Kisah Masa Ku

Kisah Masa Ku
Episode 57


__ADS_3

Tiba-tiba ripa'i menghentikan laju kendarannya dan melakukan panggilan dengan seseorang


" Langsung ke lokasi yang akan ku kirimkan jangan tunda seseorang tengah membutuhkan bantuan mu " ucapnya dan panggilan dimatikan,


Aku tak bertanya karna ku yakin yang di lakukan ripa'i pasti untuk kebaikan sahabat ku, dan mobil kembali melaju


Kurang lebih 4 jam kami berkendara dan kini mobil ripa'i sudah memasuki kawasan pedesaan ku, tepat nya di kampung ku, dan tak lama kamipun sampai


Aku pulang dulu kerumah, bagaimana pun aku harus menemui orang tua ku dulu sebelum yang lain untuk tetap memberi hormat ku pada mereka, tak lama hanya sekedar memberi salam mencium tangan dan pamit lagi untuk kerumah Asiah


Ripa'i pun begitu, namun ia membuka jas nya terlebih dulu dan hanya memakai kemeja saja, ampun deh pake baju apa saja pada dasarnya Kren mah ttp Bae Kren walau belum mandi


Aku, ibu dan ripa'i pergi bersama karna dekat kami hanya jalan kaki, sesampainya di depan rumah Asiah samar-samar aku mendengar ada yang mengaji namun ada juga suara tangis pilu, mungkin tangis dari kedua orang tua dan sanak sodaranya,


Ku ucap salam dan masuk kerumahnya, seketika hawa dingin menyelimuti tubuhku ntah ada apa, dan ternyata banyak tetangga juga yang ada di sana sedang mendampingi ibu sahabatku yang sedang menangis


Aku menghampiri ibunya dan mencium punggung tangannya


" Assalamualaikum Bu " lesu ku, karna melihat keadaan ibunya saja seperti ini bagaimana anaknya


" Wa'allaikum sallam, " jawabnya, dia menatapku dan air matanya berderai kembali


" Jani..." Lirihnya seraya menahan isakkan, aku mengangguk


" Dimana Asiah Bu, boleh Jani menemuinya " pintaku takut kalau tak boleh menemuinya


" Di dalam, silahkan ibu buatkan minum dulu " ucapnya, ketika dia mau berdiri namun tak jadi mungkin kakinya terasa lemas karna melihat kondisi anaknya


" Tidak usah Bu, duduk saja disini nanti Jani ambil sendiri kalau mau " ucapku


Aku dan ripa'i masuk dalam kamar Asiah, ada beberapa sodara dan juga bapaknya yang sedang mengaji, aku menyalami bapak Asiah lalu kemudian menatap Asiah yang sedang terlelap


Aku mendekatinya sedang ripa'i dia ikut duduk dengan bapak Asiah dan sedikit berbincang, ntah apa yang sedang mereka perbincangkan fokusku pada tubuh pucat nan kurus yang ada di depan ku


Ku pegang tangannya dan itu membuatnya terbangun, aku tersenyum menguatkannya dan dia juga tersenyum namun tak ada air mata darinya, seolah ia ikhlas dengan apa yang sedang ia derita namun justru itu membuat ku semakin tersayat

__ADS_1


" Kenapa tidak bilang hemmm " pelan ku, Asiah tersenyum


" Sudah lama " tanya ku lagi seraya terus menggenggam tangannya


Asiah mengangguk, 'sungguh luar biasa' pikir ku selama ini i selalu terlihat tenang dan ceria-cria saja namun tanpa ku duga ternyata dibalik semua itu tersimpan kesakitan yang luar biasa


Aku menetes kan air mata sungguh perih rasanya, beginilah keadaan di desa ku yang masih jauh dari kata maju pada saat itu


Asiah menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar aku tak boleh menangis, sekilas aku teringat yanah bukankah dia kini seorang dokter mengapa tak mencoba menghubunginya saja


Aku mencoba menelpon yanah namun tak ada jawaban munginkin dia sedang sibuk, aku sedikit prustasi dengan itu, hingga kurasakan tangan seseorang memegang pundak ku


" Jangan khawatir teman ku akan segera sampai " lembutnya menenangkan ku


Ripa'i beralih menatap Asiah dia tersenyum, aku terus memperhatikannya, tak ku sangka sikap hangat nya memang tak pernah berubah, dia duduk di samping ku


" Masih ingat saya " lembutnya pada Asiah dan Asiah mengangguk


" Syukurlah, kamu hebat, kamu bisa bertahan sejauh ini maka saya mohon bertahanlah sebentar lagi demi sahabat mu ini dan demi kedua orang tuamu " jelasnya pada Asiah dan dia hanya mampu tersenyum, lagi dan lagi air mata ku jatuh aku menangis tanpa suara ripa'i tersenyum melihat ku dia menggenggam tangan ku yang memegang tangan asiah kuat, tangan satunya mengusap pucuk kepala ku pelan


