
Aku dan anta sampai di negara kami pukul 2 malam.
Anta menelpon seseorang sebelum kami menaiki pesawat, dan saat kami mendarat, orang itu sudah menunggu kami di pintu keluar.
Anta tersenyum pada laki-laki yang terlihat masih muda mungkin seumuran Indri adik bungsuku.
Berbeda dengan anak laki-laki itu, wajahnya nampak datar! seolah ia tak suka menjemput kami, mungkin karena tak bisa menolak anta makanya dia tetap datang kemari.
Ku paksakan tersenyum pada anak itu, percayalah padahal hati ku sama sekali tak tenang. Anak laki-laki itu membalas senyum ku dengan manisnya, oh astaga! Senyum itu jika saja aku masih belum memiliki tambatan hati, mungkin aku akan terpesona karenanya.
" Kau siapa? " Lembut ku bertanya pada anak itu saat sudah di dalam mobil, anta dan anak itu melirikku.
" Saya! " Ucapnya.
" He'mh! " Singkatku
" Endro! " Jawabnya. Ah anak ini, mengingatkan aku pada anta saat masih sekolah. Sikap dinginnya, acuhnya, sama seperti anta apa mungkin dia sodara atau bahkan mungkin adiknya anta.
" Kakak kekasih tuan Arantha? " Tanyanya padaku, namun pandangannya pada anta.
" Bu..." Belum sempat aku menyelesaikan kalimat ku anta sudah memotongnya.
" Dia tunangan ku, puas! " Datar anta berucap.
" Benarkah! Sejak kapan? " Ucap anak itu, ekspresi mukanya seperti tak percaya namun itu bagus, toh yang di katakan anta kebohongan.
Mobil melaju dengan cepatnya hingga kami sampai di sebuah bangunan mirip rumah.
Mataku menyapu sekeliling bangunan itu.
Tak ada yang aneh! Namun sedikit janggal ada, bagai mana tidak! saat turun dari mobil tadi aku merasa seseorang menyentuh tangan ku seolah seseorang sedang ingin menggandeng tangan ku, namun percayalah mata ku tak menangkap sosok tak kasat mata lalu apa itu tadi? apa hanya perasaan ku saja.
Aku asik dengan pikiran ku akan hal itu tanpa ku sadari anta ternyata di sampingku. Anta juga menatap ku lekat seakan sedang mencari sesuatu di balik tatapan itu.
" Apa kau tak ingin bertanya di mana kita, dan tempat siapa ini " ucap anta padaku atau pada siapa karena dia seolah bukan mengajakku bicara.
" He'mh! " Singkat ku.
Aku berjalan mengikuti anak laki-laki yang tadi bareng dengan kami, dia membuka pintu utama, saat pintu di buka, sungguh! rasanya aku sangat kagum dengan rumah ini, isinya juga tak kalah membuat ku kagum.
Aku masuk kedalam rumah itu mengikuti langkah anak itu, namun saat di depan sebuah foto yang teramat besar, aku menghentikan langkah ku memandangi foto yang berukuran besar itu.
Di dalam foto itu, seorang wanita cantik, nan ayu sedang berpose sederhana.
Rambut yang di erani tertiup angin, pakaian sederhana namun sangat indah menempel pada tubuh wanita dalam foto itu.
" Itu kekasih tuan Arantha yang terhormat, yang saat ini keangkuhannya bagaikan dewa " celetuk anak laki-laki itu.
Aku menoleh padanya. Pantas saja raut wajah tak percaya nampak di wajah anak muda itu saat anta mengatakan kebohongan kalau aku tunangannya.
" Oh! " Singkat ku menjawab.
Tak lama anta juga masuk dan membawakan koper ku.
" Kenapa itu masih di pasang di sana " ucap anta datar ada raut tak suka saat ia melihat pada foto itu.
__ADS_1
Anta menunjukan kamar yang akan aku tempati. Sampai di depan pintu! Anta berdiri di sampingku dan menghadapkan tubuhnya padaku.
" Apapun yang anak itu katakan jangan ku dengar " ucapnya, aku tak ingin. Menjawab tidak juga mengangguk hanya diam saja.
Tak mendapat respon dari ku anta pergi dari tempat aku berdiri sekarang.
Aku masuk dalam kamar itu. Ku edarkan pandangan ku, kamar yang luas, bersih, juga rapih aku suka.
Ku langkahkan kaki ku mendekat pada tempat tidur yang terlihat sedang menggodaku seolah ingin segera ku rebahkan tubuhku di atasnya.
' aku ingin hidup nyaman semana mestinya ' gumam ku sebelum terlelap.
***
Aku tersadar, tepatnya terbangun pukul 9 pagi! Apa, aku kesiangan bahkan aku tak melaksanakan solat subuh dan anta juga tak membangunkan ku.
Aku bangun dari kasur melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri, setelah ku rasa rapih, aku keluar dari kamar mencari dapur karena aku merasa tenggorokan ku kering.
Aku berpapasan dengan seorang wanita berpakaian seperti Art, ah! Mungkin itu memang art di rumah ini.
