Lost Love

Lost Love
Part 15 - Hanya sebatas status


__ADS_3

Ara menatap nanar bekal yang dia bawa yang sudah berserakan di atas tanah tanpa dia cicipi lebih dulu. Matanya mengerjap perlahan lalu memalingkan pada Samuel yang kini menatapnya tajam.


"Yah tumpah ... padahal Ara lapar," lirih Ara berjongkok itu mengambil kotak makannya yang ada di tanah.


"Lo lupa perjanjian kita?" tanya Samuel tanpa ada rasa bersalah padahal sudah menumpahkan bekal yang dibawa Ara.


"Ara nggak lupa, tapi Ara cuma mau makan siang bareng Abang. Apalagi bunda udah nyiapin," jawab Ara. "Tapi sekarang nggak jadi karena bekalnya tumpah, besok Ara bawa lagi." Gadis imut itu menyunggingkan senyum manisnya. Tidak ada rasa marah atau kecewa untuk Samuel.


Dia meraih tangan Samuel yang terkepal hebat. "Ara lapar ayo makan sama-sama Bang!" ajaknya namun tangan gadis itu keburu ditepis oleh Samuel.


"Makan sendiri nggak usah manja!" tegas Samuel kemudian berlalu pergi.


Mengingat mata bengkak Sasa tadi membuat Samuel sangat marah pada Ara, karena menganggap yang membuat Sasa menangis adalah tunangannya sendiri.


Samuel segera menuju kantin dimana para sahabatnya berkumpul dan saling bercanda satu sama lain. Dia duduk di samping Keenan dan meneguk air dingin yang ada diatas meja.


"Ara mana?" tanya Salsa membuka suara, namun Samuel sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari pacar ketuanya itu.

__ADS_1


"Nggak udah nanya hal yang nggak penting!" tegur Azka kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan dari sang kekasih.


Jika Samuel sedang menikmati makan siangnya bersama yang lain, tidak dengan Ara yang masih berdiam diri di belakang kelas XII IPS 1. Gadis imut itu menumpu dagunya seraya memeluk lututnya.


"Mau ke kantin nggak?" tawar Edgar ketua kelasnya.


Ara melirik Edgar sekilas lalu kembali menunduk. Laki-laki itu ikut duduk di samping Ara.


"Gue mau minta maaf sama yang tadi pagi," ucap Edgar menatap wajah cantik nan imut Ara terang-terangan.


"Minta maaf buat apa? Kamu kan nggak buat salah sama Ara," jawabnya.


Ara menganggukkan kepalanya. "Nama kamu Edgar milo ketua kelas Ara."


Edgar seketika tertawa mendengar namanya telah diubah oleh seorang gadis yang baru saja dia temui. "Karena lo cantik, gue nggak marah lo ubah nama gue seenak jidat."


Edgar bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Ara. "Ke kantin kuy buat makan siang." Ajaknya.

__ADS_1


Karena memang lapar, Ara terpaksa mengikuti langkah Edgar menuju kantin. Dia ikut duduk di samping laki-laki itu tanpa memperhatikan sekitar, hingga tidak menyadari tatapan mata tajam seseorang.


Gadis imut itu menunggu Edgar yang rela mengantri dengan yang lainnya hanya untuk mengambil makan untuknya. Senyuman Ara semakin melebar setelah laki-laki itu datang.


"Makasih Edgar, Ara udah lapar sejak tadi tapi nggak tau mau makan sama siapa," jujur Ara setelah Edgar kembali duduk di sampingnya.


"Sama-sama, nanti kalau lo butuh sesuatu lo tinggal panggil gue. Lo mau kan temanan sama gue? Gue nggak punya teman soalnya!" pinta Edgar dengan senyumnya.


Laki-laki itu tidak tahu apa hubungan Ara dengan inti Avegas, tapi melihat gadis itu bersedih membuat rasa iba Edgar muncul di permukaan. Untuk pertama kalinya dia berani mendekati seseorang yang bersangkutan dengan inti Avegas yang terkenal sangat menyeramkan di sekolah ini.


Dorongan itu berawal ketika melihat senyuman damai Ara. Senyuman yang mampu membuat dirinya merasa lebih baik dan mengurangi beban di hatinya.


Tanpa Ara sadari, Samuel sejak tadi mengepalkan tangannya sangat kuat. Laki-laki itu sangat benci jika sesuatu yang sudah menjadi miliknya di usik oleh orang lain, baik babu sekalipun.


"Tegang banget mukanya," sindir Rayhan.


"Tau, padahal cuaca adem-anyem perasaan," timpak Ricky.

__ADS_1


"Mungkin ada yang marah miliknya di deketin orang." Keenan ikut-ikut seraya menyantap basonya yang sisa setengah.


"Bukannya Ara buka milik El ya? Pertunangan itu cuma status?" sindir Rayhan.


__ADS_2