
Deon mijit batang hidungnya yang terasa pegal karena sangat pusing memikirkan masalah putrinya.
Pria itu melirik laci dimana dia meletakkan flashdisk pemberian Sagara. Dia mengambil bendah kecil itu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Apa aku harus pecaya dengan informasi ini?" gumam Deon sedikit tidak yakin.
Bagaimanapun informasi itu berasal dari musuh Samuel, dimana tentu saja akan menjelek-jelekkan Samuel.
"Percaya atau tidaknya, aku harus melihat lebih dulu," guman Deon.
Pria itu mulai menyambungkan Flashdisk pada laptop dan membuka satu-satunya file yang terdapat di dalam sana.
Mata Deon membulat sempurna ketika mendapatkan banyak video di dalam sana. Satu persatu Deon menonton semua video hingga tidak terasa air mata membasahi pipi pria itu.
Dada Deon bergemuruh hebat, rahang beserta tangannya mengeras mendapati kenyataan yang ada.
"Kenapa bohong sama ayah Nak? Padahal ayah melakukan perjodohan ini karena kamu menyukainya," lirih Deon.
"Ayah kenapa nangis?" tanya Kirana. Wanita itu masuk ke ruangan Deon membawa kopi.
Deon mengelengkan kepalanya dan hendak menutup laptop, tapi sayang video itu terlanjur dilihat oleh Kirana.
"Apa ini Yah? Apa ini asli? Samuel sekejam itu pada putri kita?" Kaget Kirana melihat Video bagaimana Samuel membentak Ara di depan semua teman-temannya. Memaki dan menghina Ara.
Yang paling menyakitkan adalah, saat melihat Ara bersujud di depan Samuel.
__ADS_1
Kirana mengerakkan tangannya untuk melihat video lainnya.
"Rana sudah, melihatnya hanya akan membuat ...."
"Aku harus melihat semuanya!" sentak Kirana dan membuka video selanjutnya.
Video dimana Samuel menyiksa Ara di dermaga tengah malam, bahkan meninggalkan gadis imut itu sendirian.
Banyak sekali video bukti penyiksaan Samuel pada Ara. Membuang bekal dan melukai fisik Ara?
Kirana menepuk dadanya yang terasa sesak, andai Deon tidak cepat menahan tubuh wanita itu, Kirana mungkin sudah terjatuh.
"Ayah, anak kita ternyata menderita," lirih Kirana. "Seharusnya aku nggak percayakan Ara kita pada orang lain. Nggak ada yang benar-benar tulis pada Ara kita Yah. Samuel sama saja dengan orang lain diluar sana. Menyakiti dan melukai Ara karena kekurangannya." Tangisan Kirana pecah dalam pelukan Deon.
Hati ibu mana yang tidak sakit mengetahui anaknya telah disiksa oleh laki-laki yang berharap akan menjaga putrinya.
"Bagaimana bisa Yah? Ara kita terluka." Suara Kirana semakin serak karena menangis.
"Kita bawa Ara pergi," bisik Deon.
Pria itu memapah istrinya ke kamar untuk menenangkan. Hatinya juga hancur, hanya saja berusaha kuat demi Kirana. Putri yang begitu mereka sayangi ternyata disiksa.
Tangan Deon terkepal hebat. "Bahkan nyawa kamu saja nggak cukup buat aku, Samuel!" geram Deon penuh amarah.
Setelah menenangkan sang istri, Deon mengunjungi kamar putrinya. Hanya sampai di ambang pintu karena tidak kuasa bertatap mata dengan gadis yang tengah menonton Tv.
__ADS_1
Deon hendak menutup pintu kamar, tapi urung ketika mendengar deringan ponsel putrinya.
"Abang?" sapa Ara pada orang di seberang telpon.
Tanpa membuang waktu, Deon langsung masuk ke kamar Ara dan merebut ponsel di tangan gadis imut itu.
"Ay-ayah kenapa ngambil ponsel Ara?" tanya Ara langsung berdiri. Gadis itu berusaha merebut ponselnya kembali. "Ayah, itu abang lagi telpon, Ara harus ...."
Prank
Benda pipih nan mahal itu hancur hanya dengan sekali lemparan dari Deon, membuat pemilik ponsel tidak lagi bicara.
Ara mematung karena terkejut dengan respon yang diberikan ayahnya.
"A-ayah kenapa?" tanya Ara terbata karena tidak bisa mengatur nafasnya sendiri.
"Deon!" teriak Kirana. Wanita itu langsung memeluk tubuh Ara yang bergetar karena ketakutan.
"Ayah jahat sama Ara," lirih Ara.
"Nggak Sayang, ayah bukan marah sama Ara. Ayah lagi banyak pikiran," bisik Kirana berusaha menenangkan putrinya. Wanita itu mengode agar Deon segera keluar dari kamar.
Karena merasa bersalah telah lepas kendali dan membuat putrinya takut, Deon langsung meninggalkan kamar putrinya.
"Tidak ada gunanya marah sekarang. Aku harus mengurus sesuatu untuk membawa putriku pergi," gumam Deon.
__ADS_1
Pria itu segera menghubungi seseorang agar segera memproses pemindahannya ke luar negeri. Negara dimana Samuel dan keluarganya tidak bisa menemukan keberadaan Ara.