Lost Love

Lost Love
Part 19 - Nggak punya otak?


__ADS_3

Ara mengusap matanya kasar sebelum turun dari mobil orang tuanya. Dia menatap kedua orang yang dia cintai dengan seduh.


"Bunda sama Ayah hati-hati, kalau udah sampai kabarin Ara," lirihnya setelah turun dari mobil.


"Iya Sayang, yang rajin ya belajarnya." Sebelum menutup pintu, Kirana mengecup pipi putrinya sekilas.


Ara melambaikan tangannya sebagai pengantar pepergian orang tuanya. Dia masih saja berdiri di depan pagar sekolah, tanpa peduli tatapan siswa SMA Angkasa.


"Orang tua lo?"


Ara menganggukkan kepalanya tanpa menoleh karena mengetahui siapa pemilik suara tersebut.


"Masuk yuk, keburu bel nanti!" ajak Edgar, orang yang bertanya tadi.


Ara hanya melirik Edgar sekilas dan berjalan lebih dulu, meski begitu laki-laki tersebut tetap ngintil dibelakang Ara.


"Ara nggak boleh dekat-dekat sama laki-laki selain Abang, nanti bunda marah," jujur Ara ketika Edgar terus saja mengikutinya.


"Kan kita cuma teman Ra, yang salah kalau kita pacaran," celetuk Edgar tidak ingin meninggalkan Ara sama sekali di koridor sekolah.


Ara menghentikan langkahnya lalu mendongak untuk menatap Edgar. "Memangnya pacaran itu seperti apa?"


"Pacara, kita menjalin hubungan satu sama lain. Biasanya kalau orang pacaran sudah pasti saling suka, kalau jodoh bisa sampai nikah loh Ra," jelas Edgar tanpa menyadari tatapan Ara yang mulai sendu.

__ADS_1


Gadis itu kembali melangkah agar sampai dengan cepat ke kelasnya. Sepanjang jalan Ara hanya menundukkan kepalanya karena memikirkan sesuatu.


"Abang sama Sasa pacaran, mereka bakal nikah? Terus Ara gimana?" gumamnya sedikit takut akan ditinggalkan oleh Samuel.


Gadis itu duduk seorang diri di dalam kelas untuk menunggu bel pelajaran berbunyi.


***


Ara melangkahkan kaki kecilnya menyusuri koridor seorang diri. Dia sudah hafal sedikit-sedikit lokasi sekolah berkat Edgar kemarin yang setia menjelaskan apa-apa saja yang dia tanyakan.


Gadis imut itu tengah mencari keberadaan tunangannya untuk makan siang bersama. Senyuman Ara mengembang ketika melihat Samuel bersama teman-temannya ada di pinggir lapangan.


"Abang!" panggil Ara berlari kecil menghampiri Samuel. Karena tidak hati-hati dia sampai tersungkur di lantai marmer sebab menginjak tali sepatunya sendiri.


"El, lo nggak ada niatan bantuin Ara?" tanya Rayhan yang melihat Ara terjatuh. Bukan hanya Rayhan, tapi inti Avegas lainnya juga.


Inti Avegas menghela nafas panjang tapi tidak ada yang berdiri untuk menolong Ara. Rahyan juga tidak, sebab mendapat teguran dari ketuanya.


"Jangan ikut campur urusan pribadi Samuel, lo bisa kasihan sama Ara tapi nggak harus negur Samuel langsung atau akrab sama Ara. Yang ada dia semakin benci."


"Biarkan yang dalam bahaya Salsa saja karena terlanjur musuh tahu kita dekat dengannya, jangan nyeret Ara."


Itulah yang dikatakan Azka pada teman-temannya minus Samuel. Mereka tidak ingin Ara ikut-ikutan dalam bahaya. Salsa ada Azka yang selalu menjaga, lalu Ara? Samuel saja cuek, jadi siapa yang harus menjaganya?

__ADS_1


Kembali pada topik dimana tatapan inti Avegas tidak terlepas dari gadis imut tersebut, hingga sampai di pinggir lapangan.


"Abang udah makan siang? Ara bawain bekal buat Abang ...."


"Gue nggak butuh!"


"Tapi Ara yang masakin dibantu bunda .... Apa Abang nggak mau makan karena dibuatin sama Sasa?"


"Ara!" bentak Samuel dengan mata memerah.


Ara memundurkan langkahnya ketika Samuel berdiri. Laki-laki wajah dingin itu langsung saja mencekal tangan Ara kasar dan membawanya pergi dari teman-temannya.


Samuel mendorong Ara setelah sampai di belakang kelas yang sangat sunyi.


"Abang kok kasar sama ...."


"Lo nggak capek, hm? Sampai kapan lo mau bertahan bodoh!" maki Samuel berapi-api. "Lo punya otak nggak sih?"


"Punya," jawab Ara. "Kalau nggak punya Ara pasti ...."


Mata Ara terpejam ketika Samuel melayangkan kepalan tangan kearahnya.


Bugh!

__ADS_1


Gadis imut itu menelan salivanya kasar, perlahan-lahan membuka mata ketika tangan itu tidak mendarat diwajahnya melainkan tembok yang ada di sampingnya.


"Jangan buat gue jadi orang jahat karena orang bodoh kayak lo!"


__ADS_2