
Aku mengenal ripa'i lama setelah keluarganya akulah yang lebih mengenal dia,aku ingin semua yang terbaik untuk orang-orang yang ku sayang tanpa terkecuali semua sahabat dan teman-teman ku.
Waktu menunjukan pukul tujuh malam aku sedikit mengantuk mungkin efek dari obat yang kuminum atau memang karena aku sedang sakit, Indri sudah bangun saat Maghrib tiba aku membangunkannya, kini di kamar ini hanya aku dan Mbak Rena dia setia di sampingku sempat keluar hanya untuk mengambil makan saja setelah itu kembali ke kamarku dan makan di kamar, sesekali dia menggodaku dan aku cukup terhibur untuk itu, aku ingat kalau aku belum mengabari mas Rendi maka aku mencari ponsel ku, Hem hampir lupa dengan ponselku dimana dia
" Mbak boleh pinjam ponselnya ?" Tanyaku ingin menanyakan ponselku pada Andi ku yakin dia tau, karena aku tak melihatnya di meja kamar
" He'mh ini pakailah " ucapnya dan memberikan ponselnya padaku
Tak tau nama kontak Andi di ponsel mbak Rena mau tanya dia sedang asik mendengarkan lagu, akupun berpikir kenapa tak menghubungi nomor ku saja, ah apa mungkin aktif namun tak salah jika ku coba maka akupun menghubungi nomorku.
Tut
Tut
Panggilanku di angkat
" He'mh " suara di sebrang sana
" Siapa yang memegang ponsel ini ?" Tanyaku namun suaranya sangat ku kenali
" Aku " ucapnya dan masuk ke kamarku, benar Suara itu milik ripa'i
Dia menghampiriku dan duduk di sampingku mbak Rena melirik sebentar dan berpindah ke bangku
" Untuk apa mencari ini kau masih harus istirahat " lembut ripa'i sembari memberikan ponsel ku, aku mengambilnya
" Hanya ingin mengabari mas Rendi " asalku menjawab
" Aku sudah mengabarinya kalau kau masih belum bisa bekerja " ucapnya lagi, aku tersenyum padanya sungguh pengertian, kemudian aku teringat pada Asiah
" Lalu bagaimana perkembangan Asiah " tanyaku
" Jauh lebih baik " jawabnya
__ADS_1
" Terimakasih "
" Untuk "
" Kau dan semua yang kau lakukan untuk ku "
Cup
Ripa'i mengecup keningku sekilas, mengusap lembut kepalaku dan menatapku penuh kasih sayang
" Bisakah kalian melihat ku disini " celetuk mbak Rena aku dan ripa'i menoleh
Ripa'i memegang tangan ku seraya terus berbicara seolah tak ada lelahnya, sesekali dia mencandai ku juga menggodaku kami tersenyum tertawa kecil bersama sesekali mbak Rena juga ikut menimpali, hingga Andi datang dan ikut bergabung dengan kami dia menatap ku hangat sesekali tersenyum ku yakin dalam pikirannya ada sesuatu.
" Kenapa melihat ku begitu ?" Tanyaku ripa'i melirik ke arah Andi sebelum menjawab dia tersenyum
" Kalau saja dulu waktu kita bertemu kau sudah seperti sekarang bukan anak SMA, mungkin sekarang kau sudah menjadi milikku " celetuknya membuat ku melihatnya datar ripa'i dia hanya tersenyum sedang mbak Rena dia geleng-geleng kepala mendengar perkataan Andi
" Lantas " asalku
" Jangan sampai kau melepaskannya kau akan menyesal jika itu sampai terjadi " ucap Andi pada ripa'i seraya memegang pundaknya
" Tentu " asal ripa'i
" Sejujurnya aku penasaran kenapa kau bisa menaklukan hatinya dan aku juga penasaran kenapa kau yang dia pilih, namun karena ini sudah malam dan gadis kecilku butuh istirahat jadi kalian bisa ceritakan nanti sekarang istirahatlah " ucapnya
" He'mh, istirahatlah agar cepat sembuh " timbal ripa'i dan ikut keluar bersama Andi, aku di temani mbak Rena bukan kedua adikku karena mereka sudah tertidur setelah makan malam selesai
" Mbak nggak kerja " tanyaku mengingat dia juga salah satu pekerja mas Rendi
" Aku sedang mengambil cuti " jawabnya
" Mmhhh, o ia mengenai kerjasama dengan perusahan Huang apa mbak tau siapa direktur utama mereka ?" Tanyaku
__ADS_1
" He'mh, kenapa ?" Tanyanya balik
" Tidak apa-apa hanya saja aku penasaran dengan dua gadis yang di utus perusahaan itu untuk menemui ku " jawabku
" Penasaran ?" Ulang mbak Rena
" Tidak apa-apa, mari kita tidur aku sudah lelah " tak mau menjelaskan sesuatu yang belum pasti jadi aku mengajaknya untuk tidur saja.
