
Dua hari telah berlalu, Samuel menepati janjinya untuk berkujung ke markas bertemu dengan teman-temannya yang lain. Hal itu membuat Fany sangat senang karena bisa melihat putranya lagi sedikit bersemangat dari hari-hari sebelumnya.
Wanita paruh baya itu menghampiri Samuel yang baru saja turun dari tangga. Samuel memakai jaket kebangga Avegas yang selalu dijaga dengan mempertaruhkan nyawa sekalipun.
"Makan siang dulu nak sebelum pergi," imbuh Fany mengelus lengan Samuel yang terbalut jaket.
Samuel mengelengkan kepalanya dan meraih tangan maminya untuk dia cium. Samuel belum lapar dan akan segera berangkat ke markas saja bertemu teman-temannya.
"Nanti setelah El lapar. El pamit dulu," tukas Samuel dan berlari pelan menuju garasi untuk mengambil motor kesayangannya.
Laki-laki dingin itu melajukan motornya dengan kecepatan pelan sambil menikmati momen indah yang terus berputar dalam memorinya.
Ternyata memang perlu sebuah perpisahan agar kita tahu artinya sebuah keberadaan. Itulah yang Samuel alami saat ini. Setelah kepergian Ara, barulah dia menyadari betapa penting gadis imut itu dalam hidupnya.
Samuel pernah kehilangan seorang pacar tapi tidak seterpuruk ini. Tapi kehilangan Ara sungguh menghancurkan dunia Samuel selama berbulan-bulan.
"Gue bakal nyari lo sampai ujung dunia sekalipun," gumam Samuel dengan tekadnya yang tinggi.
Laju motor pria itu seketika berhenti secara mendadak saat motor putih langsung berhenti tepat di depan motornya setelah berada di jalanan sepi.
__ADS_1
Samuel memperhatikan pemilik motor membuka helmnya tanpa turun dari motor. Laki-laki itu berdecih saat tahu siapa yang ada di hadapannya sekarang.
Tidak ingin lagi berurusan dengan Sagara dan merasa semuanya impas, Samuel hendak melajukan motornya, tapi urung mendengar ucapan pria itu.
"Bagimana rasanya kehilangan?" Sagara senyum sinis pada Samuel.
"Kenapa bertanya, bukannya lo udah rasain juga?" Samuel membalas ucapan Sagara.
Sudah tahu rasanya kehilangan seseorang itu sakit, masih saja ditanya. Sungguh suasana hati Samuel baru saja membaik dan dia tidak ingin merusaknya dengan berdebat.
"Takut lo?" tantang Sagara.
"Gue anggap semuanya impas. Gue buat adek lo pergi, dan lo buat tunangan gue pergi," cetus Samuel mengambil jalan tengah untuk berdamai.
Mementingkan ego, Samuel sudah kapok.
"Gampang banget lo ngomong gitu anj*ing!" maki Sagara tidak terima. Pria itu maju dan menarik kerah jaket yang Samuel kenakan.
"Impas pala lo hah? Ara bisa kembali suatu hari nanti tapi gimana sama adik gue,"El? Dia meninggal karena musuh lo!"
__ADS_1
"Maaf, seharusnya gue jangain dia seperti janji gue dulu saat memintanya dari lo."
"Maaf lo nggak guna sekarang!"
"Dan dendam lo juga nggak guna Saga! Lo kira dengan ngelakuin ini semua, Sasa bakal balik lagi hm?" Samuel balas menarik kerah baju Sagara.
Persitegangan terjadi di tengah-tengah jalanan yang sepi. Saling menghunus tatapan tajam satu sama lain seakan menyalurkan kebencian lewat teletapi.
"Gue berharap Ara benci sama lo!" Sagara mendorong tubuh Samuel agar menjauh darinya. "Dengan begitu dendam gue terbalaskan. Akan lebih menyakitkan melihat orang yang kita sayangi bernafas tapi engang melihat kita meski hanya sesaat." Sagara tertawa meremehkan pada Samuel.
"Dendam gue sampai di sini, gue harap setelah ini kita bertemu sebagai teman."
Usai mengatakan hal tersebut, Sagara akhirnya meninggalkan jalanan yang masih tampak sepi. Tujuan Sagara memang hanya untuk mengucapkan perpisahan pada Samuel.
Kalau saja dulu Ara ingin pergi dengan suka rela dari kehidupan Samuel, gadis itu tidak akan terluka. Sebab sejak awal tujuan Sagara hanya ingin menbuat Samuel merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang sangat kita cintai dan sayangi.
Terlebih orang itu adalah penyemangat kita agar tetap hidup.
Sagara mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja. "Gue udah balas dendam dek, gue harap lo nggak datang ke mimpi gue lagi dengan tangisan pilu," lirih Sagara.
__ADS_1
"Cantiknya Saga harus datang dengan senyuman," lanjut Sagara dengan dada yang terasa sesak.