Lost Love

Lost Love
Part 37 ~ Jarak mulai terbentang


__ADS_3

Samuel merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan lengan sebagai tumpuan. Memikirkan kalimat demi kalimat yang Sasa ucapakan tadi membuat emosinya selalu saja tersulut.


Dia memejamkan mata sejenak untuk meredam emosi yang telah berada di ubun-ubun.


Maaf, aku bohongin Mas Pacar, tapi janji ini untuk terakhir kalinya. Aku nggak enak nolak ajakan mereka jadi bohong.


Itulah yang di kata Sasa saat di dermaga tadi, sebenarnya masih banyak lagi kalimat-kalimat menyebalkan lainnya namun Samuel tidak ingin mengingatnya lagi.


Dia melirik ponselnya di atas nakas ketika mendengar notifikasi pesan. Dia langsung saja mengambil benda pipih tersebut.



Setelah membalas pesan Sasa seadanya, Samuel kembali meletakkan ponselnya lalu memilih belajar saja.


***


Samuel duduk di atas motornya menunggu Ara keluar dari rumah. Hari ini dia menjemput tunangannya itu seperti janji yang telah di sepakati.


"Ara udah cantik?" tanya Ara memperlihatkan senyumnya.


Samuel mengernyit, berusaha mencari apa yang berbeda dari penampikan Ara saat ini. Tatapannya tertuju pada bibir imut Ara yang sedang mengerucut.


"Norak!" ejek Samuel ketika menyadari letak perubahan tersebut.


"Kirain Abang bakal suka. Kata kak Alana cowok sukanya sama yang pakai lipstik," lirih Ara.


Karena memang tidak terbiasa, Ara langsung saja menghapus lipstik di bibirnya. Namun, sangat susah karena dia memakai lipstik mate.

__ADS_1


"Sini!" perintah Samuel.


Dengan polosnya Ara mendekati Samuel dengan tas warna pink di punggungnya. Dia melirik tangan laki-laki wajah dingin itu yang mengambil botol air minum di saku tas yang dia kenakan.


Menumpahkan sedikit di tangannya sendiri lalu mengoleskan di bibir Ara. "Coba!"


Ara mengangguk dan kembali menghapus lipstik itu dengan tisu. "Yey berhasil, makasih Abang!" girang Ara.


"Makanya nggak usah aneh-aneh," gumam Samuel menunggu Ara naik ke motornya.


Merasa Ara duduk dengan aman, barulah Samuel malajukan motornya perlahan meninggalkan pekarangan rumah Ara.


Seperti biasa, tangan gadis imut itu melingkar di pinggang Samuel.


"Ara senang banget Abang nggak pernah marah-marah lagi sama Ara. Sering-sering gini ya Bang?" ujarnya sedikit kencang agar suaranya tidak ditelan angin.


"Cinta Abang ke Ara udah berapa persen?"


"Nol."


Ara memanyungkan bibirnya mendengar jawaban Samuel. Selama dua hari, tidak ada persen yang dia dapatkan. Apa dia akan berhasil sampai waktu yang ditentukan tiba?


Terjadi keheningan di atas motor hingga keduanya sampai di lingkungan sekolah SMA Angkasa. Kedatangan Samuel tentu saja disambut guyonan-guyonan para inti Avegas.


"Dedek cantik, semangat ngambil hati tunangan sendiri!" teriak Dito.


"Ara semangat," sahut Ara mengepalkan tangannya setelah turun dari motor.

__ADS_1


Dia melambaikan tangan pada teman-teman Samuel. "Ara ke kelas dulu, dadah!" teriaknya dan berlari seorang diri meninggalkan kawasan parkiran.


"Semakin dewasa dan luas dunia seseorang, maka semakin dia melupakan cinta monyet yang masih menghuni hatinya. Gimana kata-kata gue, bagus nggak?" tanya Rayhan pada temam-temannya. Kata-kata yang bermakna sindiran.


"Puitis!" sahut Samuel.


"Ayolah Abang El, jangan ngegas pagi-pagi. Ntar darting cepat tua, kasian Ara banyak yang nyejar." Tawa Rayhan membahana di ikuti oleh yang lainnya.


Keenam inti Avegas tersebut langsung saja meninggalkan parkiran ketika mendengar bel pelajaran berbunyi.


***


"Milo, temenin Ara ke perpus yuk! Ara mau belajar biar pintar dan mendapat nilai bagus. Ara pengen jadi dokter biar bisa nyembuhin orang sakit," ajak Ara.


Edgar tersenyum senang. "Kuy, kebetulan gue nggak ada kegiatan." Tanpa meminta izin, Edgar mengenggam tangan Ara dan berjalan di koridor sekolah.


Perlu kalian tahu, jalan menuju perpustakaan hanya satu jika dari kelas Ara. Perpustakaan ada di lantai dasar dan harus melewati kelas XII Ipa 1.


"Milo suka cewek kayak gimana?" tanya Ara di sela-sela berjalan tanpa menolak genggaman tangan Edgar.


"Kayak lo."


"Kayak Ara? Kenapa kayak Ara? Arakan cerewet, ceroboh, nyusahin dan manja kata Abang."


Edgar tertawa. "Justru karena itu gue suka sama cewek kayak lo. Dengan sikap lo ini gue merasa jadi orang berguna."


Ara ikut tertawa. "Berarti Ara kalau ninggalin Abang ada yang suka?"

__ADS_1


__ADS_2