Aku menegurnya.
" Permisi! Apa anda yang mengurus rumah ini " ucapku ramah dan dia menoleh pada ku.
" Ya benar " jawabnya
" Saya mau ke dapur! Bisa anda tunjukan dapur nya di mana " ramah ku lagi bertanya.
" Ada yang nona butuhkan biar saya ambilkan " tawarnya ramah.
" Akan saya ambilkan " ucapnya dan dia ingin melangkah mungkin menuju dapur, namun sebelum dia benar-benar melangkah baru membalikan badan aku menghentikannya.
" Tidak perlu! tunjukan saja dimana dapur nya biar saya ambil sendiri saja " ucap ku.
Wanita itu menunjukan di mana letak dapur, setelah tau aku langsung melangkah menuju dapur.
Sampai di dapur aku melihat anak laki-laki yang semalam menjemput aku dan anta, dia sedang asik dengan bahan masakan di depannya.
" Kau bisa masak " suaraku, membuat yang mendengar menoleh padaku.
" Lumayan " jawabnya, aku tak bertanya lagi.
Sambil meneguk air yang ku tuang tadi mataku terus memperhatikan anak laki-laki itu, dengan cekatannya dia terus memasak semua bahan masakan yang tadi di depannya.
Dia menatap ku dan aku tersadar itu setelah mendengar suaranya.
" Apa anda mau di masakan sesuatu " ucapnya padaku.
" Mmh " suaraku.
" Apa anda melamun? " Tanyanya
" Ah tidak! " Jawabku sedikit tak enak
" Baiklah! Apa anda ingin saya masakan sesuatu? " Tanyanya kembali, mungkin karena belum mendapat jawaban yang membuatnya puas.
__ADS_1
Bukan dengan bersuara namun hanya dengan gelengan aku menjawabnya, dia hanya tersenyum menanggapi jawaban dari ku.
Aku tak keluar dapur setelah minum melainkan duduk di bangku yang ada di sana, melihat anak muda yang sedang asik memasak, aku tersenyum! Jika saja Indri juga bisa memasak.
Mengingat itu aku jadi ingat pada kedua adikku akupun bangun dari dudukku dan berjalan menuju kamar yang semalam aku tiduri.
Sampai di kamar itu, aku langsung mengambil ponsel ku yang ku letakan di meja samping kasur.
Aku melakukan panggilan pada adik keduaku terlebih dahulu namun tak ada jawaban membuat ku frustasi.
Langsung saja aku melakukan panggilan kembali namun ke nomor adik bungsuku Indri. Dan hasilnya masih sama, nomor nya tidak aktif.
" Apa yang terjadi pada kalian " ucapku pada diri sendiri.
Ku dengar pintu kamar di ketuk, aku bangkit dari dudukku mendekat pada pitu untuk membukanya.
" Nona! Tuan meminta anda untuk makan " ucap art saat pintu kamar ku buka.
Aku tersenyum ramah sebelum menjawab " baiklah "
Akupun keluar dari kamar dan menuju meja makan, aku tak melihat anak laki-laki yang tadi memasak di dapur, hanya ada anta.
" Kemana anak itu? Apa dia tidak ikut makan? " Tanyaku pada anta.
" Endro " kata yang keluar dari mulut anta.
" He'mh " singkat ku menjawab.
" Dia sedang menemui temannya di taman belakang " jawab anta. Dan tak ada pembicaraan lagi antara kami, hanya denting sendok dan garpu yang terdengar kala beradu dengan piring.
Sampai kami selesai makan dan art membersihkan meja makan, kami masih tak bersuara. Hingga, aku memilih melangkahkan kakiku untuk kembali menelpon seseorang.
Aku melakukan panggilan pada seseorang di balkon kamar sambil memandang ke arah taman bunga yang terlihat indah karena terawat.
Tut.
Tut.
Hanya di nada kedua panggilanku di angkat.
" Apa masih belum ada informasi? " Tanyaku langsung pada orang di sebrang telpon.
"........ " Jawab orang itu.
" Lakukan yang terbaik, aku ingin kabar mengenai mereka secepatnya " datar ku berucap.
" ........" Jawab orang di sebrang sana.
Panggilan pun berakhir karena aku yang memutuskan panggilan lebih dulu.
" Kalian di mana? " Tanyaku pada diri sendiri.
Tak mau hanya diam, akupun melakukan panggilan kembali pada Asiah dan Gibran orang yang memantau Asiah, namun sayang tak ada yang tau di mana kedua adikku bahkan Asiah sendiri merasa khawatir karena pitri sudah tak pulang selama dua hari, sedang Indri sudah tiga hari dia tak pulang.
Pikiran ku makin kalut, akupun mengganti pakaian ku, kembali berpenampilan di mana saat aku masih suka bertarung atau menjalankan misi yang berbau pertarungan.
__ADS_1
Kali ini senjata yang aku bawa hanya sebuah pistol dan belati karena aku belum tau kepastian apa yang sedang terjadi, dan membawa itupun hanya untuk berjaga-jaga saja.