Jika kondisinya tidak seburuk itu, ku yakin banyak kata yang keluar dari mulutnya karena melihat bagaimana hangatnya ripa'i


" Yah aku keluar bentar ya, bentar aja mau membuatkan minum dulu untuk ripa'i " lembutku dan Asiah mengangguk sambil tersenyum


Akupun melangkah mencari dapur di rumah Asiah sedang ripa'i tadi ia ijin untuk menerima panggilan dari temannya


Aku lihat dapur Asiah berantakan mungkin karna ibunya tak sempat membereskan karna terlalu memikirkan anaknya, ku bereskan dapur itu dulu mencuci barang-barang yang kotor dan menyimpannya pada tempatnya kemudian aku membuat teh manis hangat untuk teman hatiku


Aku membawa teh itu keluar dan memberikannya pada ripa'i, aku melihat orang asing di antara keluarga Asiah yang sedang berkumpul dengan ripa'i, aku memasang muka biasa saja, mungkin dia teman yang di maksud ripa'i


Aku kembali ke kamar Asiah tak mau ikut nimbrung dalam obrolan di luar,


" Yah mau ya berobat bersamaku " aku berusaha membujuknya agar mau menerima bantuan ku, rasanya percuma punya uang kalau sampai aku tak bisa membantu sahabat kecilku


Asiah menggeleng, air matanya menetes aku kaget karna dari tadi dia tak menangis kenapa sekarang menangis, apa sakitnya terasa lagi

__ADS_1


" Kenapa apa sakit " panikku, akupun langsung berlari keluar memanggil ripa'i,


" Ripa'i Asiah " ucapku, cukup seperti itu ripa'i pasti paham aku berlari kembali ke kamaberlari dan ripa'i menyusul ku


Bukan hanya ripa'i temannya juga keluarganya


Teman ripa'i memeriksa Asiah, dengan sangat teliti ia mengecek semuanya


" Kita harus segera merawatnya jika tidak maka aku tak bisa berbuat banyak untuk membantunya " ucapnya pada ripa'i, dan ripa'i setuju, aku tersenyum rasanya bangga sekali memiliki teman hati yang sepertinya


Bapak Asiah menengahi, " tapi pak kami orang biasa orang tak punya, rumah sakit disini saja kami tak mampu bayar apa lagi rumah sakit di kota " ucapnya sangat lirih mungkin sudah tak sanggup lagi menahan segala sesuatu yang ada dalam pikiran nya


Ku genggam tangannya berharap dapat menguatkannya


" Rinjani yang akan jamin semuanya, Rinjani akan lakukan yang terbaik apapun caranya Asiah harus sembuh kembali, bapak tak harus pikirkan itu " lembutku,


Ku sadar untuk biaya Asiah tak sedikit dan operasi jantung memerlukan biaya ganda namun aku yakin tabungan ku pasti cukup, beruntung aku tak pernah menggunakan uang ku untuk poya-poya jadi semua aman


" Tapi Rinjani itu uang mu untuk kedua orang tuamu " ucapnya


" Bapak tak perlu khawatir itu tabungan pribadi Jani bukan tabungan jatah ibu atau bapak Jani "


" Sudah lakh jika bapak sayang Rinjani terima maka sekarang juga kita berangkat ke kota " lanjutku tak mau lama mengulur waktu


Bapak Asiah berdiskusi dengan keluarganya dan mereka setuju, maka kamipun segera menyiapkan mobi, ripa'i dan aku kembali ke rumah ibu untuk mengambil mobilnya dan juga tas ku yang ku tinggalkan


Sedang teman ripa'i memasang peralatan di tubuh Asiah ntah apa itu, dia bilang akan sedikit membantu, aku hanya tau salah satunya saja dari alat itu ya itu


Tak lama kami kembali ke tempat Asiah, ripa'i mengangkat tubuh Asiah, tadinya hendak bapaknya namun karna tubuhnya lemah jadi ripa'i sendiri yang mengangkat nya


Aku menghampiri ibu ku untuk berpamitan


" Bu Dena berangkat lagi, do'akan semoga semua baik-baik saja " ucapku setelahnya mencium tangan ibuku


" Hooh nu Hade, bere nyaho lamun ngges datang " ( iya hati-hati kasih tau kalau sudah sampai ) begitulah ucapnya aku mengangguk aku memberi amplop yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari karna memang aku dan adik-adikku berencana pulang walau hanya sehari

__ADS_1


Ripa'i menghampiri kami dan ia mencium punggung tangan ibuku, aku tersenyum, bila biasanya ia hanya akan berjabat tangan saja dengan orang di kota untuk memberi hormat maka beda halnya bila dengan ibuku


" Kamu dengan ku biar Gibran yang membawa keluarga Asiah " titah ripa'i aku menurut saja, tadinya aku mau satu mobil dengan asiah


__ADS_2