Lost Love

Lost Love
Part 31 ~ Challenges


__ADS_3

"Kenapa pindah?" tanya Ara seraya menghormati bendera merah putih.


"Biar lo nggak penasan," jawab Edgar mengulum senyum tanpa menyadari tatapan para inti Avegas yang beragam. Bahagia, meledek dan kepanasan.


Usai melaksanakan upacara bendera, Ara dan Edgar berjalan beriringan menuju kelas. Mereka tidak berdua saja, tapi banyak siswa yang lalu lalang hingga Ara tidak bisa melihat di mana keberadaan tunangannya.


Istirahat beberapa menit sebelum membuat otak bekerja dengan pelajara-pelajaran yang sama sekali tidak Ara sukai. Matematika dan fisika adalah musuhnya, apa lagi jika mendapat kuis dadakan seperti hari ini.


"Milo, Ara nggak ngerti," ucap Ara. Kebetulan bangku keduanya berdekatan. Edgar di depan dan Ara tepat di belakangnya.


"Jangan ada yang berdiskusi!" tegur pak Alvi mengingatkan membuat Ara ciut seketika.


Gadis itu mencoret-coret asal kertas yang dibagikan tadi. Sungguh dia tidak ingat satu rumuspun, padahal pelajaran ini baru di jelaskan pak Alvi satu minggu yang lalu.


"Jangan ada yang berkeliaran, saya ke ruang guru dulu!"


Ara menghela nafas lega mendengar hal tersebut, langsung saja dia menepuk pundak Edgar meminta bantuan.


"Milo, Ara nggak tau. Janji belajar lebih rajin lagi," ucap Ara tidak enak pada Milo.


"Nggak papa, buruan salin sebelum pak Alvi datang!" perintah Edgar dan di jawab anggukan oleh Ara.


Sangat diuntungkan, di dalam kelas XI Ipa 1 tidak ada yang kompor satu sama lain jika melihat teman-teman mereka menyontek. Berbeda dengan kelas Samuel dan Azka yang terdiri dari siswa-siswa pintar juga mengesalkan.


Dengan penuh senyuman, Ara berdiri dari duduknya dan menghampiri meja pak Alvi untuk mengumpulkan kertas jawaban yang telah terisi penuh dan tidak rapi.

__ADS_1


"Keluar!" perintah Alvi dingin setelah Ara meletakkan keras jawaban di atas meja. Gadis imut itu mengangguk lalu keluar dari kelas.


Baru saja akan menghampiri Edgar yang duduk di teras depan kelas bersama teman-teman yang lain, tangannya sudah ditarik oleh seseorang.


"Kak Alana, kak Sasa?" tanya Ara sedikit terkejut.


"Ayo makan bareng dikantin, nggak usah gabung sama cowok-cowok Avegas yang sok tampan," ucap Alana menarik tangan Ara menuruni satu persatu anak tangga.


Kedua gadis itu sengaja berkunjung ke lantai dua hanya untuk menemui Ara.


"Apasih, orang mereka memang tampan, terutama Azka," sela Salsa tidak terima.


"Iya deh si bucin," ledek Alana.


"Mending lo ninggalin Abang gue Ra, dia tuh nggak tampan sama sekali," saran Alana tanpa peduli Samuel akan marah atau tidak. Gadis itu tidak takut pada siapapun kecuali Allah dan Alvi.


"Nggak mau, Ara suka kak," jawab Ara dengan wajah polosnya.


Berbicara sepanjang jalan, membuat mereka tidak sadar sudah berada di kantin. Ternyata orang yang mereka bicarakan sejak tadi sudah ada di kantin.


"Sini woy!" panggil Rayhan di bangku paling ujung.


Alana mendelik, menarik Salsa dan Ara duduk di tengah-tengah kantin. Jaraknya dengan inti Avegas cukup jauh.


Tujuan Alana dan Salsa menemui Ara karena ingin meracuni pikiran gadis imut itu agar meninggalkan Samuel. Sebenarnya Alana dan Salsa di kirim oleh Azka karena kasihan melihat gadis itu.

__ADS_1


"Lo mau makan apa?" tanya Salsa ramah, jangan lupakan senyumnya.


"Ara ikut kakak aja," jawab Ara dan dijawab anggukan kepala oleh Salsa.


Gadis itu berdiri hendak mengatri di barisan lumayan panjang, tapi tanganya malah ditarik oleh sang pacar.


"Ka, apasih."


"Lo sakit nggak usah sok-sokan ngantri!"


"Tapi ...."


"Biar Rayhan aja," ucap Azka melempar pada Rayhan si playboy kelas kakap.


Karena tidak ingin bertengkar, Salsa kembali menghampiri Alana dan Ara yang tengah membahas hal serius.


"Lo beneran nggak ada niatan nyerah Ra?" tanya Alana dan dijawab anggukan oleh Ara.


"Gimana kalau kita ngasih challenges aja ke Ara dan El?" Salsa meminta persetujuan Alana.


"Ide bagus." Alana semakin merapatkan duduknya dan membisikkan sesuatu pada Ara.


"Satu bulan?" tanya Ara.


"Hm, lo minta sama Abang waktu sebulan, kalau dalam jangka waktu tersebut dia belum luluh, lo ninggalin dia. Nanti gue ajarin jadi gadis paling cantik kayak gue ini!" Alana menyibak rambut kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2