
Ara terlihat sangat senang setelah sampai di pusat perbelanjaan. Terlebih ini pertama kalinya dia pergi bersama Samuel dan Mami Fany.
Biasanya gadis imut itu akan pergi berdua saja, karena Samuel sering kali menolak dengan alasan banyak urusan.
Langkah Ara terhenti ketika tangannya tiba-tiba di genggam oleh Samuel. Dia menoleh dan menatap tunangannya. "Kenapa Abang narik Ara?" tanya gadis imut tersebut.
"Takut ilang dan nyusahin," jawab Samuel berjalan perlahan agar Ara bisa mengimbangi langkahnya.
Sebenarnya bukan takut Ara menghilang dan menyusahkan dirinya. Hanya saja Samuel ingin mencoba lebih dekat dan menurunkan Egonya sedikit demi sedikit.
Apa yang dikatakan Keenan benar, sebelum Ara pergi terlalu jauh, Samuel tidak boleh melepaskannya begitu saja.
"Abang, Mami mana?" tanya Ara mengedarkan pandangannya ke seluruh area perbelanjaan tapi tidak menemukan wanita paruh baya tersebut.
"Nggak tau."
"Terus kita mau kemana?" tanya Ara lagi.
"Intinya jalan!"
Ara mengangguk mengerti dan mengikuti kemanapun langkah Samuel pergi. Meskipun masih ada rasa takut dihatinya akan didatangi oleh Sagara lagi, Ara juga tidak bisa menyingkirkan perasaannya yang lebih besar pada Samuel hingga memilih mempercayai laki-laki wajah dingin tersebut.
Terlebih malam itu Ara melihat Samuel menang melawang Sagara. Ara kembali menatap Samuel yang hanya berjalan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Ara belum makan donat dari Mami. Abang mau makan sama Ara?" tanyanya.
__ADS_1
"Basi."
"Belum kok kata bibi, Ara simpan di kulkas sebelum ke sekolah. Abang mau atau nggak? Kalau nggak, Ara mau panggil Milo karena Ara nggak bisa ...."
"Nanti setelah pulang," jawab Samuel cepat, berhasil menerbitkan senyuman Ara.
Gadis imut tersebut mengayung-ayungkan tangannya di genggaman Samuel. Sesekali bertanya jika melihat sesuatu yang menurutnya aneh.
Hal itu Samuel gunakan untuk melirik sesekali, apalagi dia memakai kacamata hitam jadi tidak terlalu kentara bahwa dia memperhatikan Ara.
Mungkin mulai mendekati, Samuel sudah ada kemajuan, tapi tidak dengan mengungkapkan isi hati. Terlebih sekarang sikap Ara tidak seperhatian dulu lagi.
Dimana selalu bertanya apa dia sudah makan, minum susu atau tidur siang. Kini sikap gadis imut tersebut semakin cuek setiap harinya.
"Lo mau ini?" tujuk Samuel pada boneka keropi sangat besar.
"Mau, tapi Ara nggak bawa uang. Ara lupa bawa tas tadi," jawab Ara di sertai anggukan kepala.
"Lo pinjam uang gue aja!"
"Makasih Abang, nanti Ara bayar setelah sampai di rumah," ucap Ara dan langsung memeluk boneka tersebut dengan gemas.
Samuel tersenyum tipis melihat tingkah mengemaskan Ara. Dia segera menuju kasir dan menyerahkan kartunya tanpa bertanya tentang harga lebih dulu. Lagipula, kata pinjam yang Samuel lontarkan hanya alasan agar bisa membelikan Ara tanpa kentara bahwa dia benar-benar ingin memberi perhatian pada tunangannya.
"Ara suka banget sama bonekanya Abang. Kata kakaknya tadi, Ara bisa isi dus karena dikempesin pakai plastik, tapi Ara pengen peluk jadi digiin aja," ucap Ara setelah keluar dari toko.
__ADS_1
Dia mengendong boneka yang bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri. Melihat hal tersebut, Samuel langsung merebutnya.
"Lelet banget sih jalannya!" ucap Samuel setelah boneka itu berada di tangannya.
"Iya nggak lagi, kan Abang udah bawain boneka Ara," cengirnya tanpa dosa.
Sesekali memperhatikan tangannya yang terus di genggaman oleh Samuel. Laki-laki wajah dingin itu baru melepaskannya ketika mendapat telpon.
"Halo?"
"...."
"Iya Mam, El kesana sekarang," ucap Samuel dan menutup sambungan telpon.
"Mami?" tanya Ara.
"Hm."
Samuel kembali mengenggam tangan Ara menuju restoran yang telah disebutkan maminya tadi. Dia sedikit mendapat omelan karena menghilang bersama Ara tanpa mengabari lebih dulu.
"Abang berhenti dulu. Ara mau beli bando itu," pinta Ara menunjuk sesuatu dalam etalase.
"Katanya lo nggak punya uang?"
"Kan bisa pakai uang Abang. Ayo beli itu dulu terus ketemu Mami. Nanti uang Abang diganti sama mami. Biar Ara ngutangnya di mami aja kalau Abang nggak suka."
__ADS_1