
Keenan menepuk pundak Samuel ketika melihat Ara turun dari taksi dan melintasi pagar sekolah.
"Tuh tunangan lo," tunjuk Keenan dengan bibirnya. "Buang jauh-jauh gengsi lo itu. Lebih mudah ngejaga dari dekat daripada jauh El. Lo mau kejadian semalam terulang lagi?" lanjut Keenan.
Samuel mengelengkan kepalanya. Mana mungkin laki-laki wajah dingin tersebut setuju jika Ara dilecehkan oleh Sagara lagi.
Memang setelah pulang dari rumah Ara, Samuel tidak ke mansion. Melainkan menginap di rumah Keenan agar maminya tidak khawatir. Itulah mengapa Keenan tahu kejadian semalam.
"Memangnya kalian bahas apa sih? Memangnya semalam ada apa? Itu juga kenapa lo bonyok-bonyok?" kepo Ricky ikut menimpali.
"Tau tuh, padahal semalam ketemunya sama Ara," timpal Rayhan.
"Mungkin dipukul pacarnya Ara ... Hahahahaha." Dito tertawa kencang karena membayangkan wajah Samuel dan Edgar yang bersitegang.
Plak
Dito mengusap kepalanya yang baru saja di geplak oleh Samuel.
"Kepo lo pada!" ucap laki-laki wajah dingin tersebut dan berlari menghampiri Ara yang sepertinya sengaja menghindar.
Berulang kali Samuel memanggil nama Ara, namun gadis imut itu malah semakin mempercepat langkahnya.
"Ra, kata mami, lo ...."
"Ara ada tugas Bang El, jadi harus pergi!"
Samuel mengambil nafas dalam-dalam memperhatikan tangannya yang baru saja ditepis oleh Ara. Mungkin perjuangannya akan sulit kali ini.
__ADS_1
Andai saja dulu dia tidak menyakiti Ara dan menerima gadis imut itu apa adanya. Memutuskan hubungan dengan Sasa yang baru terjalin beberapa hari. Mungkin sekarang dia dan Ara akan hidup bahagia tanpa masalah apapun.
"Bodoh," guman Samuel.
"Dah jangan diambil hati. Cowok nggak boleh baperan," ucap Azka menepuk pundak Samuel dan berlalu bersama inti Avegas lainnya.
"Dah sembuh lo?"
"Kabur," jawab Azka dan duduk setelah sampai di kelas. Ya laki-laki itu berada di kelas teman-temannya dan akan ke kelasnya sendiri setelah bel pelajaran berbunyi. Lagi pula akhir-akhir ini Salsa tengah menghindarinya.
"Gais kisah kalian berdua ngenes banget ya? Rio dan Edgar jadi kompor pula," celetuk Dito.
"Yoi, tapi dibanding Rio, lebih mending Edgar lah. Edgar mah nggak masuk geng-gengan. Ngak kayak Rio tuh wakil Wiltar vangke!" kesal Rayhan.
"Gibah terus, nampung dosa buat masuk neraka!" sindir Keenan.
"Sok suci lo!"
Ara duduk seorang diri di salah satu meja yang berada di kantin sekolah. Gadis imut itu merasa kesepian karena tidak ada Edgar yang menemaninya hari ini.
"Ara bakal kerumah sakit ketemu Milo. Pasti Milo sedih sekarang," gumam Ara.
Meski tidak tahu jalan menuju rumah sakit, Ara akan nekat pergi sendiri agar bisa menemui dan menghibur Edgar, karena laki-laki itu sudah baik padanya.
Gadis imut itu mendongak ketika seseorang duduk di hadapannya.
"Abang?" lirih Ara.
__ADS_1
"Hm."
"Kenapa Abang duduk sama Ara? Bukannya Abang benci sama Ara?" tanya gadis imut tersebut.
"Mau aja," acuh Samuel kembali menyantap baso hangat yang sudah dia racik di meja teman-temannya tadi.
Samuel sengaja pindah kesini untuk mendekatkan diri meski sangat kaku dan gengsi dalam dirinya.
Laki-laki wajah dingin tersebut melirik Ara sekilas ketika gadis imut tersebut mengangkat mangkuknya dan hendak pergi. Dengan segera Samuel manarik Ara agar tetap duduk didapannya.
"Duduk!"
"Tapi Ara udah janji bakal jauh-jauh dari Abang ...."
"Gue yang deketin!"
"Iya," lirih Ara kembali meletakkan mangkuknya. Sesekali menatap Samuel yang terlihat sangat sibuk menyantap baso hangat.
Mungkin itu yang dilihat Ara, padahal sejak tadi Samuel mencuri-curi pandang meski pura-pura sibuk.
"Lo jauhin gue karena nepatin janji?"
Ara menganggukkan kepalanya.
"Ya udah perjanjian batal!"
Ara mengerjap-erjapkan matanya menatap Samuel penuh tanda tanya. "Maksud Abang apa? Ara nggak ngerti. Perjanjian batal? Terus Ara harus gimana?" otak lemot Ara mulai bekerja dan itu tentu saja akan memancing emosi Samuel.
__ADS_1
Selain cuek, Samuel tidak suka banyak bicara juga mengulang kalimat yang sudah keluar dari mulutnya.
"Pakai cincin tunangan itu lagi! Tangan lo jelek tanpa cincin dijari manis!" ucap Samuel dan berlalu pergi.