Lost Love

Lost Love
Part 109 ~ Panas dingin


__ADS_3

Setelah kepergian Kirana, Samuel kembali duduk di samping Ara. Melakukan hal-hal yang selama ini ingin dia lakukan tapi gengsi jika gadis itu bangun.


Bagaimana tidak, Ara sering kali protes dan bertanya banyak hal dan itu malah semakin membuat malu. Itulah mengapa dia jarang sekali memperlihatkan perhatiannya.


Tidak bisakah Ara diam saja dan menerima apa yang dia lakukan tanpa mengoceh? Ah Samuel lupa Ara bukan boneka tapi manusia yang kini namanya mulai menguasai kekosongan hatinya.


"Uugghhhh." Lenguhan panjang dari Ara membuat Samuel yang sejak tadi mencium punggung tangan gadis itu segera menjauh.


Satu detik ... dua detik ... hingga detik berikutnya gadis imut itu tidak bergerak lagi, padahal Samuel mengira Ara akan terbangun karena ulahnya.


Dengan senyum jenakanya, Samuel semakin merapatkan tubuhnya hingga bibirnya tepat berada di pipi Ara, hanya berjarak 1 cm saja.


Karena gemas, Samuel langsung saja mengigit pipi Ara yang terlihat mengembung. Hal itu berhasil membangungkan pemilik pipi.


Ara pelahan-lahan mengerjapkan matanya. Mengerutkan kening untuk melihat jelas siapa yang ada di hadapannya.


"Pergi! Jangan ganggu Ara!" pekik Ara dengan suara nyaring seraya memeluk tubuhnya yang langsung bergetar detik itu juga.


"Ara nggak mau hamil sama kak Saga!"


"Ra," panggil Samuel.


Laki-laki itu langsung menyalakan lampu dan menurunkan kupluk jaket yang dia kenakan.


"Ra ini gue," ulang Samuel berusaha menyentuh tubuh Ara yang masih bergetar.


Salahkan dirinya juga yang memakai kupluk di pencahayaan temarang padahal Ara masih dalam masa pemulihan.

__ADS_1


"Gue El." Samuel tersenyum tipis ketika Ara memberanikan untuk menatapnya. Hatinya kian menghangat melihat senyuman Ara terbit begitu saja.


"Ara kangen sama Abang," lirih Ara langsung memeluk tubuh Samuel cukup erat. Dia tadi sangat terkejut mengira yang datang menemuinya Sagara lagi. "Abang bohong sama Ara. Tadi katanya nggak mau ningalin Ara tapi pas Ara tidur abang pergi," lirih Ara mengerucutkan bibirnya masih memeluk Samuel.


"Gue ada urusan tadi."


"Abang nggak marah kan sama Ara karena kak Saga udah cium ...."


"Marah, nanti setelah lo sembuh gue bakal hilangin jejaknya," jawab Samuel dengan seringai liciknya dibalik tubuh Ara.


Laki-laki wajah dingin itu mendorong tubuh Ara pelahan. Tidak ada lagi perlakuan kasar yang Samuel berikan untuk saat ini karena takut Ara benar-benar akan meninggalkannya.


"Tidur gih!"


Ara mengeleng. "Ara udah nggak ngantuk. Tadi Ara mimpi ada yang gigit, jadi bangun."


Samuel memperhatikan Ara yang bergerak pelahan dan turun dari ranjang. Dia mengernyit bingung ketika Ara meraih tiang infus.


"Mau ngapain?"


"Ara mau pipis."


"Bilang kek," gumam Samuel.


Tanpa abah-abah Samuel langsung mengendong tubuh Ara. "Pegang tiangnya!" perintah Samuel.


Ara mengangguk patuh, memegang tiang, sementara tatapannya tertuju pada wajah tampan Samuel. Rasanya malam ini dia sangat bahagia karena bisa berduan sepuas mungkin dengan sang kekasih.

__ADS_1


"Ara pengen sakit terus," gumamnya. "Ara suka kalau Abang perhatian dan ngomongnya lembut. Ara suka Abang yang sekarang."


"Abang udah suka ya sama Ara makanya perhatian?" tanya Ara lagi setelah Samuel menurunkan tubuhnya di atas closet.


"Nggak."


"Masih kasihan sama Ara karena suka sama Abang?"


"Hm."


"Oh iya Ara lupa, Abang pernah bilang Ara harus pintar dulu biar bisa jadi pacar Abang. Tahun depan Ara pasti jadi pacar Abang liat aja." Cengir gadis imut itu tanpa merasakan sakit sama sekali padahal Samuel lagi-lagi menolak dirinya.


Bagi Ara, ditolak oleh Samuel sudah hal biasa untuknya. Yang menyakitkan jika melihat Samuel bersama perempuan lain. Lebih menyayangi gadis lain daripada dirinya.


"Abang mau liat Ara pipis? Ara lagi berdarah."


"Berdarah?" beo Samuel tidak mengerti.


Ara menganggukkan kepalanya cepat. "Ara datang bulan Abang, kata Bunda darahnya nggak boleh dilihat sama Abang."


"Siapa juga yang mau liat." Buru-buru Samuel keluar dari toilet untuk mendingingkan tubuhnya yang terasa panas dingin.


Ara yang cerewet dan terlalu jujur sering kali membuat Samuel kelabakan sendiri.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak dan ramaikan kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2