Lost Love

Lost Love
Part 18 - Berat untuk melepaskan


__ADS_3

"Kenapa Abang benci sama Ara? Kenapa Abang nggak pernah ngomong baik-baik kayak Abang ngomong sama Sasa?" tanya Ara mengikuti langkah Samuel memasuki kamar.


"Karena lo nggak penting!" jawab Samuel duduk di sofa memperhatikan buku-buku Ara yang berserakan.


"Ara tunangan Abang, berarti Ara penting. Memangnya kalau Ara mati atau hilang, Abang nggak bakal sedih?"


"Senang malah," sahut Samuel tanpa perasaan.


Ara terdiam, dia ikut duduk di samping Samuel yang kini tengah memangku gitar kesayangannya. Gadis imut itu terus saja menatap tunangannya penuh cinta dan senyuman, meskipun telah mendapat makian habis-habisan.


"Abang ayo belajar, biar Ara pintar dan jadi kesayangan Abang!" desak Ara.


"Ck." Samuel berdecak seraya melirik Ara tajam. Laki-laki wajah dingin tersebut menarik tas Ara kasar lalu memasukkan semua buku yang berserakan diatas meja.


"Pergi dari kamar gue!"


"Nggak mau, Ara mau belajar sama Abang. Lagian kalau Ara pulang yang anter juga Abang." Dia mengelengkan kepalanya dengan pipi mengembung, membuat Samuel semakin kesal dibuatnya.


Samuel menyukai ketenangan tapi keberadaan Ara selalu mengusik dirinya.


"Lo bisa nggak sih sehari aja nggak buat gue emosi!" bentak Samuel.


Ara terperanjat dan memeluk tasnya erat, metanya mengerjap-erjap perlahan. Menik indah itu mulai berkaca-kaca, tapi enggang mengeluarkan air mata.


"Abang bentak Ara, padahal Ara cuma mau belajar," lirih Ara.


Gadis imut itu berdiri dari duduknya. "Abang pasti cape, Ara bisa pulang sendiri. Besok jangan sarapan ya Bang, Ara bawa bekal banyak. Abang juga nggak perlu anter Ara ke sekolah, soalnya Ayah mau anter sekalian berangkat ke bandara," jelas Ara.


"Hm."


Ara menatap Samuel yang berjalan menuju ranjang tanpa menawarkan tumpangan untuknya pulang.


"Abang pasti lelah, jadi Ara nggak boleh maksa. Kata ayah Ara nggak boleh nyusahin Abang," gumam Ara melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Dia mengedarkan pandangannya kesegala sudut ruangan setelah sampai di lantai dasar. Ara tidak mendapati siapapun, lalu dia akan meminta tolong pada siapa?


"Ara mau pulang," ucap Ara pada pelayan yang kebetulan melintas. "Mami mana?" tanyanya.

__ADS_1


"Nyonya Fany baru saja pergi Nona, saya akan memberitahu sopir untuk mengantar Nona ...."


"Bareng saya saja!"


Ara langsung menoleh, senyumnya mengembang melihat Rayhan yang ternyata belum pulang.


"Kak Ray mau anter Ara pulang?"


"Tunangan lo mana? Mati?" tanya balik Rayhan menyugar rambutnya ke belakang. Laki-laki yang mempunyai pacar banyak itu baru saja meminta restu dari oma buyutnya agar cintanya tidak ditolak oleh seorang gadis.


"Abang El masih hidup," jawab Ara dengan polosnya dan mengikuti langkah Rayhan keluar dari mansion.


Dia menatap Rayhan ketika laki-laki itu menyodorlan permen padanya.


"Lo suka kan?"


"Hihihi ... Kak Ray tahu aja Ara suka permen, makasih kak." Dengan senang hati Ara mengambil permen tersebut.


"Do'a in gue diterima jadi pacar!"


"Kak Ray punya pacar?" Ara semakin menatap intens Rayhan yang berjalan di sampingnya, untung saja tidak ada sesuatu yang mungkin saja dia tabrak.


Langkah Rayhan sontak berhenti, rasanya laki-laki itu ingin memaki sepupunya habis-habisan. Jika tidak bisa mencintai Ara, setidaknya jangan buat Ara menjadi orang bodoh. Apa lagi terang-terangan mempunyai gadis, selain Ara.


