Lost Love

Lost Love
Part 73 ~ Jangan takut pada siapapun!


__ADS_3

"Mil ...." Kalimat Ara terhenti ketika teringat dengan tekadnya yang ingin menjauhi semua orang agar tidak tersakiti.


Gadis imut itu mengepalkan tangannya dan berjalan menuju perpustakaan tanpa menyapa Edgar yang berdiri di ambang pintu kelas.


Sepanjang koridor, gadis imut tersebut terus menundukkan kepalanya. Dia merasa sangat kesepian karena tidak ada teman sama sekali.


Siapa yang ingin berteman dengannya yang kekanak-kanakan juga menye-menye dan menyebalkan? Ara menyadari sifatnya, namun tidak ada yang bisa dia lakukan. Sejak dulu dia selalu ingin berubah tetapi sangat sulit.


Ara mendudukkan dirinya di salah satu kursi setelah menemukan buku yang mungkin bisa dia pelajari seraya menunggu bel pelajaran berbunyi.


Demi menghindari semua orang, Ara bahkan tidak ke kantin, karena tahu di sana ada Inti Avegas.


***


"Tumben ekor lo nggak nongol El," celetuk Rayhan ketika tidak mendapati Ara di kantin sekolah.


Samuel yang diajak bicara langsung saja mengedarkan pandangannya ke segala penjuru dan benar saja, Aranya tidak ada di manapun.


Dia segera beranjak tanpa menyentuh makanannya sedikipun. Mengidahkan pertanyaan Rayhan ketika dia meninggalkan kantin tanpa berpamitan lebih dulu.


Langkah Samuel terarah menuju lantai dua dimana kelas Ara berada.


"Ara mana?" tanya Samuel pada Edgar yang sedang melamun.


"Perpus," jawab Edgar.

__ADS_1


Tanpa berterimakasih lebih dulu, Samuel langsung saja menuju perpustakaan untuk memastikan tunangannya baik-baik saja. Dia mendudukkan diri di sudut ruangan untuk memperhatikan Ara yang duduk seorang diri.


"Kenapa gue nggak yakin Ara ngindar karena benci sama gue?" batin Samuel menyandarkan kepalanya pada tembok.


Dia meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja, lalu menghubungi Alana yang mungkin saja ada di kantin.


"Al," ucap Samuel setelah sambungan telpon terhubung.


"Tumben telpon gue, pasti ada perlunya," tebak Alana.


"Beliin Ara roti selai kacang dua, susu kotak rasa coklat 3. Bawa ke perpustakaan!"


"Kok nyuruh-nyuruh? Beli sendirilah, gue bukan babu ege."


"Ara belum makan Al, dia nggak mau makan kalau tau dari gue, puas!"


"Puas!"


Tut


Samuel kembali meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap Ara tanpa ingin mengalihkannya ke tempat lain.


Ingin rasanya Samuel menghampiri gadis imut tersebut sekarang juga dan meminta maaf atas apa yang selama ini dia lakukan. Sayang, egonya masih terlalu tinggi.


Senyum tipis Samuel perlihatkan ketika Alana datang membawa apa yang dia perintahkan tadi. Samuel langsung menunjuk Ara ketika Alana malah menatapnya, membuat gadis rambut indah tersebut segera menghampiri Ara dan meletakkan roti juga susu di atas meja.

__ADS_1


Ara mendongak. "Kak Alana?"


"Hm, bukan hantu." Cangir Alana. "Gue bawa roti buat lo, buruan makan atau gue ambil lagi!" ancam Alana.


Ara tersenyum manis. "Makasih kak Alana, kebetulan Ara lapar." Tanpa malu Ara mengambil roti tersebut dan memakannya tanpa bertanya apa tujuan Alana membawa itu padanya.


Gadis imut tersebut sedikit bersendawa ketika menghabiskan satu roti juga susu kotak ukuran 125 ml.


"Kenapa nggak ke kantin?" tanya Alana menumpu dagunya dengan tangan. Gadis yang membenci perpustakaan tersebut kini betah berlama-lama karena ingin mengorek informasi dari calon adik iparnya.


"Ara nggak mau ketemu Abang."


"Kok?"


"Kalau Ara dekat-dekat sama Abang. Abang bakal mati dan terluka, Ara nggak mau itu terjadi," jujur Ara.


Alana memutar bola matanya malas. "Siapa yang ngacem lo? Lo kira Abang anak kecil bisa dibunuh gitu aja? Hello Ara cantik, Abang gue tuh kuat banget, pak Alvi aja pernah cedera karena dia."


"Tapi Ara takut disamperin lagi sama orang itu," lirih Ara dengan mata berkaca-kaca, apalagi wajah menyeramkan Sagara kembali melintasi pikirannya.


"Siapa sih yang ngancem lo? Coba lo ngomong langsung sama Abang. Ngomong kalau lo nggak mau ketemu Abang karena diancam sama seseorang. Jangan dengerin siapapun Ara cantik nan gemesin ini." Sakin gemesnya, Alana menguyel-uyel pipi cubi Ara.


"Jangan takut sama siapapun dan ceritain semuanya sama Abang. Dia bakal lindungi lo, percaya sama gue."


Ara mengelengkan kepalanya, gadis imut itu tetap pada pendiriannya tidak ingin menceritakan pada Samuel apa lagi mendekati untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.

__ADS_1


__ADS_2