
Ara memandangi jari-jari tangannya setelah kepergian Samuel. Meneliti sangat lama seraya mencerna kata-kata tunangannya tadi.
"Tangan Ara nggak jelek kok kalau nggak pakai cincin. Kok kata Abang jelek ya?" gumam Ara mulai bingung sendiri.
Dor
Ara kaget bukan main ketika pundaknya di tepuk cukup keras dengan suara lantang.
"Ka-ka Alana, Ara kaget!" cemberut Ara.
Alana sontak tertawa tanpa dosa melihat wajah mengemaskan Ara. Tanpa izin gadis rambut indah tersebut menguyel-uyel pipi Ara yang mengembung.
"Gemes banget sih lo Ra. Ngapain juga diam doang padahal gua panggil," omel Alana.
"Ara nggak dengar."
"Iyalah nggak, kalau dengar lo pasti nyahut, giamasih." Alana memperbaiki duduknya dan menumpu dagu di atas meja kantin.
"Kak Alana, Ara boleh nanya?"
"Hm?"
Ara langsung meletakkan tangannya di atas meja. "Jari-jari Ara jelek tanpa cincin?" tanyanya.
"Nggak tuh, memangnya yang ngomong siapa? Sini gue tebas leher ...."
"Abang," potong Ara. "Abang nyuruh Ara pakai cincin lagi karena jari Ara jelek katanya," jawab Ara dengan wajah polosnya dan itu malah membuat Alana tertawa terpingkal-pingkal.
"Lo lemot banget sih jadi cewek Ra. Itu tandanya Bang El nyuruh lo pakai cincin pertunangan lagi," jelas Alana.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya perjanjian udah berakhir ya?"
"Ck, banyak tanya lo Ra. Pakai aja biar El senang. Kayaknya tuh gunung es udah suka deh sama lo."
"Gunung Es siapa?" tanya Ara.
Alana mengeram kesal, dia mengepalkan tangannya di bawah meja. "Pantes aja Samuel nggak betah sama lo Ra. Lo lemotnya kayak siput!" teriak Alana dan berlalu pergi. Gadis rambut indah itu sama sekali tidak tahan dengan kelemotan Ara, padahal tidak sadar dirinya lebih lemot jika berada di samping pak Alvi.
***
Ara berjalan menuju pagar sekolah setelah bel pulang berbunyi lima menit yang lalu. Dia menundukkan kepalanya memikirkan kata-kata Alana tadi.
"Ara lemot jadi Abang nggak suka sama Ara. Tapi Gunung Es suka sama Ara," gumam gadis imut tersebut.
Sakin sibuknya berpikir, Ara sampai tidak menyadari keberadaan Samuel yang ikut berjalan di sampingnya.
Laki-laki wajah dingin tersebut berjalan lebih dulu dan mendorong pagar agar terbuka lebar, jika tidak sudah dipastikan Ara akan menabrak pagar karena terus menunduk.
Ara mendongak seraya mengerjap-erjapkan matanya. "Abang baru datang?"
"Hm."
"Abang, Ara mau nanya sesuatu sama Abang," ucap gadis imut tersebut.
Sontak Samuel langsung menatap Ara dan menunggu gadis imut tersebut mengatakan sesuatu.
"Abang katanya nggak suka sama Ara, karena Ara lemot. Lemot itu apa?"
"Bodoh!" jawab Samuel asal.
__ADS_1
"Oh, bodoh ya," gumam Ara. "Makasih Abang, udah jawab pertanyaan Ara."
Gadis itu hendak berjalan menuju halte untuk menunggu taksi, tapi tangannya malah ditarik oleh Samuel.
Ara menatap tangan mungilnya yang tersembunyi dalam genggaman tangan kekar Samuel.
"Lepasin Ara!"
"Nggak!" tolak Samuel. "Lo tunangan gue!"
"Tapikan Abang nggak suka sama Ara. Ara juga udah janji bakal jauh-jauh. Ara nggak mau kakaknya Sasa datang lagi terus ...."
"Ara!" betak Samuel tidak suka. Tatapan laki-laki wajah dingin tersebut menajam seketika. Tidak suka rasanya mendengar Ara ingin menyerah dan menjauh darinya.
"Jangan dengerin Sagara!"
"Tapi Ara takut sama dia."
"Ada gue Ra, jadi jangan takut."
"Tapi karena Abang, Ara jadi musuh kakaknya ...."
"Ara stop! Gue nggak suka lo ngomong lagi!" bentak Samuel.
Laki-laki wajah dingin tersebut melepaskan genggaman tangannya dan memilih pergi. Namun, langkahnya terhenti karena perkataan Ara.
"Abang katanya orang jahat, Abang hamilin Sasa terus nggak mau tanggung jawab. Abang katanya mau lindungin Ara dari kakaknya Sasa, tapi sekarang Ara ditinggalin," ucap Ara.
"Ara mau hidup tenang kayak dulu. Ara takut sama kakaknya Sasa, jadi Ara nggak mau dekat-dekat Abang lagi," lanjutnya.
__ADS_1
Samuel sontak berbalik dengan tangan terkepal, menatap Ara dengan tatapan memerah. Memegang kedua lengan mungil gadis imut tersebut.
"Gue nggak hamilin siapapun, dan lo aman sama gue!"