"Ra lo nggak sakit hati apa? Hati lo ilang ya?" tanya Rayhan.


"Hati Ara ada, kalau nggak ada Ara udah mati dong. Hati Ara terbuat dari ...." Gadis imut itu mengetu-etuk dagunya berpikir sebenarnya Hati terbuat dari apa.


"Dahlah ayo, calon pacar gue udah nunggu." Rayhan langsung saja menarik tangan Ara agar cepat menuju pintu. Laki-laki itu tidak tahu bahwa selain dingin dan cuek, Samuel juga sering menyakiti fisik Ara. Entah apa yang terjadi jika inti Avegas mengetahuinya, karena selama ini mereka tidak suka jika seseorang menyakiti perempuan tidak bersalah.


Ara melambaikan tangannya seraya tersenyum setelah melihat kepergian Rayhan. Gadis imut itu baru saja sampai dirumahnya.


"Bunda, Ara pulang!" panggil Ara melempar tasnya asal dan menghambur kepelukan Kirana yang tengah berada di dapur.


"Anak Bunda udah pulang ternyata, gimana sekolah barunya seru?" tanya Kirana.


"Ara suka, apalagi udah punya teman."

__ADS_1


"Bagus dong, nama temannya siapa Nak?"


"Edgar Milo Bunda, dia tampan terus pintar, tapi nggak setampan Abang."


Kirana tertawa mendengar cerita putrinya, dia bebalik dan menyentil hidung Ara. "Jangan terlalu dekat sama laki-laki, nanti Abang kamu marah!" peringatan Kirana.


"Iya Bunda nggak kok."


"Kotak bekalnya mana?" Kirana menegadahkan tangannya, sementara yang dimintai menepuk keningnya cukup keras.


"Ara lupa kalau kotak bekalnya harus dibawa pulang, tadi habis makan Ara buang Bunda," ucap Ara berbohong, jelas saja kotak bekal tersebut dia tidak membawanya pulang karena pecah sebab ulah Samuel.


"Lain kali kotaknya dibalikin, sana ganti baju dulu terus ...."


"Ara udah makan sama Abang El, sekarang mau belajar dulu!" teriak Ara berlari ke kamarnya tanpa mengambil tas yang dia lempar tadi. Inilah salah satu yang tidak Samuel sukai. Ara dengan sikap ceroboh dan seenaknya.


***


Mata Ara berkaca-kaca dan siap menumpahkan bulir-bulir bening yang kini menggenang di pelupuk matanya. Gadis imut itu belum siap jika harus berpisah dengan orang tuanya.


Dari kecil hingga sebesar ini dia belum pernah berpisah sekalipun dari kedua orang tuanya dan sekarang harus merasakan.


"Ara kan udah besar sekarang jadi bisa mandiri dan tinggal sendiri. Lagian ada Abang yang nemenin Ara disini," ucap Kirana mengelus rambut kepang Ara yang di buatnya saat dirumah tadi.


"Abang nggak suka sama Ara," lirih Ara menundukkan kepalanya. Untung saja kedua orang tuanya tidak mendengar hal tersebut.


"Lagian Ara harus mandiri kalau mau nikah sama Abang," lanjut Kirana.


"Ara ikut," cicitnya.


"Ara mau ikut? Memangnya nggak papa pisah sama Abang?" sahut Deon yang duduk di jok depan.


Gelengan kepala Ara semakin keras. "Ara mau sama Abang tapi mau sama Ayah dan bunda juga."


"Anak Bunda manja banget, sini nak peluk dulu." Kirana merentangkan tangannya untuk memeluk Ara.


Bukan tanpa alasan Kirana dan Deon meninggalkan Ara sendirian. Mereka hanya berpikir dengan begini Ara bisa sedikit mandiri dan dewasa setelah terlalu dimanja.

__ADS_1


Karena menurut Kirana, perempuan yang baik dialah yang bisa menjaga dirinya sendiri. Dengan dia terus berada di samping Ara, maka gadis imut itu tidak akan pernah mandiri.


Kirana dan Deon juga berat untuk berpisah tapi mereka harus melakukannya. Lagi pula mereka tenang sekarang sebab Samuel dan Ara sudah bertuangan, ada yang akan menjaga Ara, terlebih Fany yang menyangi putrinya seperti anaknya sendiri.


__ADS_2