
"Lepasin Ara kak Saga, Ara nggak mau hamil anak kakak!" teriak Ara terus meronta ketika tubuhnya di kungkung oleh Sagara.
Air mata kembali memenuhi pipi gadis imut itu setelah tubuhnya terhempas di atas ranjang yang tidak terlalu besar. Di dalam ruangan tersebut hanya ada dirinya juga Sagara.
Ara berusaha untuk lepas dari kunkungan Sagara meski dia tahu itu sangat mustahil untuknya.
Plak
Kepala Ara tertoleh ke samping karena tamparan Sagara di pipinya. Rasa kebas dan nyeri menjalar di sekujur tubuhnya. Entah itu bekas cengraman atau tali yang mengikatnya tadi.
"Diam dan nikmati aja, lo bakal suka!" ucap Sagara penuh tekanan.
Laki-laki itu menekan kedua tangan Ara dengan bebelah tangannya. Sagara menyeringai ketika tatapannya tertuju pada bibir Ara yang hampir membantuk lengkungan love.
"Kak Saga," lirih Ara dengan suara seraknya.
"Kenapa Sayang? Udah lelah nolak Hm? Mau pasrah aja?"
Ara mengelengkan kepalanya lemah. "Jangan apa-apain Ara ...."
"Sayangnya gue nggak sebaik itu."
Sagara melepaskan cengkramannya di tangan Ara, kemudian beralih membuka baju kaos juga jaket yang dia kenakan. Jaket yang sengaja disamakan dengan beberapa anggotanya agar bisa memanipulasi inti Avegas.
Untung saja rencananya berhasil hingga kini mereka tidak akan bisa sampai secepat mungkin.
Sampai? Mungkin setelah dia berhasil menanam benih di rahim Ara.
Sagara menunduk, mengecup bibir Ara sekilas. Kemudian kembali menatap wajah pucat tersebut.
"Semakin lo ngeronta, maka semakin gue sakitin!" ancam Sagara menarik dagu Ara dan meraup bibir yang terlihat seksi itu.
Mengigit secara perlahan saat Ara menekan bibirnya. Senyum simpul kembali Sagara perlihatkan ketika berhasil membuka bibir itu dengan mulutnya.
__ADS_1
"Lo bakal jadi milik gue malam ini," bisik Sagara setelah melepaskan pangutannya.
Tidak ada yang bisa Ara lakukan selain menangis dan menanggis. Merontapun tidak ada gunanya, terlebih kini tubuhnya terasa sangat lemas.
Rasa laparnya menghilang tergantikan dengan rasa sakit dan takut.
"Ar-ara datang bulan," lirih gadis imut itu mengigit bibirnya yang terasa kebas.
"Lo kira gue peduli hm?"
Krak
Tubuh Ara menengang seketika ketika baju yang dia kenakan ditarik begitu saja hingga robek dan memperlihatkan sesuatu yang tidak seharusnya.
"Ara mohon jangan!" teriak Ara memejamkan matanya ketika Sagara mulai mengerayani dirinya.
Bugh
Brak
Kilatan amarah di mata Samuel tidak memberi ampun pada lawannya apa lagi melihat tubuh Ara yang hampir polos sepenuhnya.
"Anjing lo!"
Dug
Tanpa memberi Sagara kesempatan untuk melawan, Samuel membenturkan kepala laki-laki itu ke tembok hingga kening Sagara mengeluarkan darah segar.
Brak
"Sialan!" geram Samuel saat tubuhnya menghempas kursi karena tendangan Sagara. Dia berdiri dan kembali menghampiri Sagara.
Memukul sebisa dirinya hingga Sagara tergelatak dia atas lantai marmer.
__ADS_1
"Penjara terlalu suci buat lo!"
Srak
Tanpa banyak berpikir, pisau Samuel kembali merobek perut seseorang.
Tak
Pisau di tangan Samuel tergelincir ke bawah ranjang karena elakan Sagara saat akan menusuk kedua kalinya. Namun, itu tidak membuatnya lemah. Tanpa senjatapun dia bisa membunuh Sagara malam ini juga tanpa peduli akan masuk penjara atau tidak.
Sementara di ruangan lain, anggota Avegas bersama inti melawan anak buah Sagara yang ternyata sangat banyak. Mereka sempat mengalami kendala dengan ban bocor karena paku bertebaran menuju jalan penyekapan Ara.
Berhasil meloloskan diri, Rayhan berlari menerobos yang lain menuju kamar dan mendapati Ara terisak di atas ranjang dengan tubuh bergetar. Rayhan mengeluarkan jaketnya dan memakainya pada Ara.
"Ar-ara."
"Ayo nangis!" bisik Rahyan memeluk tubuh bergetar Ara.
"Abang," lirih Ara.
"Dia bukan urusan lo," balas Rayhan menutup mata Ara agar tidak melihat betapa brutalnya Samuel melukai Sagara.
"Polisi!" teriak Ricky
"Anjir!" maki Samuel kembali melayangkan tendangannya sebelum menghampiri Ara dan mengendong keluar dari kamar tersebut.
"Siapa yang lapor?" tanya Azka. Mereka sedang tidak dalam penyamaran dan tanpa persiapan. Jika begini bahkan mereka juga akan dipanggil oleh polisi.
"Nggak tau," jawab Keenan.
Rayhan menghembuskan nafas panjang, sebelum keluar dari kamar dia mengambil benda runcing yang berada di bawah ranjang. Untung saja mata tajamnya melihat benda itu.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.