***
Sudah hampir satu Minggu aku di sini keadaan ku juga sudah membaik bahkan aku sudah bisa berjalan-jalan sedikit berolahraga namun belum bisa terlalu berat, mbak Rena sudah pulang begitu juga kedua adikku sedang ripa'i masih setia menemaniku hanya saja dia memilih tinggal di tempat lain walau Andi melarangnya.
Teman-teman ku mereka sering mengunjungi ku jika ada waktu luang, saat ini aku sedang mengendarai mobil milik Andi hanya untuk berjalan-jalan mencari udara segar terlalu lama berbaring membuat ku bosan, Andi memperingati ku agar pergi tak terlalu jauh aku hanya mengangguk mengiyakannya.
Aku memilih menepikan mobil ku di sebuah pantai yang indah, suasana laut membuat ku sedikit terasa damai, sengaja aku mencari tempat agak sepi guna menghindari kebisingan dari pengunjung lain.
Aku sengaja tak membawa ponselku dan pakaian yang aku kenakan sama seperti saat aku SMA ntah kenapa aku nyaman dengan gaya seperti ini, ku pandangi biru nya air laut ombak yang bergemuruh sesekali menghantam karang, pikiran ku melayang ntah kemana.
" Ibu bapak rasanya Rinjani sangat lelah ingin rasanya Rinjani pulang dan memeluk ibu dan bapak, menumpahkan semua rasa lelah yang Rinjani rasakan namun tak bisa " ucapku pada air laut pandangan ku terus lurus pada lautan, aku menangis mengingat betapa menyedihkannya diriku sedari kecil tak pernah mengenal yang namanya kehangatan kasih sayang ibu dan bapak ku, namun ku tau mereka sangat menyayangiku hanya saja tak bisa mencurahkan nya karena waktu mereka tersita pekerjaan, saat masa sekolah aku menjadi pelindung pengasuh juga penuntun untuk adik-adikku, saat kuliah aku semakin jauh dari ibu dan bapak ku bahkan sangat jarang bertemu mereka namun aku bersyukur saat kuliah aku sudah bisa membantu keuangan mereka dari hasil kerja paruh waktu ku, dan sekarang aku tak bisa tinggal dengan mereka karena harus menuntun dan mendidik kedua adikku agar lebih maju karena itu aku jauh dari orang tuaku beruntung mas Rendi selalu membawa ibu dan bapak menemui kami jadi tak terlalu sedih jauh dari orang tua.
Aku mempunyai impian membangunkan rumah untuk ibu dan bapak ku, namun sampai sekarang belum terwujud karena uangku harus ku bagi-bagi untuk sekolah kedua adikku, untuk orang tua ku, dan untuk sedekah karena aku selalu ingat kata guru ngajiku takkan pernah ada artinya banyak duit jika tak pernah menyisikan untuk bersedekah, dan takan menjadi melarat walau sedikit uang namun masih menyisikan untuk bersedekah justru Allah akan menggandakan uang tersebut.
Lelah dengan semua pikiran ku juga tangis yang tertumpah, aku memilih berjalan di tepi pantai merasakan angin dan ombak yang menabrak kaki ku, tersenyum sesekali kala mengingat betapa indahnya karunia yang ia ciptakan (Allah).
Hari sudah sore aku memutuskan untuk kembali, sepanjang hari aku tak merasa lapar bahkan aku tak sarapan itu membuat ku sedikit lemes, ingin menghubungi ripa'i agar menjemput ku namun aku tak membawa ponsel maka akupun memaksakan diri berkendara, sampai di tepat Andi pukul 7 malam, ku lihat ripa'i sedang duduk di sopa mungkin sengaja menungguku.
" Kenapa tak membawa ponsel " ucapnya ku lihat ada kekhawatiran darinya
" Tidak apa-apa " lembutku menjawab
Ripa'i memintaku untuk duduk aku menurut dia memegang tangan ku " dingin " kata yang keluar dari mulutnya aku hanya menatapnya, dia beralih memeriksa dahiku
" Kau demam " ucapnya aku hanya diam, ripa'i membawaku kekamar karena aku hampir terjatuh karena lemah maka ripa'i mengangkat ku, dia membawaku ke kamar menurunkan ku hati-hati.
__ADS_1
" Tunggu sebentar " ucapnya setelah memakaikan selimut padaku ntah dia mau kemana, mengambilkan obat tapi obat ada di meja samping tempat tidurku, mungkin mau memanggilkan dokter pikirku dan aku memilih memejamkan mata.