Lost Love

Lost Love
Part 96 ~ Tsundere


__ADS_3

Ara menghela nafas panjang seraya memandang keluar jendela kelasnya. Hujan turun sangat lebat padahal bel pulang sekolah baru saja berbunyi.


Udara dingin kian menyingsing kulit mulus Ara yang hanya terbalut seragam lengan pendek, begitupun rok di atas lutut.


Dia menoleh ketika seseorang ikut berdiri di sampingnya. "Pulang yuk Ra!" ajak Edgar setelah menyelesaikan urusan dengan guru.


"Ara nggak bawa payung."


"Gue bawa, nanti gue anter sampai halte biar lo nunggu taksi." Edgar tersenyum manis, membuat Ara ikut tersenyum.


Gadis imut itu menganggukkan kepalanya, terlebih dia takut dengan petir, paling parahnya lagi jika mati lampu. Dia berjalan beriringan keluar dari kelas dan menyusuri koridor yang semakin sepi.


Berteman dengan Edgar, tapi tidak pernah pulang bareng lagi. Selain karena akhir-akhir ini Samuel pulang dengannya, dia juga dilarang boncegan dengan Edgar.


"Lo boncengan otomatis meluk, lo kan penakut!"


Itulah yang dikatakan Samuel dengan nada ketusnya saat melarang Ara. Tapi karena Ara yang kurang peka terhadap sesuatu hanya menanggapi dengan santai.


"Makin deras Ra."


"Iya Milo, apa kita duduk di kelas aja ya? Ara nggak takut kok kalau ada Milo. Abang nggak bisa jemput sekarang soalnya ada urusan."


Memang setelah dari kantin bu Warni, Samuel memulangkan Ara ke kelas karena urusan mendesak dan meminta gadis itu menunggunya.


Sayangnya Ara tidak seberani itu menunggu seorang diri di tengah hujan.


"Pulang ajalah," sahut Edgar.


Laki-laki itu melepaskan jeket yang melekat di tubuhnya ketika melihat bibir Ara mulai pucat karena kedinginan. Namun, aksinya harus berhenti saat dari kejauhan motor merah hitam melintasi pagar hingga berhenti tepat di depan gerbang kedua SMA Angkasa dimana Ara dan Edgar tengah berdiri.

__ADS_1


"El udah datang, gue balik ya Ra." ucap Edgar menyerahkan payung pada Ara kemudian menerobos hujan menuju parkiran.


Kini yang tersisa hanya Ara dan Samuel saja.


"Abang main hujan?" tanya Ara meneliti penampilan Samuel yang basah kuyup.


Namun yang ditanya sama sekali tidak menjawab dan malah menarik tangan Ara menuju kelasnya. Tas Samuel masih berada dikelas. Dia meninggalkan karena ada urasan tadi.


Samuel menyugar rambutnya yang basah dan itu semua tidak luput dari perhatian Ara.


"Abang kalau rambutnya digituan tampan," ucap Ara tanpa sungkan memuji sang tunangan.


"Tau," sahut Samuel masih sibuk membuka tasnya dan mengeluarkan hoodie yang sengaja dia lepas tadi.


Tanpa banyak bicara Samuel memasangkan hoodie itu ditubuh mungil Ara, tidak lupa memasang tudung dan mengikatnya hingga Ara semakin terlihat mengemaskan.


"Masih dingin?" tanya Samuel.


Gadis imut itu mendekat dan berjinjit untuk meraih rahang Samuel yang memar.


"Abang tadi pergi karena tawuran kayak kak Alana bilang? Abang kok hobi banget lukain diri sendiri," lirih Ara.


"Bukan urusan lo."


"Ara nggak suka Abang luka kayak gini."


"Diam!" suara rendah namun tegas berhasil membuat Ara diam seketika.


Gadis itu tidak lagi bicara dan hanya mengikuti langkah Samuel yang tengah menggenggam tangannya kembali menuju pagar.

__ADS_1


Ara memperhatikan Samuel membuka payung pemberian Edgar.


"Jalan!" perintah Samuel setelah payung berada di tangan Ara.


"Abang?"


"Gue udah basah."


Meski ragu dan tidak ingin membuat Samuel marah. Akhirnya Ara melangkah perlahan menerobos hujan lumayan deras. Dia sesekali menoleh ke belakang dimana Samuel tengah mengikuti di atas motornya.


"Perhatiin jalan, licin!"


"Iya," lirih Ara terus saja berjalan hingga tidak terasa sampai di halte. Dia duduk di kursi tunggu, sementara Samuel bersandar pada tiang memeluk dirinya sendiri.


"Abang kedinginan? Mau Ara peluk?" tawarnya.


"Nggak usah!" sahut Samuel.


Jika boleh jujur dia sangat dingin karena hanya memakai seragam sekolah saja. Sejak keluar dari markas, Samuel hujan-hujanan hanya untuk menjemput Ara.


Samuel bernafas lega ketika ada taksi yang lewat di halte bus tersebut. Sejak tadi dia memesan namun ditolak karema cuaca memburuk.


Laki-laki wajah dingin itu menyetop taksi dan menyuruh Ara naik.


"Abang nggak ikut masuk? Motornya dinggal aja!" pinta Ara yang sangat khawatir dengan kondisi Samuel.


Ara memanyungkan bibirnya ketika Samuel malah menutup pintu mobil.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.


__ADS_2