
Tulang-tulang Samuel terasa lunak ketika sampai di depan rumah gadis yang dia cintai. Rumah yang selalu terlihat sepi karena hanya tinggal berdua dengan abangnya kini telah ramai di kunjungi para tetangga maupun teman-teman Sagara dan Sasa sendiri.
"Nggak mungkin." Samuel tidak ingin mempercayai kabar yang baru saja diterimanya dari Rayhan.
Dengan dada bergemuruh hebat, dia melangkah memasuki rumah dan mendapati di tengah-tengah ruangan ada ranjang, dimana seorang gadis tengah berbaring di atasnya.
Brugh
Tubuh Samuel rubuh tepat di samping Sagara yang terus saja menangis tanpa malu di lihat oleh orang lain.
Hati kakak mana yang tidak sakit, pulang-pulang sudah menemukan adiknya tidak bernyawa lagi. Adik yang selama ini dia jaga dan satu-satunya harta berharga dalam hidupnya pergi tanpa berpamitan sama sekali.
"Caca, bangun dek lo nggak marahin Abang karena pulang larut hm?" tanya Sagara dengan suara serak.
Sementara Samuel yang berada di samping Sagara diam membisu. Penyesalan teramat sangat laki-laki wajah dingin itu rasakan.
Andai saja dia datang tepat waktu ketika Sasa menelponnya ini mungkin tidak akan terjadi. Sasa meninggal karena dirinya, jika Samuel bersedia datang dan mendengarkan segala curhatan Sasa, maka gadis cantik itu tidak akan nekat bunuh diri di dalam kamarnya sendiri.
Bahkan ketika para pelayat telah pulang kerumah masing-masing, Sagara dan Samuel masih berada di tempatnya dan menatap wajah pucat Sasa.
***
__ADS_1
Lingkaran mata telah menghitam, rambut acak-acakan tidak membuat ketampanan Samuel memudar. Laki-laki wajah dingin itu berdiri mematung tepat di samping makam Sasa.
Tanah yang masih basah membuat hati yang melihatnya terasa sakit. Gadis yang masih pergi ke sekolah dan tersenyum bahagia kini telah kembali pada pemiliknya.
Bugh
Tubuh Samuel terhuyung hingga hampir saja terjerambah ketanah. Laki-laki wajah dingin itu baru saja mendapat pukulan dari Sagara.
"Ini semua gara-gara Lo! Mana janji lo buat jaga adek gue hm? Lo ngomong apa sama Caca sampai dia bunuh diri sialan!" bentak Sagara dengan mata memerah.
"Gue juga nggak tau Saga, dia nelpon gue dan nyuruh datang tapi gue ...."
"Bacot lo!" sentak Sagara kembali melayangkan pukulan pada wajah Samuel.
"Karena lo sibuk sama tunangan sialan lo itu!" bentak Sagara. "Dari awal gue memang nggak percaya sama lo!"
"Ingat kata-kata gue sialan! Kerahkan semua pasukan lo itu sebelum gue bunuh satu persatu orang yang lo Sayang!"
Bugh
Sagara meninggalkan Samuel seorang diri setelah puas menyiksa pacar adiknya itu. Mungkin dulu dia hanya mengancam, tapi kali ini tidak lagi.
__ADS_1
Sagara bersumpah tidak akan membuat Samuel bahagia di sisa hidupnya. Dia akan membuat Samuel merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang paling di sayanginya.
***
Samuel merebahkan tubuhnya setelah sampai di rumah. Sejak semalam dia tidak tidur sama sekali hanya untuk menatap wajah pucat Sasa untuk terakhir kalinya.
"Sebenarnya apa yang ingin lo bicarain Ca? Masalah apa yang lo hadapi sampai milih jalan ini?" lirih Samuel.
Bukan hanya Sagara, tapi dia juga merasa sakit karena ditinggalkan oleh orang terkasihnya. Gadis yang selama ini dia jaga telah pergi dengan cara bunuh diri.
Tangan laki-laki wajah dingin tersebut terkepal hebat. Dalam pikirannya hanya ada satu orang yang menyebabkan Sasa bisa seperti ini. Dan pelakunya tentu saja Ara.
Samuel melirik pintu yang berdecit. Dia langsung saja memalingkan wajahnya ketika melihat teman-temannya datang.
"Gue nggak butuh kalian!" ucap Samuel mengusir halus.
Namun, ke lima laki-laki tampan itu tetap saja masuk. Keenan dan Azka tahu diri menjadi tamu, dia duduk di sofa seraya memperhatikan Samuel. Tapi tidak dengan ketiga orang lainnya. Dito, menyalakan layar Tv untuk bermain game. Sementara Rayhan dan Ricky keliling kamar mencari sesuatu yang menarik.
"Sasa bunuh diri karena hamil ...."
Bugh
__ADS_1
Samuel langsung melayangkan kepalan tangannya pada Rayhan. "Caca nggak sehina itu!"