Lost Love

Lost Love
Part 149 ~ Pria Bertopi


__ADS_3

Samuel merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah itu keluar kamar menuju meja makan. Hari ini laki-laki dingin itu bangun terlalu pagi sebab hari pertama ujian akan dimulai.


Samuel mendudukkan diri di hadapan maminya.


"Ganteng banget anak mami, semangat ya ujiannya Nak," ucap Fany meletakkan susu di atas meja. Tidak lupa Fany mengambil roti tawar untuk Samuel makan.


"Samuel memang ganteng Mam, ya jelek itu papi," sahut Samuel seraya mengunyah roti yang telah di olesi selai kacang kesukaanya. Untung saja Daren tidak ada di meja makan atau Samuel akan mendapat jeweran di telinga.


Atensi Samuel fokus pada benda pipinya, di sana terdapat beberapa notifikasi dari sang kekasih.


Abang udah bangun? Ini hari senin harus bangun cepat.


Setelah ujian abang selesai jangan lupa kerumah ya, Ara kangen abang.


Semangat ujiannya, Ara sayang Abang.


Samuel mulai mengetikkan balasan untuk kekasihnya sebelum benar-benar berangkat ke sekolah. Sebenarnya Samuel juga sangat merindukan Ara, karena selama tiga hari ini mereka tidak bertemu sebab Samuel sangatlah sibuk.


Sibuk mempersiapkan diri dengan ujian, juga sibuk dengan geng motornya.


***


Gue juga kangen, nanti mampir pulang sekolah nanti.

__ADS_1


Ara mengulum senyum melihat balasan dari kekasihnya. Gadis itu langsung meletakkan ponsel di atas meja dan melanjutkan untuk tidur padahal matahari mulai terbit.


Ara akan mempergunakan waktu liburnya untuk tidur sepanjang hari, terlebih Samuel juga sibuk mengurus urusannya sendiri.


Jam sepuluh pagi tepat, saat cacing-cacing dalam perutnya mulai protes karena tidak kunjung diisi, barulah Ara terpaksa bangun dari mimpi indahnya.


Mimpi yang ingin sekali Ara rasakan di dunia nyara, yaitu menikah dengan Samuel dan tinggal berdua saja tanpa gangguan siapapun.


Ara meregangkan otot-ototnya sebelum turun dari ranjang, berjalan menuju dapur mencari sarapan lezat buatan bunda tercinta.


"Hm, anak gadis bangunnya jam segini hebat banget," sindir Kirana.


"Bunda juga nggak bangunin Ara kok, berarti bunda ingijinin Ara bobo sampai siang," balas Ara tanpa rasa bersalah. Dia meraih susu yang baru saja diletakkan oleh bundanya, meneguk hingga tandas padahal belum kumur-kumur ataupun cuci muka.


"Ih jorok banget anak Bunda, awas lo Abang nggak mau dekat-dekat sama Ara," protes Kirana.


Gadis imut itu mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari seseorang.


"Ayah mana?" tanyanya.


"Di ruang kerjanya, ayo sarapan dulu! setelah itu bebas mau ngapain aja. Mau tidur lagi juga nggak masalah."


"Ara udah kenyang setelah minum susu Bunda. Ara mau ketemu ayah dulu."

__ADS_1


Ara meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruangan kerja ayahnya. Dia ingin mengatakan sesuatu pada sang Ayah tentang Samuel.


Langkah Ara memelan ketika mendengar suara orang lain di ruangan ayahnya, dia memutuskan mengintip di cela pintu yang tidak tertutup rapat.


"Jangan mencoba menipu saya dengan meminta bayaran sebanyak itu! Calon menantu Saya tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan melukai putri Saya!" Deon mendorong benda sangat kecil agar menjauh darinya, tapi seseorang yang tengah membelakangi pintu kembali menyodorkannya lagi.


"Kenapa Ara kayak kenal bentuk tubuhnya ya?" gumam Ara masih setia menguping pembicaraan.


"Baiklah nggak perlu bayaran yang banyak, saya meminta Dp 2 juta. Kalau ucapan saya benar anda bisa transfer ke rekening ini." Pria bertopi itu menyodorkan sebuah kartu pada Deon.


"Tidak masalah," sahut Deon. Pria paruh baya itu berdiri dan mengambil uang tunai sebanyak yang diminta pria tersebut.


"Jika informasinya berkualitas saya akan menabahkan."


"Tentu Tuan."


Melihat pria bertopi tersebut berdiri dan berpamitan pada ayahnya, Ara segera menyingkir dari pintu.


Ara membekab mulutnya tidak percaya, ketika berhasil melihat wajah pria itu, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Belum lagi tubuh mungil itu bergetar hebat dan tidak menyengol vas bunga di salah satu tiang setinggi pinggang.


Hal itu membuat pria bertopi tersebut monoleh sejenak yang membuat Ara semakin ketakutan karena melihat senyumnya yang sangat menyeramkan.


"Aaaaaakkkkhhhhhh!" teriak Ara sekencang mungkin membuat pria bertopi itu berlari dengan cepat keluar dari rumah Ara.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Deon yang pertama menemukan Ara yang meringkuk di lantai marmer.


"Ara takut Ayah."


__ADS_2