnya bisa berbicara sebijak itu, atau aku yang tak pernah menyadari kalau laki-laki yang bersama ku ini selalu bersikap bijak.


Cukup lama berada di atas motor akhirnya kami sampai, saat melintas di depan rumah Caca, ku lihat dia ada di depan rumahnya aku dan ripa'i sempat menyapa.


Sampai di depan rumah, aku langsung di sambut pertanyaan oleh ibu dan bapak ku, sandi juga ada di situ sedang Indri entah dimana dia.


" Bagaimana keadaan kakak mu? " Tanya ibu, percayalah para bapak di tempat ku tidak suka banyak bertanya, mereka memang khawatir pada anak nya namun tetap bersikap tenang.


" Alhamdulilah Abang sudah lebih baik " jawabku, ingin aku bertanya kenapa mereka tak memberi tahuku jika kakak ku sedang sakit.


" Alhamdulilah " kata yang ku dengar dari mulut ibuku.


Ripa'i ku tinggal kekamar, dia sedang di temani sandi, biasanya sandi hanya diam saja karena di antara yang lain dia yang paling pendiam tak suka banyak bicara apa lagi bertanya.


Selesai mandi dan berganti baju, aku keluar membawakan minuman hangat untuk ripa'i, ku lirik di atas meja sudah ada segelas besar teh yang ku yakin itu teh hangat, ripa'i juga sudah berganti pakaian mungkin sandi yang meminjamkan pakaiannya.


Aku berbincang dengan ripa'i sebelum dia pamit.


" Kapan kamu akan kembali? " Tanyaku di tengah ripa'i sedang tersenyum


" Apa kau begitu ingin aku pergi? " Tanyanya yang ku tanggapi hanya dengan tersenyum


" Besok aku akan kembali ke Cina, bang herdi memberitahuku kalau semuanya sudah dia urus, aku hanya tinggal mengurus sisanya " ucapnya kembali.


Aku menatapnya khawatir, manusiawi jika aku merasakan itu, dan lagi aku bukan gadis sedingin dulu pada ripa'i.


" Jangan khawatir, aku janjikan semuanya baik-baik saja, karena aku juga tak ingin berpisah denganmu " ucapnya dan aku hanya diam


" Andai saja kau sudah menjadi halal ku, mungkin aku akan membawa mu juga untuk tetap di sampingku, karena kaulah kekuatan ku, kau yang selalu membuat ku tegar Dengan hanya memikirkan mu saja " lanjutnya lagi


" Eemmm, aku akan menunggumu disini " ucapku


" Di sini, jadi kau tak akan pulang hari ini? " Tanyanya


" Pulang! Ini rumahku ripa'i, sudah seharusnya aku di sini " ucapku


" Bukan begitu, lalu kapan kau akan ke sana? " Tanyanya

__ADS_1


" Mungkin aku akan lama disini, sekalian aku ingin mengembangkan usaha yang baru aku bangun di sisni " jawabku, ripa'i menatapku tatapannya seolah mengasihani ku, aku tersenyum padanya.


__ADS_2