
Ada yang aneh Samuel rasakan saat mengantar gadis imut itu pulang kerumah. Ara sama sekali tidak menyapa Edgar dan hari ini sedikit kalem dari biasanya.
Bahkan Ara hanya melambaikan tangan untuk mengantar kepergiannya tadi.
"Napa lo?" tanya Azka. Kini Samuel sedang berada di markas untuk mempersikan diri mendapat amukan dari papinya setelah pulang nanti.
"Nggak ada," jawab Samuel merebahkan tubuhnya di sofa panjang seraya memejamkan mata.
Dia masih memikirkan sikap Ara yang tidak seperti biasa.
***
Samuel pulang ke mansion setelah jarum jam menunjukkan angka 7 malam, diamana orang tuanya tengah makan malam bersama. Diam-diam Dia tersenyum melihat seorang gadis duduk membelakangi pintu.
Dari cara duduknya saja Samuel tahu siapa gadis yang duduk bersama orang tuanya.
"Akhirnya datang juga kamu Bang, ayo makan malam dulu!" sambut Fany antusias.
Samuel menganggukkan kepalanya dan duduk di samping Ara meski sedikit aneh karena papinya tidak mengamuk sama sekali. Tidak ingin peduli, langsung saja dia menyambar ayam goreng yang berada di depan gadis imut itu.
Pergerakan Samuel terhenti ketika tangannya digenggam oleh Ara. Salah satu alisnya terangkat seakan bertanya kenapa.
"Itu punya Ara, papi yang ngasih tadi," ucapnya.
Samuel menghela nafas panjang, dia memutuskan mengambil yang lain karena sudah lapar.
__ADS_1
"Tumben nggak berantem," celetuk Fany.
"Ara malas berantem lagi Mami. Kata kak Ray Ara nggak boleh kayak anak kecil lagi. Ara udah besar."
"Gue suka," celetuk Samuel.
"Suka sama Ara?"
"Udang." Samuel menggangkat piring berisi udang dan menumpahkan semua ke piringnya.
Setelah makan malam bersama, Samuel langsung saja ke kamarnya karena dia tahu Ara akan menemuinya sebentar lagi. Laki-laki wajah dingin tersebut merebahkan tubuhnya diatas ranjang seraya menunggu sang tunangan menyusul.
***
Ara kini berada di dalam ruangan papi Daren bersama Fany. Karena memang kedatangan gadis imut itu ke mansion karena permintaan langsung dari Daren, bahkan pria tersebutlah yang menjemput Ara langsung dirumah.
"Sekolah nggak jadi skorsing Abang karena permintaan papi. Tapi Ara harus hukum Abang. Jangan ajak Abang bicara selama seminggu. Diemin aja!" perintah Daren. Lagi-lagi Ara hanya menganggukkan kepalanya.
"Ara juga marah sama Abang karena mukul Milo, padahal Milo nggak salah apa-apa Papi. Di sekolah cuma Milo teman Ara. Tapi sekarang Ara nggak mau temenan sama siapapun karena kata kak Ray, siapapun yang temenan sama Ara pasti disakiti sama Abang."
Fany tersenyum mendengar cerita calon menantunya. Wanita paruh baya itu mengelus rambut indah Ara.
"Ara bisa temenan sama siapa aja kok, asal nggak berlebihan. Maafin Abang juga yang temperamental, dia kayak Papi posesif kalau miliknya diganggu sama orang lain."
"Ara ngerti Mami." Gadis imut itu menganggukkan kepalanya antuasias, tidak lupa tersenyum pada kedua orang tua Samuel yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Setelah berbicara cukup lama, akhirnya Ara pamit pulang pada Daren juga Fany.
Tepat saat taksi yang di kendarai Ara melintasi pagar, Samuel keluar dari kamarnya karena Ara tidak kunjung menemuinya.
"Ara mana?"
"Udah pergi, kenapa memangnya?"
"Nggak ada," jawab Samuel dan kembali lagi ke kamarnya.
Laki-laki wajah dingin tersebut langsung mengirim pesan pada tunangannya.
Samuel mengeram kesal melihat balasan demi balasan yang diberikan oleh Ara. Tanpa pikir panjang, laki-laki wajah dingin tersebut langsung menelpon tunangannya dan sedang berada di panggilan lain.
***
Ara meletakkan ponselnya di atas nakas setelah bertelponan cukup lama dengan sang bunda. Senyuman Ara mengembang. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya memeluk Elara cukup erat.
"Elara, kata bunda Ara harus ubah cara bicara dan pikir Ara biar lebih dewasa. Ara harus belajar dari mana dulu? Ara udah bisa bepergian sendiri tanpa ditemani siapapun. Bukannya udah bagus ya?" tanya Ara pada bonekanya.
"Kata kak Ray, kalau Ara ngomong jangan panggil nama sendiri, tapi kok aneh ya Elara?"
Memang saat di sekolah, Rayhan dan Ara membicarakan banyak hal. Tentang bagaimana menyikapi sesuatu, cara berpikir seperti yang diajarkan bundanya. Juga sedikit lebih dewasa sesuai usianya sekarang.
__ADS_1
"Ara juga pengen kayak kak Alana dan kak Sasa, tapi kenapa susah banget?"