
Di dalam sebuah kamar hotel yang telah di hias secantik mungkin, seorang gadis tengah menangis dengan sesegukan. Tubuhnya bergetar di dalam dekapan wanita paruh baya.
Gadis itu adalah Ara, gadis yang baru saja berubah status menjadi seorang istri dari pria yang menjadi luka untuknya sekaligus obat paling ampuh untuk hatinya.
"Sayang, jangan nangis! Make up kamu bisa luntur," ujar Kirana mengelus punggung bergetar Ara.
Sementara gadis kecil yang duduk di sebuah kursi hanya menatap dengan wajah polosnya. Sejak tadi Asa ingin keluar dari kamar untuk menemui ayahnya di lantai bawah tapi dicegah oleh Kirana karena takut menganggu semua orang.
"Kenapa Bunda nggak beritahu Ara tentang ini? Bunda cuma ngomong ada yang datang lamar Ara, terus nikah. Bunda nggak tau sakitnya hati Ara pas dengar abang mau nikah, sama Ara juga bakal nikah sama orang lain." Ara terus saja menangis tanpa memperdulikan riasannya akan luncur.
Perasaan gadis itu tidak bisa digambarkan dengan apapun. Ada rasa bahagia, haru juga kecewa bercampur menjadi satu dalam hatinya.
"Ayo Sayang, suami kamu udah nunggu." Kirana berdiri dan menarik tangan lentik Ara, tidak lupa mengajak Asa yang sejak tadi memeluk boneka kelinci kesukaannya.
Ara mengangguk ragu, mengikuti langkah bundanya untuk keluar dari kamar. Ada rasa syukur di hati Ara karena Samuel tidak jadi kabur tadi. Gadis itu melihat semua pesan Samuel, ingin kabur seperti yang Samuel tawarkan, hanya saja memikirkan harga diri orang tuanya.
Siapa yang menyangka, keduanya telah dibohongi sebaik mungkin oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ara menelan salivanya kasar ketika berada di anak tangga pertama, terlebih saat semua tatapan tertuju padanya. Belum lagi tatapan satu pria yang telah resmi menjadi suaminya.
Senyuman itu, senyuman yang tidak pernah Ara lihat di wajah Samuel, tapi hari ini, di hari bahagianya pria tersebut tersenyum sangat lebar.
Di lantai bawah, Samuel langsung berdiri menyambut kedatangan Ara yang hampir sampai di tempatnya. Tatapan pria itu tidak pernah terlepas meski sedetik saja.
Ingin rasanya Samuel berteriak sekencang mungkin, mengatakan bahwa dia adalah pria yang sangat bahagia hari ini karena berhasil menikahi gadis yang dia cintai.
Tanpa meminta izin, Samuel mengenggam tangan Ara yang terasa sangat dingin. Siapa yang akan melarang? Dulu saja ketika keduanya tidak mempunyai hubungan apapun, Samuel sudah mengatur, bagaimana dengan sekarang?
"Sengsi banget lo bapak hamil," celetuk Ricky.
Kedua mempelai akhirnya duduk saling berdampingan di depan penghulu, menandatangani buku nikah dan berkas-berkas lainnya, sebelum mengambil foto dengan memegang buku nikah masing-masing.
Sepanjang serangkaian acara, Ara tidak pernah mengeluarkan kalimat apapun karena merasa shok dengan apa yang terjadi hari ini.
Gadis itu hanya mengangguk atau mengeleng menanggapi segala ocehan Samuel yang berusaha merubah suasana canggung.
__ADS_1
"Ayah!" panggil Asa berlari menghampiri Samuel dan Ara yang telah berada di pelaminan menerima ucapan selamat dari para tamu.
"Iya Sayang?" Samuel lantas menunduk untuk mengendong Asa yang terlihat sangat cantik. Namun, cantiknya tentu saja tidak bisa menandingi cantiknya istrinya Samuel.
"Berasa nikahin janda anak satu njir!" celetukan itu berhasil menganggu momen romantis yang baru saja akan tercipta di antara Ara dan Samuel.
"Selamat udah nggak jones lagi." Ricky mengulurkan tangannya. "Perjuangan 14 tahun nggak sia-sia."
"Di tunggu dedeknya Asa, masa kalah noh sama Rayhan." Dito melirik Rayhan yang tampak berusaha mendekati Giani. Tapi Giani malah terus menghindar dengan bersembunyi dibalik tubuh ibu dan ayah mertuanya.
"Rayhan!"
"Pah, ya kali Ray nggak bisa dekat-dekat sama istri sendiri!" kesal Rayhan layaknya anak kecil. Sudah satu bulan ini Rayhan hampir tidak pernah satu kamar dengan Giani.
"Kamu senang lihat Giani tersiksa? Muntah mulu liat wajah jelek kamu itu!" ejek Elvan pada putranya. Menarik menantunya pergi. Jesy yang melihat itu hanya bisa tersenyum.
Kembali pada pelaminan, dimana semua orang tertawa melihat betapa menderitanya playboy kelas kakap karena seorang wanita.
__ADS_1