
Setelah memastikan Ara sudah benar-benar terlelap, Samuel akhirnya meninggalkan kamar kekasihnya.
Langkah Samuel berhenti di anak tangga ketika berpasasan dengan Deon. Haruskah Samuel menceritakan semuanya sekarang? Atau kembali menyembunyikan masalah ini dan menciptakan kebohongan baru? Entahlah Samuel bimbang dengan keputusannya sendiri.
"Ara sudah tenang?" tanya Deon.
"Udah Om, sekarang Ara lagi tidur. Kalau begitu Saya ...."
"Ara ada cerita sesuatu sama kamu Nak?" tanya Deon memutus ucapan Samuel.
Laki-laki dingin itu terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari ayah gadis yang dia cintai.
"Mau cerita dimana om?"
"Ruang kerja om saja."
Samuel mengangguk dan mengikuti langkah Deon menuju ruang kerja pria itu yang terdapat di dekat tangga. Dia mendudukkan diri di hadapan Deon dengan dada berdegup kencang.
__ADS_1
Lirikan Samuel tertuju pada flashdisk yang tergeletak di atas meja. Flashdisk itu buru-buru dipindahkan oleh Deon.
"Ara cerita apa sama kamu Nak?" Deon memulai pembicaraan.
"Ara ketakutan karena melihat orang yang pernah menculiknya Om, kata Ara, orang itu tadi keluar dari ruangan om," jelas Samuel.
Kening Deon mengkerut, berusaha mengingat siapa orang yang baru saja keluar dari ruangannya. Seketika ingatan Deon tertuju pada pria yang tiba-tiba bertamu pagi-pagi sekali dan menawarkan ingin memberikan informasi penting tentang Samuel.
"Bukannya orang yang menculik Ara itu gondrong dan ...."
"Bukan om." Samuel mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Sagara pada Deon. Pria itu mengepalkan tangannya karena tidak mengetahui hal ini.
"Kenapa kau baru memberitahu ayah sekarang dan berusaha menyembunyikkannya hah? Apa maksud dan motif kamu Samuel? Kau tahu? Ayah sudah terlanjur kecewa dengan sebuah kebohongan yang kamu lakukan terhadap penculikan Ara. Kau mengatakan ...." Deon mengatur nafasnya yang mulai memburu, dia memegangi dadanya yang terasa sesak karena emosi.
"Maaf om, nggak seharusnya saya menutupi semua ini dari om Deon. Saya punya alasan kenapa menyembunyikannya."
"Karena dia musuhmu dan menjadikan Ara sebagai target demi mengalahkan diri kamu! Itu alasannya?" tebak Deon dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Maaf om, saya cuma nggak mau om membawa Ara pergi karena kesalahan Saya. Saya berjanji akan melindungi Ara dari marabahaya dan tidak akan membuatnya terluka. Kalau saya sampai melanggar janji, nyawa saya milik om," lirih Samuel tanpa ingin membalas tatapan tajam Deon.
Kali ini Samuel benar-benar tidak berdaya karena merasa dirinya telah bersalah. Tidak seharusnya dia mempertahurkan nyawa anak gadis orang.
"Terimakasih sudah menenangkan Ara." Deon mengakhiri pembicaraaan dan meninggalkan Samuel seorang diri di dalam ruangan tersebut.
"Aaakkkhhhh, sialan!" teriak Samuel karena sangat tertekan. Lama-lama dia hampir gila sebab tertekan dari berbagai sisi.
Samuel meninggalkan rumah Ara dalam perasaan kacau. Tujuannya saat ini tentu saja mansion untuk menemui sang mami.
Sesampainya di mansion, Samuel langsung memeluk Fany sangat erat tanpa memperdulikan tatapan para pelayan yang memperhatikan mereka di taman belakang mansion.
"Anak mami kenapa, hm?" tanya Fany mengelus kepala Samuel.
"Mami mau bantuin El? Bantu El pertahankan Ara selalu berada di samping El," pintanya. "El bukan nggak cinta sama dia Mam, El juga nggak mau Ara terluka, tapi ...."
"Anak mami ada masalah apa sih sampai segininya? Ayo duduk sini dan ceritakan sama mami!" pinta Fany menuntun Samuel agar duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
Samuel nolak untuk bicara dan cuma fokus memeluk Fany. Rasa tenang mulai Samuel rasakan mendapat elusan di punggungnya.